Pergilah ke Baduy, dan Rasakan Pengalaman yang Berbeda

100_6263

Baduy, merupakan salah satu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda yang menetap di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasinya saat ini berkisar antara 5.000 – 8.000 orang. Suku Baduy merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Suku Baduy lebih suka menyebut dirinya sebagai Urang Kanekes, yang berarti orang Kanekes atau Urang Cibeo, sesuai dengan kampung di mana mereka menetap (https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes).

Secara geografis, wilayah Kanekes terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Pemukiman mereka terletak tepat di kaki pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten, sekitar 40 km dari Kota Rangkasbitung. Wilayah ini terletak sekitar 300-600 mdpl, memiliki topografi berbukit-bukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45°, yang merupakan tanah vulkanik (bagian utara), tanah endapan (bagian tengah) dan tanah campuran (bagian selatan), dengan suhu rata-rata sekitar 20°.

IMG_2594
Peta Kampung Cikesik Baduy Dalam

Terdapat 3 desa utama yang menjadi daerah populasi orang Kanekes, yaitu: Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo.

Saya merasa beruntung sudah pernah menginjakkan kaki di desa yang menurut saya sangat nyaman itu. Tapi, sebelum saya bercerita tentang perjalanan seru menuju Desa Cibeo, ga ada salahnya kalau kita sedikit belajar mengenai suku Baduy/Kanekes ini.

Secara physically, penampilan orang Kanekes tidak berbeda dengan orang Sunda. Yang menjadi perbedaan mendasar mereka adalah kepercayaan dan cara hidupnya. Orang Kanekes menutup diri terhadap pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka, sementara orang Sunda lebih terbuka terhadap dunia luar dan mayoritas merupakan umat muslim.

Secara umum, masyarakat Kanekes terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu: Tangtu, Panamping dan Dangka (https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes). Apa itu Tangtu? Panamping? Dangka?

Menurut informasi yang saya temukan di internet, kelompok Tangtu merupakan kelompok Kanekes Dalam (Baduy Dalam), merupakan kelompok yang paling ketat menjaga adat-istiadatnya, dan mereka menetap di 3 desa yang telah saya sebutkan di atas, Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Ciri khas mereka adalah pakaian yang mereka kenakan, bewarna putih alami dan biru tua (warna tarum) serta memakai ikat kepala putih. Mereka juga dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.

Selain itu, ada beberapa larangan yang harus dipatuhi oleh kelompok Tangtu, yaitu:

  1. Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi;
  2. Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki;
  3. Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu’un atau ketua adat);
  4. Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi);
  5. Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.

Kelompok kedua, yaitu Panamping, merupakan mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yaitu kelompok yang tinggal di berbagai kampung yang mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh dan lain-lain. Ciri khas mereka mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna biru gelap (warna tarum).

Panamping/Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang membuat mereka dikeluarkan dari kelompok Tangtu/Kanekes Dalam, misalnya:

  1. Melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam;
  2. Berkeinginan keluar dari Kanekes Dalam;
  3. Menikah dengan anggota Kanekes Luar.

Adapun ciri-ciri dari Panamping atau orang Kanekes Luar, adalah:

  1. Mengenal teknnologi, misalnya peralatan elektronik;
  2. Proses membangunan rumah penduduk Kanekes Luar menggunakan alat bantu, seperti gergaji, palu, paku dan lain sebagainya;
  3. Menggunakan pakaian adat berwarna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), atau pakaian modern lainnya;
  4. Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring dan gelas kaca;
  5. Tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam;
  6. Kepercayaan mereka telah berganti dengan memeluk agama tertentu, mayoritas menjadi muslim.

Sedangkan kelompok ketiga yang disebut Dangka, merupakan kelompok yang tinggal di luar kedua wilayah Kanekes tadi. Saat ini mereka menetap di 2 kampung yang ada, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam).

IMG_2592
let’s start the journey

 

IMG_2607
dengan modal Rp 5.000 perjalanan dimulai dengan kereta ekonomi ini

Saat saya mengunjungi Baduy/Kanekes beberapa waktu yang lalu, perjalanan saya dimulai dari Stasiun Tanah Abang, di hari Jumat sore. Sepulang dari kantor, dengan menggendong si merah, saya tiba di Stasiun Tanah Abang yang saat itu cukup ramai. Bermodalkan tiket seharga Rp 5.000, tepat pukul 17.30 wib kereta yang saya dan teman-teman tumpangi bergerak meninggalkan stasiun. Memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit, kereta yang kami tumpangi akhirnya tiba di Stasiun Rangkasbitung. Saat kami tiba di sana, hari sudah mulai gelap, dan di sepanjang pintu keluar dari stasiun ramai pengendara ojek dan kernet elf yang menawarkan tumpangan menuju desa-desa yang ada di sekitar Rangkasbitung.

Saya dan teman-teman yang telah tiba di stasiun kemudian menuju sebuah warung makan yang terletak tidak jauh dari stasiun untuk mengisi perut yang sudah keroncongan, sembari menunggu teman kami yang akan tiba dengan kereta selanjutnya (perjalanan kali ini, karena merupakan perjalanan dengan sharing cost, jadi kami hanya berjanji untuk bertemu di meeting point dan untuk yang telat harus menerima resiko ditinggal dan menyusul sendiri menggunakan kereta selanjutnya).

Setelah teman yang ditunggu tiba, kami masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 40 km lagi menuju Desa Ciboleger yang merupakan pintu gerbang untuk masuk ke Baduy Dalam. Perjalanan bisa ditempuh menggunakan elf yang banyak terdapat di sekitar stasiun/pasar di mana saya dan teman-teman berkumpul. Untuk tarifnya, tidak ada tarif yang pasti, semua harus dinegosiasikan dengan pengemudi elf. Waktu itu saya dikenakan tariff Rp 20.000/orang dengan alasan sudah malam dan penumpangnya hanya rombongan kami.

Menikmati perjalanan dari pasar menuju Desa Ciboleger di malam itu, dengan jalanan yang sedikit berliku, ditemani hembusan angin dan suara binatang malam serta teman-teman seperjalanan yang menyenangkan, membuat perjalanan hampir 2 jam itu tidak terasa. Dan menjelang tengah malam, kami pun tiba di Desa Ciboleger. Kami turun di tengah lapangan dengan monumen “Selamat Datang di Ciboleger” yang lengkap dengan patung keluarga petani.

IMG_2609
Selamat Datang di Ciboleger

Seorang pemandu dari Baduy Luar sudah menunggu kami dan siap mengantarkan kami ke rumahnya untuk bermalam (dan saya lupa siapa nama si akang itu, yang jelas keluarga akang sangat baik menyambut kedatangan kami). Malam itu kami menginap di rumah akang guide yang baik itu. Rumahnya tidak seberapa jauh dari lapangan, hanya perlu mencari gang kecil yang terletak di samping warung makan, berjalan sekitar 50 meter, tiba lah kami di sebuah rumah panggung kayu berdinding bilik.

Kami dipersilakan masuk oleh istri dan orang tua dari akang guide, dan di dalam telah tersedia minuman hangat. Malam itu, sebelum beristirahat, kami isi dengan saling bercerita dan berkenalan dengan keluarga si akang guide hingga kantuk datang.

Malam berganti subuh, suara ayam jago berkokok saling bersahutan membangunkan saya pagi itu. Sembari berjalan menuju sebuah mushola di dekat lapangan, saya dengan rakusnya berusaha menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, mengisi paru-paru, mencucinya dari udara penuh polusi yang saya hirup setiap hari. Dan ternyata, air di Desa Ciboleger itu sangat dingin. Sempat tercekat saat air dingin itu menerpa wajah. Tapi efeknya, mata langsung segar dan rasanya ingin langsung mandi :D

Dan pagi itu, setelah mandi, segarnya luar biasa!

100_6261
di sini lah kami mengsnap di Ciboleger

 

IMG_9895
pagi-pagi setelah sarapan, yang paling menyenangkan adalah ngobrol dengan para sahabat

Melihat geliat kehidupan di Desa Ciboleger di awal pagi hari itu, anak-anak berseragam Pramuka yang berlarian menuju sekolahnya, ibu-ibu menjunjung tampah besar berisi aneka sayuran, serta para bapak dengan cangkul di tangan. Setelah sarapan, kami pun memulai perjalanan menuju Baduy Dalam dipandu akang guide. Niat awalnya, kami tidak akan menggunakan porter untuk perjalanan sekitar 12 km ini. Carrier, perbekalan makanan dan lain-lain akan dibawa sendiri.

baduy 2
sebelum berangkat ke Baduy Dalam, senyumnya masih lebar :D

 

100_6260
mumpung masih ada sinyal :D

Perjalanan dimulai dengan menapaki jalanan tanah yang sedikit menanjak. 15 menit pertama, senyum masih tampak di wajah, walau keringat sebesar biji jagung mulai mengalir cantik di sisi wajah. Mungkin kami baru menempuh jarak 1 km ketika akhirnya memutuskan “kita pake porter aja ya….” :D

8
1 kilo pertama, dan kami………. cari porter ajaaaaa…… :p

 

100_6264
jalannya masih jauh……..

 

100_6269
menunggu akang-akang porter yang bantuin bawa carrier ke Baduy Dalam

 

IMG_9894
tuh, carrier kita disusun begitu dan kemudian dipikul sama akang porter

 

IMG_9885
ga kuat mikul carrier-nya :D

Untung akang guide baik hati dan langsung menelpon beberapa temannya. Sambil menunggu teman-teman akang guide, saya dan teman-teman memanfaatkan waktu untuk istirahat dan goler-goler di sebuah tanah datar, di sebuah kebun pisang.

Walaupun akhirnya carrier dan semua bawaan kami dibawa oleh porter, bukan berarti perjalanan menjadi mudah (untuk saya). Medan yang terdiri dari jalanan tanah, yang terkadang berbatu dan menanjak, membuat langkah kami tidak bisa menyaingi kecepatan langkah akang-akang porter dan tentu saja akang guide.

IMG_9884
ini udah tanpa carrier ya…. masih juga kepleset-pleset

 

564730_10151089210187336_1453513156_n
walau capek, tiap liat kamera, senyumnya lebar…….

 

556685_4261229336476_1791755630_n
mulai ketemu tanah lapang yang ga ada pohonnya

Saya yang hanya membawa kamera dan sebuah drybag berisi dompet, cemilan dan persediaan air minum, ternyata masih kalah cepat langkahnya dari akang porter yang memikul carrier kami. Dengan 2 carrier yang dipikul menggunakan bantuan sebuah kayu, akang porter bisa bergerak lincah dan cepat menapaki jalan tanah, dan tanpa alas kaki! Sementara saya, terkadang harus rela sedikit menggelinding karena terpeleset saat meniti jalanan tanah yang menanjak.

552000_3369012558071_1855521431_n
huft… huft… jalannya naik terus ya………

 

551887_10151089211787336_1652007402_n
muka merah, keringat ngucur, tiap liat kamera langsung pasang senyum lebar

Mulai dari kebun, hutan, tanah lapang yang gersang karena sedang menunggu untuk ditanami, perjalanan sekitar 12 km itu saya rasakan penuh warna. Merasakan panasnya matahari tepat di jam 12 siang, persis di tengah gundukan tanah lapang berbukit-bukit, dan tidak ada 1 pohon pun yang bisa dijadikan sebagai tempat berteduh. Bisa dibayangkan gimana rasanya? :D

100_6302
panasnya luar biasa…..

 

100_6303
akang guide aja kepanasan, apalagi kita :D

 

100_6301
gersang sebagian, hijau banyakan

 

100_6300
jalannya jauh…… turun naik…

100_6299 100_6297

 

100_6295
naik bukit, turun lembah, menyeberangi sungai, lewat hutan…

 

100_6294
rumah, lumbung padi, pepohonan, adem……..

 

100_6293
rumah-rumah di sana terbuat dari kayu, bambu, dengan dinding bilik dan atap rumbia

Untungnya teman-teman seperjalanan semua kompak dan helpful. Di saat ada teman yang kecapekan, semua setia menunggu, menemani, menyemangati dan terkadang ngejek juga. Perjalanan panjang kami akhirnya tiba di pintu masuk Baduy Dalam. Ketika sebuah jembatan bambu terlihat membelah sungai berair jernih. Dan setelah melewati jembatan itu, kami semua harus patuh dengan adat yang berlaku di sana, termasuk tidak menggunakan handphone, kamera dan teknologi lainnya. Memasuki lingkungan desa yang sepi, rumah-rumah kayu berdinding bilik, pohon bambu, jalanan tanah, unggas yang berlarian ke sana ke mari, anak-anak kecil dengan baju dan ikat kepala putih yang duduk di depan rumah, serta senyum ramah dari semua yang saya temui, membuat hati ini bahagia.

100_6304
siapa yang nolak pemandangan seperti ini di sepanjang perjalanan?

 

100_6311
dari sini, kedengaran suara gemericik air di sungai yang ada di bawah sana

 

100_6341
langit biru, pepohonan, suara burung, bikin betah

Kami diantar ke rumah Pu’un (dan lagi-lagi saya lupa namanya) untuk menginap di sana. Setelah berkenalan dengan seluruh keluarganya, Pu’un mengajak kami bercerita tentang adat yang berlaku di Baduy Dalam ini. Bagaimana orang Baduy Dalam hidup dengan berpedoman terhadap perilaku alam, petunjuk-petunjuk yang terdapat di langit, dan lain-lain. Saya takjub dengan perkiraan Pu’un terhadap waktu. Saat saya bertanya, saat itu sudah jam berapa, Pu’un hanya melihat ke arah matahari dan bayangan pepohonan di depan rumah, dan kemudian berkata “Sekarang sudah jam 4 sore”. Dan begitu saya melirik ke arah jam tangan yang saya kenakan, persis!

Ketika hari menjelang malam, pintu-pintu rumah pun mulai menutup. Cahaya matahari digantikan oleh cahaya bulan Purnama yang terlihat sangat terang. Bulatan kuning besar keemasan, seolah-olah berada persis di atas langit desa. Karena kami tidak boleh menggunakan teknologi (termasuk HP dan kamera), jadilah malam itu saya memuaskan mata dengan menikmati Purnama dari depan rumah bapak Pu’un.

Puas menikmati cahaya Purnama, saya beringsut masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, istri Pu’un sibuk di depan tungku dapur, menjerang air. Saya dan teman-teman yang telah mempersiapkan perbekalan dari Baduy Luar, kemudian mempersiapkan makan malam. Nasi putih ditemani mie rebus serta telur rebus, menjadi menu kami malam itu. Menikmati makan malam dan ngobrol santai dengan keluarga Pu’un, tak terasa malam semakin gelap.

Ketika semilir angin dingin mulai terasa dari sela-sela dinding yang terbuat dari bilik, Pu’un pun mempersilakan kami untuk beristirahat. Saya segera mengeluarkan sleeping bag dan mengambil tempat paling pinggir, kemudian menarik ritsleiting hingga ke leher, dan sebentar saja, semua menjadi gelap.

Saya terbangun ketika merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah sleeping bag. Insting parno membuat saya langsung bangun dan melihat kaki kak Getmi + Watik yang berusaha mencari kehangatan di bawah sleeping bag saya. Tawa saya pecah di dini hari itu ketika mereka ngedumel “Epoy, kakinya jangan kabur-kaburan kenapa sih? Ini dingin tauk….. mau anget-angetan di bawah sleeping bag doang, malah kakinya pindah-pindah mulu”. Ahahahahahahahaha……

Di Baduy Dalam, udaranya memang dingin setelah lewat tengah malam. Dan angin lumayan kencang bertiup. Karena saya sudah diberi informasi oleh teman untuk membawa sleeping bag, Alhamdulillah tidur saya nyenyak dan aman dari dinginnya udara. Tapi ternyata tidak semua teman-teman membawa sleeping bag. Dan akhirnya dini hari itu terjadi kegaduhan kecil di mana teman-teman mulai ndusel-ndusel untuk mencari kehangatan. Teman-teman yang cowok, karena hanya bermodalkan jaket dan sarung, akhirnya memilih meringkuk di depan tungku di dapur supaya hangat :D

Pagi itu di Baduy Dalam, menikmati udara yang sangat segar, rasanya paru-paru saya mendadak seperti habis dicuci. Rasanya lapang dan lega……………

Menikmati teh dan kopi panas, sambil berbincang-bincang dengan Pu’un dan teman-teman lainnya, membuat pagi itu berbeda. Karena kami tidak ingin kesiangan tiba di Ciboleger, akhirnya setelah menikmati sarapan, kami pun berpamitan kepada Pu’un dan keluarganya.

100_6329
mengintip dari balik pintu

 

100_6385
membelah kayu sebaga bahan dasar membangun rumah

 

100_6338
rumahnya memang sederhana, tapi kaya rasa

 

100_6335
bapak ini dari Baduy Luar, membawa atap rumbia untuk rumah yang sedang dibangun

 

100_6331
budhe There, Tekol, kapan kita jalan bareng lagi

Melangkah kan kaki menapaki jalanan desa, diselingi ucapan selamat pagi dan senyum sumringah dari semua yang saya temui, membuat leher ini selalu ingin menoleh ke belakang. Kesederhanaan, apa adanya, dan keramahan seluruh masyarakat Baduy Dalam menimbulkan kesan yang tidak bisa diungkapkan. Dan perjalanan pulang menjadi lebih menyenangkan karena saya ditemani oleh beberapa adik kecil dari Baduy Dalam.

100_6315 100_6314

 

100_6313
akang ini dengan santai mikul 2 carrier + masih nggendong 1 ransel

 

100_6308
senyum ramah itu yang bikin selalu kangen dengan Baduy Dalam

 

100_6309
yang nganterin kita pulang ke Ciboleger rameeeee…..

Perjalanan pulang menjadi lebih ringan karena saya dan teman-teman bisa berbincang dan becanda dengan adik-adik kecil itu di sepanjang perjalanan. Yang saya salut, dalam fisik mereka yang masih anak-anak, ternyata stamina mereka sangat bagus. Berjalan dengan medan yang lumayan bervariasi, tanpa menggunakan alas kaki, dan mereka masih bisa berlari sambil menggendong ransel-ransel kecil kami (malu). Dan sewaktu saya bertanya apakah tidak capek? Jawab mereka dengan mata berbinar “Sudah biasa”.

100_6285
di tengah ladang, selalu ada rumah untuk berteduh

 

100_6288
lingkungannya teduh, asri, adem…

 

IMG_9872
pake acara loncat-loncat di batu yang ada di sungai lho….

Sekali lagi kami menyeberangi jembatan bambu, dan perkampungan dengan rumah-rumah kayu berdinding bilik. Senyum ceria dari adik-adik kecil yang bermain di sekitar rumah, wanita Baduy yang sedang menenun di teras rumahnya, serta kaum lelaki Baduy yang melakukan pekerjaan rutinnya.

100_6381 100_6380

 

100_6375
mari kita pulang…….

Mendekati Desa Ciboleger, saya tidak bisa menahan keinginan untuk melihat yang berujung dengan membeli sebuah kain tenun khas Baduy berwarna merah, lengkap dengan selendangnya.

100_6376
sampe di Kampung Gajeboh

 

100_6349
iri, melihat adik kecil ini dengan lincahnya menenun di teras rumahnya

 

100_6365
nah, kain tenunnya dibuat dengan ATBM, jadi kalo beli, nawarnya jangan kelewatan ya…

 

IMG_2608
ini tenun Baduy yang menjadi pilihan saya

 

IMG_2605
mari dipilih….

Selesai sudah perjalanan saya di Baduy, perjalanan yang meninggalkan rasa bahagia dan keinginan untuk kembali ke sana. Tetaplah dalam kesederhanaanmu Baduy-ku, jagalah kemurnian yang ada di sana.

564340_3369064279364_605754895_n
terima kasih Baduy….. terima kasih Ciboleger…. terima kasih Indonesia….