Sempu, Surga yang Tersembunyi

396861_4332885725403_470012920_a

 

Menyambung cerita keliling Gunung Kelud beberapa waktu yang lalu, dan tengah malam ini pun kami tiba di Pantai Sendang Biru. Badan yang sudah terasa sangat penat bergoyang-goyang di dalam kendaraan sepanjang perjalanan Gunung Kelud – Sempu, membuat saya ingin segera meluruskan punggung.

Kami tiba di Pantai Sendang Biru yang berhadapan dengan Pulau Sempu di tengah malam menjelang subuh. Dan kami telah dinanti oleh 3 buah tenda yang terlihat sangat nyaman (yah, karena hari ini full keliling di dalam kendaraan, dari Stasiun Pasar Turi – Trowulan – Mojokerto – Gunung Kelud, dan sekarang Pantai Sendang Biru). Bersih-bersih dulu ah, abis itu langsung bobok :D

Ambil sleeping bag, terus pasang badan di pojokan tenda, dan saya pun segera terlelap.

 

ini tempat menginap kami semalam
ini tempat menginap kami semalam

 

dan ini, sodara ketenda saya semalam :)
dan ini, sodara satu tenda saya semalam :)

 

Hooooaaaaaaeeemmmmm…. Selamat pagi…… #nguletngulet

Segarnya badan setelah berhasil terlelap sekitar 4 jam. Dan aktivitas pagi ini diawali dengan antri di kamar mandi umum yang ada tidak jauh dari lokasi tenda kami. 1, 2, 3, 4, oke, saya antrian ke-5 di kamar mandi ke-2 dari pojok. Jebar…jebur….. 10 menit beres, terus beres-beres dikit di dalam mobil :D

 

suasana sarapan pagi yang hangat
suasana sarapan pagi yang hangat

 

gimana sarapannya? ikannya sedap yaaaa.....
gimana sarapannya? ikannya sedap yaaaa…..

 

Hari ini siap-siap trekking lagi ke Pulau Sempu.

Sedikit informasi, sebenarnya Pulau Sempu bukanlah sebuah lokasi wisata (ups). Sempu merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah Selatan Pulau Jawa, secara administratif berada di wilayah Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pulau Sempu hanya memiliki luas 877 hektar yang ditumbuhi dengan pohon-pohon tropis. Pulau ini merupakan cagar alam yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur dan Departemen Kehutanan Indonesia. Pulau ini diakui sebagai sebuah cagar alam sejak tahun 1928 pada masa pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie No : 69 dan No.46 tanggal 15 Maret 1928 tentang Aanwijzing van het natourmonument Poelau Sempoe dengan luas 877 ha.

Selain keputusan pemerintahan pada zaman kolonial, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999 tertanggal 15 Juni 1999 juga menegaskan Pulau Sempu sebagai Cagar Alam.

“Cagar Alam adalah suatu kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Sebagai bagian dari kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam), maka kegiatan wisata atau kegiatan lain yang bersifat komersial, tidak boleh dilakukan di dalam area cagar alam. Untuk memasuki cagar alam diperlukan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).” — Wikipedia Indonesia tentang Cagar Alam. Jadi, untuk memasuki Pulau Sempu, dibutuhkan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang harus diurus lewat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Timur di Surabaya. #semogawaktusayakeSempumemangadaSIMAKSInya

 

Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia
Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air dari Samudera Hindia

 

Pulau ini berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikelilingi oleh Samudera HIndia di sisi Timur, Barat dan Selatan. Sebagai sebuah cagar alam, sebenarnya Pulau Sempu tertutup untuk umum. Wisatawan dilarang untuk datang dan berkunjung ke Pulau Sempu. Dan saat saya ke sana, saya terus terang tidak mengetahui status Pulau Sempu yang merupakan sebuah cagar alam #toyormyself

Karena kami diinfokan bahwa medan menuju Segara Anakan cukup licin dan basah, kami disarankan untuk menggunakan sandal trekking ataupun sepatu karet yang solnya seperti sepatu bola. Di sekitar Sendang Biru banyak warung-warung yang menyediakan sepatu karet tersebut, dan bisa disewa. Beberapa orang teman yang kebetulan tidak membawa sandal trekking akhirnya memutuskan untuk menyewa sepatu karet supaya nyaman selama perjalanan menuju Segara Anakan.

 

ini sepatuku, mana sepatumu?
ini sepatuku, mana sepatumu? Uwek, Afong, budhe Theresia, dan Sheril saling pamer sepatu

 

Dari Pantai Sendang Biru, saya dan teman-teman menaiki 2 buah perahu kayu untuk bisa mencapai Pulau Sempu. Beruntung Selat Sempu pagi itu sangat bersahabat, nyaris tidak ada gelombang. Dan tanpa berlama-lama, saya dan teman-teman pun tiba di Pulau Sempu.

 

ayo, buruan naik ke perahu
ayo, buruan naik ke perahu

 

perjalan ke Sempu yang penuh ketawa-ketawa
perjalan ke Sempu yang penuh ketawa-ketawa

 

Turun dari perahu kayu, kaki saya langsung menyentuh pasir bercampur lumpur di salah 1 sudut Pulau Sempu. Di depan saya terlihat berbagai jenis pepohonan tropis yang tidak terlalu rapat, sehingga kami masih bisa melihat sebuah jalan setapak kecil mengarah ke tengah pulau.

 

ini nih "dermaga" sebelum memasuki "hutan" Sempu tapi ini foto kami setelah menjelajahi Sempu, narsis sembari menunggu perahu menjemput
ini nih “dermaga” sebelum memasuki “hutan” Sempu
tapi ini foto kami setelah menjelajahi Sempu, narsis sembari menunggu perahu menjemput

 

Dipandu mas Dani, yang merupakan seorang trip organizer dari Kota Malang, perlahan kami pun memasuki Pulau Sempu. Memasuki hutan (yah, saya lebih suka menyebutnya hutan karena pepohonan yang ada di sana sangat banyak dan beraneka macam + ukuran), kami disuguhi tanah becek yang licin karena sedikit gerimis. Saya berjalan mengikuti rombongan dengan sangat hati-hati kalau tidak ingin jatuh terjerembab di tanah licin yang kadang memberikan bonus sebuah kubangan kecil.

 

biarpun harus gedebag gedebug jatuh bangun, eksis tetep harus dong yaaa....
biarpun harus gedebag gedebug jatuh bangun, eksis tetep harus dong yaaa….

 

medannya ajip yaaaa....... semangat!!!
medannya ajip yaaaa……. semangat!!!

 

hihihihi.... pegangan biar ga ngglinding :p
hihihihi…. pegangan biar ga ngglinding :p

 

Selama perjalanan, hidung saya disuguhi wangi tanah basah lengkap dengan harum dedaunan. Membuat saya dengan rakus berusaha memenuhi paru-paru ini dengan kesegarannya. Kaki melangkah perlahan menyesuaikan dengan medan yang terpampang luas di depan mata. Ups, badan saya sedikit berayun ketika tiba-tiba kaki saya terpeleset dan berakhir dengan kaki kanan yang mendarat manis pada sebuah kubangan kecil, yang untungnya (masih untung) hanya berair sedikit. Tangan pun harus sigap mencari sesuatu yang bisa dipegang/digayuti sepanjang jalan agar tidak gedebug jatuh :D

 

mau ada pohon besar melintang di depan, hajaaaarrrrr....
mau ada pohon besar melintang di depan, hajaaaarrrrr….

 

Perjalanan menuju Segara Anakan yang ada di Pulau Sempu ini membutuhkan waktu sekitar 1.5 hingga 2 jam, tergantung kecepatan jalan masing-masing. Dan sepertinya kami membutuhkan waktu yang lebih panjang karena terlalu sering berhenti…….. Kecapekan? Oh NO!!! Kami berhenti untuk…….. foto-foto :D

 

yeeeaaaahhhhhh..... we are here!!!
yeeeaaaahhhhhh….. we are here!!!

 

Dan finally, di depan saya melihat sebuah telaga bening yang dikelilingi tebing batu, yang berbatasan dengan samudera luas. Yah, Segara Anakan!

Kalau saja ga ingat dengan posisi kami yang masih di atas tebing, dan perlu beberapa langkah lagi untuk turun menuju hamparan pasir putih dan telaga itu, ingin rasanya saya lari dan segera menceburkan diri ke dalam telaga. Setelah sedikit bersusah-susah menuruni tebing, dibonusin kepeleset dan sedikit baret-baret di ke-2 tangan, akhirnya saya tiba di hamparan pasir putih itu. Pasirnya haluuuuuuuuusssssssss……. Dan yang bikin ga bisa menahan diri itu adalah godaan air jernih di Segara Anakan. Tanpa berpikir lama, saya segera meletakkan tas, kamera dan seluruh barang bawaan di pasir dan kemudian menghambur nyebur ke telaga, segeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrr…………

 

copot sandal, teruuuuuusssss..... nyebuuuuurrr.....
copot sandal, teruuuuuusssss….. nyebuuuuurrr…..

 

baru di pinggir segaranya aja udah kayak gini ekspresi kita ya mbak Kim....
baru di pinggir segaranya aja udah kayak gini ekspresi kita ya mbak Kim….

 

wkwkwkwkwkwkwk....... lupa umur kalo udah main air :D
wkwkwkwkwkwkwk……. lupa umur kalo udah main air :D

 

Tanpa perlu dikomando, teman-teman yang lain pun langsung berebutan terjun ke dalam telaga. Air di Segara Anakan jernih, sehingga saya bisa melihat dasar berpasirnya. Melupakan umur, kami pun bermain bagaikan anak kecil yang dilepas bermain di tengah hujan. Seruuuuuuu…..

 

lupa umur :D
lupa umur :D

 

liat deh kelakuannya :D
liat deh kelakuannya :D

 

Main air rame-rame, saling siram dan simbur, walhasil basah kuyup dan akhirnya berendam lah kami sebatas leher di Segara Anakan.

 

horeeeeee.......
horeeeeee…….

 

Saya sangat menyukai suasana di sekitar Segara Anakan. Pasir putih yang halus, kecipak air di dalam telaga dan suara hempasan ombak di tebing batu yang memisahkan Segara Anakan dengan Samudera Hindia. Sesekali air laut masuk ke dalam segara melalui sebuah celah di tebing batu karang yang menghadap ke samudera.

 

kelakuan :p :p
kelakuan :p :p

 

yeeeeaaaahhhhh!!!
yeeeeaaaahhhhh!!!

 

yang ga mau ikut basah-basahan, duduk anteng di pasir
yang ga mau ikut basah-basahan, duduk anteng di pasir

 

Beberapa teman memutuskan untuk menaiki tebing batu karang untuk melihat Segara Anakan dari atas. Saya? Ga mau kalah, saya ikutan juga walau ga sampai di puncak karena males, soalnya tangan dan kaki sudah lumayan penuh baret-baret akibat tergores karang.

 

naik ke tebing hanya untuk foto-foto :p
naik ke tebing hanya untuk foto-foto :p

 

Yeeeeaaaayyyy.... I'm here!!!
Yeeeeaaaayyyy…. I’m here!!!

 

Dilihat dari atas tebing batu, Segara Anakan bagaikan kolam yang luas di tengah-tengah hutan yang hijau (semoga Sempu selalu terjaga).

 

Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia
Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia

 

Yes, saya ada di Sempu
Yes, saya ada di Sempu

 

Puas foto-foto di atas tebing, kami pun turun dan bersiap-siap untuk kembali ke Sendang Biru. Belum apa-apa sudah terbayang medan yang pastinya tambah licin karena selama perjalanan kami menuju Segara Anakan, gerimis turun dengan setianya.

Mari kita semangat, menjelajah hutan lagi menuju perahu…. Tapi, sebelum pulang kami masing-masing mengeluarkan kantong plastik untuk memunguti sampah yang ada. Ini bukan pencitraan, tapi emang beneran, saya dan teman-teman agak miris dengan kondisi di sekitar Segara Anakan yang mulai dipenuhi dengan sampah. Dan tanpa janjian, ternyata kami masing-masing sudah menyiapkan plastik sebagai wadah sampah.

Jadilah di siang menjelang sore itu kami menutup acara senang-senang kami di Sempu dan Segara Anakan dengan memunguti sampah yang kami temui. Lumayan banyak sampah yang berhasil kami kumpulkan, adalah sekitar 5 kantong plastik besar. Sedih liatnya :(

 

lututnya lemes... pp Sendang Biru - Segara Anakan :D
lututnya lemes… pp Sendang Biru – Segara Anakan :D

 

Sepanjang perjalanan pulang pun, kami masih memunguti sampah yang kami temui. Yah, mungkin ini tidak seberapa dengan banyaknya sampah yang ada, tapi kami hanya ingin sedikit berbuat yang lebih baik. Dan perjalanan pulang menjadi semakin panjang waktunya, karena selain memungut sampah, kami juga tetap eksis, narsis, foto-foto :D

 

hai Pantai Sendang Biru.... kami kembali....
hai Pantai Sendang Biru…. kami kembali….

 

Tiba di Pantai Sendang Biru, kami disambut pemandangan bocah-bocah kecil yang sedang bermain bola, ah…… menyenangkan…..

 

begitu sampai di Sendang Biru, liatnya ini...... ikutaaaaaannnnn.... #laringejarbola
begitu sampai di Sendang Biru, liatnya ini…… ikutaaaaaannnnn…. #laringejarbola

 

 

Note: makasih untuk Rika, mas Sigit, budhe Kim, plus teman-teman yang udah share foto selama di sana. Fotonya pinjem yaaaaa…..

Olahraga di Gunung Kelud

483238_10150968279913149_1206238888_a

 

Setelah beberapa waktu yang lalu saya sempat posting cerita mengenai Trowulan dan Mojokerto, kali ini saya ingin sharing cerita mengenai Gunung Kelud. Masih dalam rangkaian marathon trip keliling Trowulan – Mojokerto – Bromo – Sempu – Madakaripura, sore itu perjalanan kami lanjutkan menuju Gunung Kelud. Gunung ini merupaka gunung berapi aktif yang berada di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, dengan jarak kira-kira sekitar 27 km sebelah timur dari pusat Kota Kediri.

 

 

tukang fotonya gitu amat ya gayanya? :p (ini foto di jalan menuju terowongan yang menghubungkan area parkir dengan lokasi Gunung Kelud)
tukang fotonya gitu amat ya gayanya? :p
(ini foto di jalan menuju terowongan yang menghubungkan area parkir dengan lokasi Gunung Kelud)

 

Saat kami tiba di sekitar lokasi Gunung Kelud, hari sudah menjelang sore. Parkiran kendaraan sudah mulai sepi, hanya tertinggal 2 mobil berukuran sedang. Oh iya, jalanan menuju Gunung Kelud cenderung menanjak. Jalanan beraspal mulus yang bisa dilalui 2 kendaraan roda 4 berpapasan itu dikelilingi tanaman perdu di kiri dan kanannya. Kira-kira di setengah perjalanan, akan ada 1 area yang sedikit menyimpan “misteri”. Kenapa dibilang menyimpan “misteri”, karena di area tersebut, kendaraan bisa berjalan tanpa harus kita menekan gas. Bisa dibayangkan, dengan kondisi jalan yang menanjak, kendaraan dalam posisi normal, bisa berjalan sendiri tanpa perlu menekan gas.

Saya mendapat cerita itu dari driver mobil yang saya tumpangi. Begitu mendekati area tersebut, driver kami langsung memberitahu. Dan di sebelah kiri jalan saya membaca sebuah papan pemberitahuan berwarna merah cerah yang bertuliskan “Jalan Misteri”.

 

Papan penunjuk "Jalan Misteri" di arah jalan masuk menuju lokasi wisata Gunung Kelud
Papan penunjuk “Jalan Misteri” di arah jalan masuk menuju lokasi wisata Gunung Kelud

 

Dan benar saja, begitu melihat papan pemberitahuan tersebut, driver pun segera mematikan mesin mobil. Sungguh ajaib, walaupun mesin mobil dalam keadaan mati, namun mobil kami bergerak mengikuti jalanan yang menanjak. Kondisi ini terus berlangsung selama kurang lebih 5 menit sampai kami melihat lagi papan merah bertuliskan “Jalan Misteri” di sisi yang berbeda.

Wah…. pengalaman pertama saya mengalami hal ini. Tapi ternyata, di mobil yang saya tumpangi ini tidak semua teman ngeh dengan kejadian tadi. Kami ber-11 di dalam mobil, yang ngeh mungkin hanya saya + 2 orang teman saya yang duduk di depan. Ah, ruginya teman-teman yang tidak menyadari fenomena tadi.

 

Sebelum mulai trekking ke Gardu Pandang nih.... mukanya masih senyum-senyum, liat aja nanti :p
Sebelum mulai trekking ke Gardu Pandang…. mukanya masih senyum-senyum, liat aja nanti :p

 

Dari parkiran kendaraan, kami harus melewati sebuah terowongan untuk tiba di area Gunung Kelud. Sore itu, terowongannya sepi…….. hanya ada kami dan sekeluarga pengunjung yang melintasinya. Kondisi terowongan yang temaram karena kurangnya sarana penerangan, bikin suasana sedikit spooky (dikit aja sih, beneran deh. Yang banyakan justru riuhnya kami :D).

 

Hayo, mau pilih yang mana?
Hayo, mau pilih yang mana?

 

itu terowongan yang harus dilewati untuk mencapai Gunung Kelud
itu terowongan yang harus dilewati untuk mencapai Gunung Kelud

 

ayo kita ke Gardu Pandang......
ayo kita ke Gardu Pandang……

 

nah, ini lagi di dalam terowongannya.... gelap....
nah, ini lagi di dalam terowongannya…. gelap….

 

Sampai di ujung terowongan, udara terasa segar. Gunung Kelud tampak di kejauhan seperti tumpukan batu yang menggunung tinggi. Kami berjalan menuju Gardu Pandang yang terletak di atas bukit. Untuk mencapainya, kami harus melewati berpuluh-puluh anak tangga yang lumayan curam (kalau tidak salah 600 anak tangga), yang tentunya sukses membuat saya dan teman-teman ngos-ngosan untuk mencapai puncaknya. Di kiri dan kanan tangga beton tersebut tumbuh ilalang-ilalang liar.

 

ini tangga yang harus dilewati untuk mencapai Gardu Pandang (ga banyak kok, cuma 600 anak tangga ajah :D)
ini tangga yang harus dilewati untuk mencapai Gardu Pandang
(ga banyak kok, cuma 600 anak tangga ajah :D)

 

Gimana kak Geget? budhe Kim? finish strong ya....
Gimana kak Geget? budhe Kim? finish strong ya….

 

Menaiki anak tangga yang segitu banyak, saya tidak berani forsir. Naik pelan-pelan, kalau capek ya saya berhenti dulu, foto-foto deh :D

 

kalo capek naik tangganya, ya kita foto-foto dulu yaaaa....
kalo capek naik tangganya, ya kita foto-foto dulu lah…. :D

 

And here we are! Gardu Pandang Gunung Kelud
And here we are!
Gardu Pandang Gunung Kelud

 

mumpung udah di Gardu Pandang, dan mumpung hari masih terang, narsis-narsis dulu kita...
mumpung udah di Gardu Pandang, dan mumpung hari masih terang, narsis-narsis dulu kita…

 

Setelah menaiki ratusan anak tangga itu, akhirnya sampai lah saya dan teman-teman di Gardu Pandang yang menjadi pusat pengamatan Gunung Kelud dan anak Gunung Kelud. Kami tiba di Gardu Pandang bertepatan dengan sunset yang mulai menguning di ujung Barat. Angin yang bertiup perlahan membuat ingin berlama-lama menikmati bola emas raksasa yang semakin lama semakin menghilang di ujung cakrawala.

 

 

yeay! step on Puncak Gardu Pandang Kelud
yeay! step on Puncak Gardu Pandang Kelud

 

 

Yes! Sampe juga di Gardu Pandang
Yes! Sampe juga di Gardu Pandang

 

Itu kepundan Gunung Kelud yang terus-menerus mengeluarkan asap belerang
Itu kepundan Gunung Kelud yang terus-menerus mengeluarkan asap belerang

 

sunset dari puncak Gardu Pandang
sunset dari puncak Gardu Pandang

 

Namun karena hari semakin gelap, akhirnya kami pun bergegas untuk turun (dan lagi-lagi harus menyiapkan betis dan dengkul untuk berjuang menuruni 600 anak tangga). Ternyata, turun lebih serem daripada waktu naik tadi. Dari atas, tangganya terlihat sangat curam, jadi harus ekstra hati-hati. Harus pegangan kanan kiri, plus menjaga keseimbangan badan dan pijakan kaki.

 

pemandangan jalur anak tangga dari puncak Gardu Pandang
pemandangan jalur anak tangga dari puncak Gardu Pandang

 

Sampai di bawah, kami kemudian berjalan menuju terowongan untuk kembali ke parkiran. Keluar dari parkiran, hari sudah semakin gelap walaupun belum malam. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk sekalian mencoba sumber air panas yang ada di sebelah kiri jalan. Tapi, lagi-lagi kami harus menjumpai ratusan anak tangga (kali ini jumlah anak tangganya justru lebih banyak dari jumlah anak tangga menuju Gardu Pandang) #eluseluslutut

 

lumayan, bisa ngerendem kaki
lumayan, bisa ngerendem kaki

 

Sampai di bawah (akhirnya…….) saya pun segera membuka sepatu dan mencoba merendam kaki yang sudah sangat lelah ini ke dalam kolam air panas alami. Enaaaaaaaaaaaaakkkkk….. Kakinya seperti dipijit-pijit.

Merendam kaki sampai betis, merasakan sensasi pijitannya ternyata sedikit menghilangkan rasa penat di kaki yang sudah digunakan berkeliling seharian ini. Kalau saja tidak memikirkan hari yang semakin gelap, mungkin berendamnya bakal sampai leher deh :D

Nah, waktu mau naik dan liat anak tangga yang jumlahnya bejibun itu, lutut saya lemes lagi :D hihihihihihi…. Kebayang capeknya…

Huft, perjuangan banget ini mau naik dan jalan ke parkiran. Rasanya kakinya jadi beraaaaaaaaattttt…… banget! Saya sampai harus memaksa kaki dan badan dengan cara menarik badan sambil berpegangan pada besi yang menjadi pembatas anak tangga. Memaksa kaki untuk terus menapaki anak tangga satu demi satu. Hiks….. capeknyaaaaa………

Dan akhirnya…. Setelah memaksa kaki dan badan hampir 1 jam, saya pun akhirnya sampai di parkiran, dan…… diketawain dong dengan teman-teman yang lain. Ya gimana ga diketawain, kami tiba di parkiran dengan baju basah oleh keringat dan wajah mengkilat + merah :D huft….

 

Sampe di parkiran, haduuuuuuuhhhhh..... betisnya mau copot....
Sampe di parkiran, haduuuuuuuhhhhh….. betisnya mau copot….

 

Setelah sejenak mengeringkan keringat, kami pun kembali menaiki kendaraan dan melanjutkan perjalanan menuju Sendang Biru, sebelum menyeberang ke Pulau Sempu keesokan harinya. Dan karena kelelahan, saya pun memutuskan untuk istirahat dan tidur sepanjang perjalanan menuju Pantai Sendang Biru. Bye bye semua….. istirahat dulu ya… besok kita sambung lagi ceritanya di Sendang Biru…………. zzzzzzzzzzzzz

 

 

Derawan #4, Bye bye Derawan….. Let’s Go Home….

Derawan 145

 

Derawan – Tarakan – Balikpapan – Jakarta

Selasa, 2 Juni 2015

 

Ini hari terakhir saya di Derawan. Hiks, masih ga rela meninggalkan semuanya…. Laut jernih, langit biru, Penyu Hijau, ikan-ikan lucu, gemericik riak gelombang, homestay yang hommy banget, dan semua suasana yang sangat menyenangkan ini.

But, holiday is over.

Saya dan teman-teman harus pulang ke Jakarta. Dan bertekad, “Kita harus liburan lagi secepatnya!” :D

 

i will miss my (hommy) homestay
i will miss my (hommy) homestay

 

akan merindukan suasana di depan kamar seperti ini
akan merindukan suasana di depan kamar seperti ini

 

Seperti biasa, pagi ini kami sarapan bersama, di tempat yang sama juga.

Selesai sarapan, sambil menunggu speed boat siap mengantarkan kami ke Pelabuhan Tengkayu di Tarakan, saya memeriksa lagi seluruh bawaan. Ransel udah siap, kamera juga udah rapi di tas, gear snorkeling already packed di tasnya.

 

kapan lagi bisa liat air jernih seperti ini???
kapan lagi bisa liat air jernih seperti ini???

 

Sekitar jam 9 pagi kami mulai menaiki boat, dan secara perlahan boat mulai bergerak menjauhi dermaga kayu coklat yang selama 4 hari ini begitu akrab dengan kami. Semakin lama boat semakin kencang, melaju di atas permukaan laut yang jernih. Bye bye Derawan….. thank you so much for this unforgettable moment, lovable holiday. See you next time, I wish. Bismillah……..

 

see u again Derawan.....
see u again Derawan…..

 

Membayangkan 3 jam terombang-ambing di atas boat berkecepatan tinggi, saya memilih untuk memejamkan mata. Semilir angin yang bertiup, ditambah wangi aroma laut, membawa rasa tenang. Dan sukses lah saya merem selama perjalanan (kayaknya di sepanjang perjalanan, saya selalu tidur ya? :D)

 

Perjalanan kami menuju Pelabuhan Tengkayu bisa dibilang sangat lancer, kalau saja mesin boat tidak tiba-tiba mati di saat posisi kami sedang di tengah laut. Waduuuuuhhhh….. Ada apa ini?

Sebenarnya, Pelabuhan Tengkayu sudah keliatan di ujung sana, tapi kenapa tiba-tiba boat ini mati ya?

Ternyata…… boat kehabisan bahan bakar. Itu saya dengar dari (omelan) kapten kapal. Dan kemudian, kami mendengar mas Alif menelepon ke kantornya dan minta dikirimkan bahan bakar tambahan.

 

Kami menunggu.

5 menit, 10 menit, 15 menit, kenapa tidak ada kapal yang mendatangi kami?

Akhirnya, saya mencoba untuk mengirimkan sebuah pesan singkat ke Derawan Tours

“Siang pak Jeme. Speed boat yang saya tumpangi dari Derawan ke Tarakan mogok di laut. Katanya kehabisan bahan bakar. Sudah 30 menit kami terombang-ambing di laut. Bagaimana ini?”

 

Berselang 4 menit kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke HP saya “Selamat siang mbak, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami sudah mengirim speed dari Tarakan 30 menit yang lalu. Mohon bersabar ya mbak”.

 

Sekitar 10 menit kemudian, di kejauhan terlihat sebuah speed boat mendekat. Dan ternyata itulah boat yang membawakan tambahan bahan bakar untuk boat kami. Alhamdulillah.

Setelah bahan bakar diisi, mesin boat pun berhasil dinyalakan! Alhamdulillah, kami bisa kembali berlayar menujuu Tarakan. Terima kasih Derawan Tours…. Terima kasih bapak di speed boat yang bawain bahan bakar…

 

Suasana di Pelabuhan Tengkayu
Suasana di Pelabuhan Tengkayu

 

Sampai di Pelabuhan Tengkayu, wuuiiihhhh…… rame!!!

Oh iya, tadi itu speed boat kami mogok kehabisan bahan bakarnya di depan Pulau Kaciak (itu dikasi tau sama kapten kapalnya). Jaraknya sekitar ½ jam dari Pelabuhan Tengkayu, Tarakan.

 

Siang itu, Pelabuhan Tengkayu sangat ramai, padat!

Setelah unloading barang bawaan dari boat, kami kemudian menunggu mobil yang akan menjemput dan mengantarkan kami ke bandara.

Karena flight saya dan teman-teman sekitar jam 5 sore, kami skip acara untuk city tour di Tarakan, dan memilih untuk lebih cepat sampai ke bandara.

 

Begitu mobil jemputan kami datang, saya dan teman-teman langsung naik dan segera meluncur ke tengah kota Tarakan.

Sebelum ke bandara, kami singgah sebentar untuk makan siang. Tujuannya? Ya ke Warung Teras lah….

 

Karena siang itu Warung Teras sangat ramai, kami pun memilih menu yang tidak terlalu rumit dan gampang disajikan.

Hmm….. makan siangnya nikmat…….

 

menu makan siang hari ini
menu makan siang hari ini

 

Selesai makan siang, kami pun pamitan dengan teman-teman yang lain, karena kami tidak ikut untuk city tour.

Diantar oleh mas Alif dan driver, pak Rudi, kami pun meluncur menuju Bandara Juwata. Check in, dan akhirnya menunggu keberangkatan si Singa Merah menuju Jakarta.

 

Bye bye Derawan..... Hello Jakarta....
Bye bye Derawan….. Hello Jakarta….

 

be nice ya..... jangan pake acara delay
be nice ya….. jangan pake acara delay

 

Note.

Perjalanan pulang ke Jakarta ini ternyata transit di Balikpapan sekitar 30 menit. Dan diwarnai insiden  dengan adanya sekelompok orang (sepertinya dari China atau Taiwan) yang duduk di deretan emergency exit, but they can’t speak in English…. so… mereka ga ngerti itu panduan kalau ada kondisi emergency. Akhirnya mbak-mbak pramugari yang sibuk mencoba menjelaskan kepada mereka dan meminta beberapa penumpang untuk pindah dan bertukar seat dengan mereka.

 

Bye bye Derawan, bye bye Tarakan…… thank  you so much ya…… it was so fun…….

 

 

Derawan #3, Panas-panasan di Pulau Gusung

Derawan 092

 

Derawan – Pulau Gusung – Derawan

Senin, 1 Juni 2015

 

Ini adalah hari ke-3 saya di Pulau Derawan. Setelah kemarin full hoping island, hari ini acaranya agak sedikit nyantai.

Selama di Derawan, telinga sayamulai akrab dengan suara kecipak riak gelombang kecil di kolong homestay. Dan mata ini menjadi sangat akrab dengan pemandangan Penyu Hijau yang berenang di sekeliling homestay, ikan aneka warna dan jenis, juga jernihnya laut hijau toska yang terbentang luas.

Dan pagi ini, liburan saya akan diisi dengan mengunjungi Pulau Gusung yang ada tepat di depan Pulau Derawan.

Seperti biasa, setelah beberes, kemudian sarapan, kami pun kembali menaiki speed boat yang selama 3 hari ini setia nganterin ke spot-spot terbaik di sekitar Pulau Derawan.

 

hamparan pasir putih dan birunya langit akan jadi pemandangan yang kontras selama di Pulau Gusung
hamparan pasir putih dan birunya langit akan jadi pemandangan yang kontras selama di Pulau Gusung

 

Pulau Gusung ini adalah hamparan pasir putih yang hanya akan timbul/kelihatan pada saat air laut dalam keadaan surut. Apabila air laut pasang, daratan pasir ini akan tenggelam. Pulau Gusung ini adalah pulau pasir yang tidak berpenghuni, tidak ada tumbuhan/pohon, sehingga…. siap-siap aja warna kulitnya akan naik beberapa tone setelah singgah di pulau ini :D

Pasir putih yang terhampar, akan berdampingan dengan birunya langit dan jernihnya air laut. Yang pastinya akan bikin kamu-kamu betah banget deh main di sana.

 

Hai Ngers, kami udah sampe di sini lho....
Hai Ngers, kami udah sampe di sini lho….

 

Mau berendam di air laut yang agak hangat karena matahari bersinar terik? Bisa!

Mau foto-foto? Wah, bisa banget!

Mau tiduran ala-ala bule, jangan ditanya deh….. wong pasirnya luas begitu. Mau guling-gulingan juga bisa kok :D

Nah, 1 lagi, di Pulau Gusung ini, kita juga bisa ketemu “Patrick” temannya “Spongebob” :D

 

"Patrick" yang saya temukan di Pulau Gusung
“Patrick” yang saya temukan di Pulau Gusung

 

masih edisi "Patrick"
masih edisi “Patrick”

 

Bintang laut besar dengan warnanya yang orange, dihiasi tentakel hitam yang menyerupai kerucut tajam, tapi sebenarnya tentakelnya ga tajam kok, banyak banget di pulau pasir ini. Kemarin saya berhasil nemuin 2 bintang laut gede, yang kemudian jadi obyek foto teman-teman. Mungkin kalau mau jalan lagi keliling pulau, bakal nemuin lebih banyak bintang laut di sana.

Di Pulau Gusung, saya menikmati berendam di air laut yang hangat karena sinar matahari. Air lautnya jernih, sementara pasir putihnya halus banget. Suka deh duduk-duduk sambil berendam di sana. Beberapa ikan kecil juga terlihat berenang bebas di sela-sela batu karang kecil-kecil yang banyak di pinggiran pulau.

Pemandangan di Pulau Gusung sangat kontras. Pasir putih, langit biru, udara cerah dan laut jernih. Perfecto!!!

 

pasir putihnya halus banget
pasir putihnya halus banget

 

Puas main panas-panasan, tidur-tiduran dan foto-foto di Pulau Gusung, saya dan teman-teman naik lagi ke kapal untuk melanjutkan acara siang hari itu.

Abis panas-panasan, mari kita main air lagi. Kita liat ikan-ikan cantik yang ada di sekitar Pulau Derawan. Tiba di spot snorkeling di sisi lain Pulau Derawan, ga pake nunggu lama, semua langsung nyebur! Segaaaaaaaarrrrr…..

Di spot snorkeling kali ini saya ketemu “Nemo”, Lionfish, macem-macem deh, ga tau namanya. Ikannya lucu-lucu, dan warna-warni. Hanya saja, arus laut siang itu cukup deras, dan untuk saya yang kemampuan berenangnya seiprit ini, rada jiper juga. Rasanya udah kecipak-kecipak seru, kok posisinya ga maju-maju karena ngelawan arus. Yang ada malah hanyut ke belakang…. help……………. Akhirnya teriak ke mas Alif, minta tarikin ke dermaga… hihihihihihihi…….

Cukup deh berenangnya…. Capek bangeeeeeeeettttt….. plus lapeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrr……

 

Naik ke dermaga, saya mulai kemas-kemas tas dan bawaan yang ada di kapal. Terus……. Kasak-kusuk sama Iyus, Windy dan Gita “Kita cari Indomie rebus yuk!” Deal! #toss

Jadilah kami ber-4 kabur, menyusuri jembatan kayu yang panjang ini untuk mencari…… Indomie rebus!

 

jembatan kayu seperti ini akan banyak ditemui di Pulau Derawan
jembatan kayu seperti ini akan banyak ditemui di Pulau Derawan

 

nih, kalau mau cari homestay di Pulau Derawan, infonya lengkap!
nih, kalau mau cari homestay di Pulau Derawan, infonya lengkap!

 

ini spot-spot menarik yang bisa dikunjungi di sekitar Derawan
ini spot-spot menarik yang bisa dikunjungi di sekitar Derawan

 

Matahari siang itu kenceng banget sinarnya, ajib bener lah rasanya di kulit.

Berjalan, menyusuri jembatan kayu, pasir putih, homestay-homestay yang dipenuhi pelancong, dan kami pun tiba di depan Rumah Makan Nur, tempat makan favorit selama di Derawan. Seperti biasa, pesan 4 es Kelapa muda, dan kali ini ditambah 4 mangkok Indomie rebus + telor :D

Selagi kami menunggu pesanan Indomie rebus, ternyata teman-teman 1 rombongan mulai berdatangan, dan ternyata lagi, jam makan siang sudah tiba…… horeeeeeee…..

Jadi lah siang itu menu kami nambah, semangkok Indomie rebus + telor, nasi, ikan goreng tepung, sayur bening + ga lupa saya pesan 1 porsi cumi goreng tepung :D

Hohohohohohoho…… liburan 4 hari di sini, sepertinya lingkar pinggang akan bertambah beberapa cm deh :D

Makan siang hari ini nikmat bangeeeeeeeeeeeettttt…… makanannya semua enaaaaaaaakkkkkk…… #lapiler

Selesai makan, kami kembali ke homestay untuk mandi (lagi). Badan rasanya pliket, lengket-lengket abis berendam air laut. Pakaian yang tadinya basah, sekarang udah kering dan melekat di badan. Komplit, rasanya kayak ikan asin sedang dijemur :D

Berhubung setelah ini acaranya adalah acara bebas, abis mandi saya masih bisa leyeh-leyeh di kasur sambil merem, dan akhirnya sukses ketiduran :D

Sempat merem sekitar 1 jam, bangun, dan kemudian grubak-grubuk ngajakin Windy dan Iyus untuk hunting foto sambil keliling pulau. Weeewww…. Ternyata kami semua ketiduran…. Hihihihihi…

Oke, cuci muka, ambil kamera, mari kita keliling……..

 

keliling pulau sore itu, saya menemukan banyak suvenir dari kerang laut
keliling pulau sore itu, saya menemukan banyak suvenir dari kerang laut

 

bagus-bagus ya....
bagus-bagus ya….

 

Menikmati sore, kami memutuskan untuk menuju dermaga di sisi kanan Pulau Derawan, tempat kami tadi siang ber-snorkeling ria. Dan pilihan kami sangat tepat, karena sunset persis di depan dermaga! Horeeeeeeee………

 

sunset-nya persis di depan dermaga
sunset-nya persis di depan dermaga

 

Walau matahari masih agak terang, tapi udah ga sepanas tadi siang, ditambah hembusan angin yang lumayan kencang, bikin sore itu cukup adem menurut saya.

 

homestay terapung a.k.a water chalet di pinggir dermaga
homestay terapung a.k.a water chalet di pinggir dermaga

 

suasana yang akan selalu ngangenin
suasana yang akan selalu ngangenin

 

Duduk di salah satu gazeebo yang ada di dermaga, jadilah saya, Iyus dan Windy cerita-cerita ber-haha-hihi sambil foto-foto. Lagi asyiknya foto dan cerita-cerita, tiba-tiba HP saya bergetar hebat, dan begitu dilihat, ternyata Gita yang telepon. “Ada apa Git?”

“Mbak, di mana? Aku ga bisa masuk kamar. Mau maghrib, mau pipis”. Ahahahahahaha….. makanya…. kalo mau jalan itu bilang… sekarang bingung kan karena kita ga ada di kamar :p

Jadi ceritanya, waktu kami ketiduran, ternyata Gita jalan bareng teman yang lain, katanya mau sepedaan keliling pulau.

Huuuuuuu….. kan belum puas foto-fotonya….

 

selalu kangen dengan suasana seperti ini
selalu kangen dengan suasana seperti ini

 

Ya udah deh, akhirnya kami balik ke homestay, karena ada yang ga bisa masuk ke kamar :D

 

Malam ini, ga ada acara apa-apa. Jadi setelah makan malam (seperti biasa, di Rumah Makan Nur) saya seperti malam kemarin, nongkrong lagi di jembatan kayu, cari milkyway. Puas-puasin malam ini, karena besok kan kita harus balik ke Jakarta. Oh no!

Sebelum milkyway-an, saya packing dulu deh. Beresin ransel, biar besok pagi ga keburu-buru. Selesai packing, mari kita nongkrong di jembatan…..

 

pemandangan malam itu....
pemandangan malam itu….

 

pantulan cahaya dari homestay di permukaan air laut, mau liat langsung yang kayak gini??? yuk, ke sini!!
pantulan cahaya dari homestay di permukaan air laut, mau liat langsung yang kayak gini??? yuk, ke sini!!