Situs Gunung Padang – Peninggalan Sejarah yang Konon Lebih Megah dari Borobudur

 

Hai.. ketemu lagi….

Kali ini saya mau cerita hasil jalan-jalan ke situs sejarah, lokasinya tidak begitu jauh dari Jakarta, yaitu Situs Megalith Gunung Padang di Cianjur. Ini sebenarnya cerita jalan-jalan di awal tahun 2013 kemarin, cuma baru sempat di-posting sekarang.

Jadi ceritanya, Sabtu tanggal 2 Maret tahun 2013 kemarin, saya, Windy dan Andin bersama teman-teman dari Sahabat Jalan mencoba menjenguk situs megalith yang banyak dibicarakan orang itu. Sebenarnya sih udah ketinggalan berita banget ya… Tapi ya daripada nggak, gapapa deh…

Kami kebetulan jalan-jalannya bareng dengan teman-teman dari komunitas Sahabat Jalan. Ga rame sih…cuma 4 elf kapasitas @15 orang :D

Sekitar jam 7 pagi, kami berangkat dari Jakarta, lewat Tol Dalkot terus ke arah Bogor.

Sempat kena macet karena adanya buka-tutup jalur di Puncak. Sekitar jam 11 siang kami sampai di Stasiun Lampegan. Oh iya, karena rutenya berdekatan (sekitar 6 km aja) jadi sebelum ke Situs Gunung Padang kami singgah dulu ke lokasi stasiun tua Lampegan. Melihat bekas stasiun yang sudah tidak digunakan lagi, foto-foto dan narsis-narsisan seperti biasa. Kemudian baru perjalanan dilanjutkan menuju Situs Gunung Padang.

Sekilas tentang Stasiun (tua) Lampegan

Stasiun Lampegan merupakan stasiun kereta api yang terletak di desa Cibokor, Cibeber, Cianjur. Dulunya stasiun ini melayani kereta api Ciroyom-Cianjur-Lampegan jurusan Stasiun Sukabumi dan Stasiun Ciroyom. Tahun 2001, Terowongan Lampegan yang berada beberapa meter ke arah barat stasiun longsor, sehingga perjalanan kereta hanya sampai di stasiun ini. Terowongan yang longsor itu kemudian diperbaiki, namun sebelum kereta sempat melintas lagi, kembali terjadi longsor di tahun 2006 di petak Cibeber-Lampegan sehingga kereta hanya sampai di Stasiun Cianjur. Saat ini Stasiun Lampegan telah diperbaiki lagi, namun belum ada kereta yang lewat.

Stasiun Lampegan

rel kereta dengan landasan batu-batu kasar

girls on vacation judulnya :)

ceritanya lagi latihan terbang :D

hayo… ini kaki siapa saja???

Perjalanan ke lokasi Situs Gunung Padang cukup lancar… jalanan beraspal, tapi banyak yang ga mulus… jalannya lumayan kecil dan berkelok-kelok. Mendaki dan menuruni daerah perbukitan. Di kanan dan kiri jalan kami disuguhi pemandangan perbukitan yang menghijau, diselingi perkampungan penduduk dengan keramahan yang tersirat di wajah mereka.

dan akhirnya, sampai lah kami di Situs Megalith Gunung Padang!

Setelah melalui beberapa perkampungan dan perbukitan, kami tiba di lokasi Situs Gunung Padang. Dari tempat parkir kendaraan, kami harus berjalan kaki sedikit ke atas untuk mencapai gerbang ke Situs Gunung Padang. Jalannya lumayan ya… sedikit (eh…banyak ding) mendaki, melewati perkampungan penduduk. Saat tiba di gerbang lokasi, terpampang di depan saya 2 jalur pendakian untuk mencapai puncak situs. Jalur yang kiri berupa undakan-undakan tangga yang terbuat dari batu, menerobos rimbunnya pepohonan. Sementara jalur yang kanan lebih datar, tapi jaraknya sedikit lebih panjang, melipir menyusuri punggung bukit.


Sekilas tentang Situs Gunung Padang, Gunung Padang merupakan situs megalith yang terletak di Desa Karyamukti, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Berjarak sekitar 50 km barat daya dari Kota Cianjur atau sekitar 6 km dari Stasiun Lampegan. Situs ini juga merupakan situs megalith terbesar di Asia Tenggara. Keberadaan Situs Gunung Padang telah diberitakan di dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, “Report of the Department of Antiquities”) di tahun 1914. Kemudian di tahun 1949 seorang sejarawan Belanda N. J. Krom juga memberitakannya. Beliau mengunjungi lokasi situs di tahun 1979 untuk mempelajari secara arkeologi, sejarah dan geologi. Situs Gunung Padang berada di ketinggian 885m dpl, mencakup sebuah bukit dengan 5 teras yang terdiri dari dinding batu. Situs ini juga dikelilingi 5 gunung, yaitu Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Pasir Malang, Gunung Karuhun dan Gunung Batur.

gimana Win treknya? menyenangkan?

kami pilih jalan yang ini saja :D

treknya adem

walaupun tetap harus mendaki,
tapi trek ini lumayan datar

Saya, Windy dan Andin sepakat mencoba jalur sebelah kanan, karena lebih landai. Jauh sedikit gapapa lah… tapi ga harus trekking-trekking banget. Ternyata dengan menyusuri punggung bukit, kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Perbukitan, persawahan, dan barisan gunung menyapa mata kami. Wooooooow….. cuma bisa melongo melihat komposisi alam yang terpampang megah dan indah di depan mata. Subhanallah…..

sepanjang jalan
pemandangannya hijau

trek yang panjang ga terasa
karena jalurnya lebih landai

tuh pemandangannya, bikin betah kan?

Jalan menanjak sekitar 15-20 menit, kami pun sampai di puncak Situs Gunung Padang. Lho? Koq cuma puing-puing??? Iya, di puncak Situs Gunung Padang, kami menemukan puing-puing bebatuan (cocok ga sih kalo bebatuan itu disebut puing-puing?). Ada 5 teras/pelataran kumpulan puing-puing batu. Menurut kang Nanang, guide di Situs Gunung Padang, fungsi dari masing-masing teras berbeda-beda:

  1. Teras 1 dipercaya dulunya berfungsi sebagai tempat perjamuan dan peristirahatan para tamu sebelum menuju teras selanjutnya sekaligus sebagai tempat untuk bermusyawarah, konstruksinya disusun oleh kolom batu berdimensi poligonal segi lima atau enam dengan permukaan yang halus;
  2. Teras 2 dipercaya sebagai tempat untuk bermusyawarah ditandai dengan adanya batu berbentuk meja dan tempat duduk. Di teras ke-2 ini terdapat batu-batu tegak besar yang berfungsi sebagai pembatas jalan;
  3. Teras 3 diduga berfungsi sebagai kompleks pemakaman karena ditemukannya kelompok batuan tegak dan beberapa bangunan. Tidak ada jalan atau pondasi penghubung antar bangunan. Namun walaupun diduga teras ke-3 ini adalah kompleks pemakaman, namun tidak ditemukan adanya kerangka, melainkan sejumlah gerabah polos;
  4. Teras 4 memiliki 3 bangunan yang berada di sisi timur laut. Sedangkan bagian barat dayanya merupakan tanah kosong, sehingga diduga dulunya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara tertentu yang membutuhkan tempat yang luas; 
  5. Teras 5 terdiri dari bangunan-bangunan kecil berupa tumpukan monolit, dan diduga merupakan tempat dilaksanakannya upacara yang paling sakral.

Batu-batuan yang terdapat di Situs Gunung Padang berwarna abu-abu gelap, berjenis andesit basaltis. Diperkirakan merupakan hasil pembekuan magma sisa-sisa gunung api purbakala berumur Pleistosen Awal, sekitar 2-1 juta tahun yang lalu. Situs “Gunung Padang” dipercaya memiliki makna sebagai “tempat untuk menyinari hati“. Hal ini didasari oleh arti dari “Gunung Padang” itu sendiri, yaitu “ari gunung luhur, padang nyatana hate urang, leu gunung teh luhur, ari padang teh hate nu caang” (gunung artinya kepala kita, sementara padang berarti menyinari hati) (Djunatan, 2011a).

 

salah satu teras yang ada di Gunung Padang

puing-puing batu andesit basaltis bersegi 5 atau 6 dengan permukaan yang halus

Situs Gunung Padang mengarah ke Gunung Gede (elevasi 2958 m). Mengarah 10 derajat utara-barat pada kompas, panjang situs tepat mengarah ke Gunung Gede. Di depan Gunung Gede, situs ini juga menghadap tepat ke bukit Pasir Pogor.

nun jauh di sana terlihat Gunung Gede yang berdiri kokoh

salah satu sudut yang bisa dilihat dari teras teratas situs Gunung Padang

Pemandangan dari puncak Situs Gunung Padang sangat indah. Barisan gunung-gunung terlihat berdiri gagah bak penjaga sang situs. Ada 6 gunung yang mengelilingi situs Gunung Padang, yaitu Gunung Melati, Gunung Pasir Malang, Gunung Pasir Pogor, Gunung Pasir Gombong, Gunung Pasir Empat dan Gunung Karuhun.

Udara di puncak situs juga sangat segar, untuk manusia yang setiap harinya hanya kebagian udara yang bercampur dengan asap kendaraan, saya dengan rakus berusaha mengisi paru-paru sepenuh mungkin dengan udara yang segar itu. Ga mau bagi-bagi aaaahhhh… :D

Di puncak situs saya sempat merasakan kelekaran (ngerti ga ya istilah ini?), artinya tiduran di rumput, di bawah sebatang pohon, menikmati angin sepoi-sepoi, menatap langit (eh…sambil merem ding :D)… rasanya…… comfy bangeeeeeeeeetttttttt…….

Di sini kami menikmati makan siang dengan menu khas Sunda, nasi timbel, ayam goreng, tempe goreng, teri kacang, sop dan lalapan, plus pisang dan jeruk sebagai pencuci mulutnya. Makan siang kami tidak di lapangan situs ya… tapi di sebuah pendopo berlantai 2 di salah satu sudut puncak situs.

Saya, Windy dan Andin memilih tempat di lantai 2, biar pemandangannya lebih asik.

Setelah makan siang, saya mulai meng-explore seluruh sudut situs Gunung Padang. Hanya sayangnya, karena hari itu pengunjungnya sangat ramai, nyaris tidak ada sudut situs yang sepi, sehingga saya merasa cukup susah untuk mendapatkan foto situs yang bersih.

penduduk sekitar juga memanfaatkan situs Gunung Padang ini untuk mencari rejeki

Setelah puas meng-explore hampir setiap sudut yang ada di Situs Gunung Padang ini, kami pun mulai menuruni Situs Gunung Padang dan kembali ke lokasi parkir. Waktu turun ini pun saya sama Windy tetap mengambil jalur yang kami lewati sewaktu naik tadi. Selain lebih landai, pemandangannya itu lho…. ga bikin bosen! Sumpah!

Sambil menuruni lereng situs, saya masih sempat ngintip-ngintip landscape dari viewvinder kamera. Ada juga beberapa foto Windy dan teman-teman trip yang lain. Tiba di ujung gerbang situs, saya menyempatkan untuk berfoto bersama Windy dan Andin, tapi ternyata ga ada yang komplit kami ber-3 :D. Ya walaupun tidak 1 frame, tapi lokasinya sama kan? Jadi terbukti bahwa kami ber-3 memang sudah sampai ke Situs Gunung Padang :D

thanks to Hafiz for this picture ^.*

itu lagi ngobrolin apa coba? saya-nya malah ga ada :(

Sebenarnya, setelah Situs Gunung Padang, perjalanan kami lanjut ke Curug Cikondang. Tapi sayang…. udah kemalaman, jadi waktu sampai di curug udah gelap, ga keliatan apa-apa…. boro-boro mau moto curugnya. Kamera udah disetel poll untuk kondisi gelap juga ga bisa… hiks :'(

Jadi ceritanya stop sampai di situs aja ya….

Dan kami pun pulang ke Jakarta.

(karena kelaparan, di puncak kami sempet singgah makan malem dulu, jam 23.30 wib :D)



Ini adalah rute yang dapat ditempuh untuk mencapai Situs Gunung Padang:

  1. Dari Sukabumi ke Cianjur: Warungkondang – Cipadang – Cibokor – Lampegan Pal Dua – Ciwangin – Cimanggu;
  2. Dari Cianjur ke Sukabumi: Sukaraja – Cireungas – Cibanteng – Rawabesar – Sukamukti – Cipanggulaan.

Pentas Dongeng “Habis Gelap Terbitlah Terang”



catatan Minggu, 19 Oktober 2014
Di pagi Minggu kemarin, kembali saya menyusuri sepanjang Jalan Sudirman – Thamrin, menuju Museum Nasional untuk menyaksikan Pentas Dongeng yang ditampilkan oleh Teater Koma dalam rangka mengisi Akhir Pekan di Museum. Sudah 4 bulan terakhir ini, di setiap minggu ke-3, saya selalu meluangkan waktu untuk menikmati akhir pekan yang sedikit anti mainstream.
banner Akhir Pekan @MuseumNasional
Pagi itu jalanan ibukota terlihat ramai oleh masyarakat yang sedang berolahraga. Perjalanan lancar, sedikit terkendala dengan lalu lalang orang yang saking asyiknya berjalan menikmati car free day, sampai-sampa tidak sadar bahwa mereka melenggang di jalur bus trans Jakarta, sehingga bapak sopir pun harus berkali-kali menekan klakson untuk menyuruh mereka menepi.
Kali ini saya reversed untuk pertunjukan Pentas Dongeng yang ditampilkan pada pukul 10. Itu adalah jam pertunjukan ke-2. Setelah membeli tiket, saya pun langsung menuju tempat pertunjukan.
Seperti biasa, pertunjukan Pentas Dongeng kali ini diadakan di ruangan terbuka, yang merupakan teras dari gedung pamer yang ada di Museum Nasional. Ketika saya sampai, di ruangan tersebut sudah ramai oleh pengunjung yang duduk santai menggelosor di lantai semen halus itu. Saya pun segera mengambil tempat di sisi sebelah kanan yang masih kosong. Sayup-sayup sebuah intro dari lagu Ibu Kita Kartini terdengar dari lokasi pertunjukan.



Ibu kita Kartini, putri sejati
Putri Indonesia, harum namanya

Ibu kita Kartini, pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia

Ibu kita kartini, putri jauhari
Putri yang berjasa se-Indonesia

Wahai ibu kita kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia



gawangan, kain mori, anglo, wajan, canting, dingklik dan wanita Jawa

Pertunjukan Pentas Dongeng ini tidak menggunakan panggung. Setting area pertunjukan hanya ditandai dengan adanya properti yang akan mendukung cerita yang akan dipentaskan. Dan kali ini, di depan saya sudah terpasang 2 buah gawangan. Pada gawangan yang terletak di sebelah kanan saya terdapat sebuah kain batik tulis yang sudah jadi bercorak kotak-kotak (saya kurang paham itu motif apa?) dengan warna sogan. Di atas kain batik itu tersampir sebuah kain mori putih yang sudah memiliki motif orang yang sudah diberi malam. Sedangkan pada gawangan yang berada di sebelah kiri saya, tersampir sebuah kain mori panjang yang telah digambari beberapa motif orang yang berpasangan. Di depan gawangan dengan kain sogan tersebut, terdapat sebuah kompor elektrik, yang di atasnya terdapat sebuah wajan kecil yang berisi malam cair yang sedang dipanaskan dan beberapa jenis canting yang diletakkan di lantai.


malam yang digunakan untuk membatik harus dijaga tetap cair
dan canting pun dicelupkan supaya malam cair memenuhi nyamplung

mbathik
Sesosok wanita berpenampilan lembut, menggunakan kebaya putih dengan kain batik bernuansa orange kecoklatan terlihat sedang duduk di sebuah dingklik kayu, menghadap sebuah anglo dengan wajan kecil di atasnya sambil memegang canting. Tiba-tiba, dengan didahului oleh accident menendang dingklik, masuklah seorang remaja putri dengan dandanan modern – berbaju batik dengan padanan celana jeans selutut – sambil berbicara dengan telepon genggamnya. Dari pembicaraannya, diketahui bahwa remaja putri tersebut sedang berbicara dengan bundanya mengenai tugas membatiknya. Dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna, remaja putri tersebut membahas proses membatik dengan bundanya. Diselingi dengan penjelasan detil tentang proses-proses membatik oleh wanita berpenampilan Jawa yang ada di sebelah kiri.


cerita tentang batik semakin menarik
karena dikemas dalam bahasa yang sederhana
penjelasan mengenai aneka motif batik



si mbak sedang curhat dengan bundanya tentang membatik, dilatarbelakangi sosok wanita Jawa
yang memberikan penjelasan detil tentang proses-proses membatik
“Jadi ya bun, itu tadi proses-proses mbathik yang aku baca di perpustakaan rumah eyang”

Adapun proses yang harus dilalui untuk membuat sebuah batik tulis adalah:
  1. Ngemplong, ini merupakan proses awal dari membatik. Di mana kain mori yang akan digunakan untuk membatik dicuci terlebih dulu dengan tujuan menghilangkan kanji yang melekat di kain mori tersebut.
  2. Pengeloyoran, di sini dilakukan proses memasukkan kain mori yang telah dicuci ke dalam minyak jarak atau minyak kacang yang sudah ada di dalam abu merang. Tujuannya agar kain mori menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna lebih tinggi.
  3. Nyorek atau Memola, adalah proses menjiplak atau membuat pola di atas kain mori. Proses ini biasa juga disebut ngeblat. Biasanya, pola dibuat terlebih dahulu di atas kertas roti atau kertas kalkir, baru kemudian dijiplakkan ke atas kain mori. Proses ngeblat bisa dilakukan secara langsung di atas kain, atau menjiplaknya dengan menggunakan pensil atau canting. Supaya proses pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah dan sempurna, proses batikannya perlu diulangi pada sisi kain di baliknya, proses itu disebut ganggang.
  4. Mbathik, yaitu menorehkan lilin cair ke kain mori. Proses ini dimulai dengan nglowong (menggambar garis-garis di luar pola) dan isen-isen (mengisi pola dengan berbagai macam bentuk).di dalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat dengan cara memberi titik-titik (nitik). Ada pula istilah nruntum, yang hampir sama dengan isen-isen, tetapi lebih rumit.
  5. Nembok, yaitu proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar, dalam hal ini adalah warna biru, dengan menggunakan malam. Bagian kain yang tidak boleh terkena pewarnaan warna dasar harus ditutupi dengan lapisan malam yang tebal, sehingga seolah-olah merupakan tembok penahan.
  6. Medel, yaitu proses pencelupan kain yang sudah dibatik ke dalam cairan warna secara berulang-ulang, sehingga mendapatkan warna yang diinginkan.
  7. Ngerok dan Mbirah, yaitu proses pengerokan lapisan lilin yang terdapat pada kain dengan menggunakan lempengan logam, proses pengerokan harus dilakukan dengan sangat hati-hati, kemudian kain dibilas dengan menggunakan air bersih dan kemudian diangin-anginkan hingga kering.
  8. Mbironi, yaitu menutupi warna biru dan isen-isen pola yang berupa cecek atau titik dengan menggunakan malam. Selain itu ada juga proses ngrining, yaitu proses pengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu. Biasanya, proses ngrining dilakukan setelah proses pewarnaan.
  9. Menyoga, berasal dari kata “soga” yaitu sejenis kayu yang digunakan untuk mendapatkan warna coklat. Adapun caranya adalah dengan mencelupkan kain ke dalam campuran warna coklat tersebut.
  10. Nglorod, merupakan proses terakhir dari rangkaian prose pembuatan batik tulis ataupun batik cap yang menggunakan perintang warna (malam). Pada proses ini, kain batik yang sudah selesai diberi warna dan malam kemudian direbus di dalam air mendidih untuk menghilangkan malam (lilin) yang menempel di kain batik tersebut. Kain kemudian dibilas dengan air bersih dan diangin-anginkan.



proses-proses membatik, courtesy by Akhir Pekan di Museum


butuh kesabaran. ketelatenan, dan ketelitian tingkat tinggi
malam cair panas yang telah disendok ke dalam canting kemudian ditiup sedikit cucuknya
supaya aliran malam yang ditorehkan di atas kain bisa menghasilkan corak yang bagus

tugas mbathiknya selesai kan mbak? :D
Oh iya, untuk membatik ada peralatan khusus yang tidak boleh dilupakan, yaitu canting. Canting yang digunakan untuk membatik ada bermacam-macam sebagai berikut:


1. Berdasarkan fungsinya:

  • Canting Reng-rengan, digunakan untuk membatik motif reng-rengan (ngrengrengan), yaitu batikan pertama yang dilakukan sesuai dengan pola. Proses ini disebut Ngrengreng. Arti dari reng-reng adalah kerangka. Canting reng-rengan bercucuk sedang dan tunggal;
  • Canting Isen, yaitu canting yang digunakan untuk membatik isian bidang sesuai pola. Canting isen bercucuk kecil, baik tunggal maupun rangkap.


2. Berdasarkan cucuknya:

  • Canting carat (cucuk) kecil;
  • Canting carat (cucuk) sedang;
  • Canting carat (cucuk) besar.


3. Berdasarkan banyaknya carat (cucuk):

  • Canting Cecekan, bercucuk satu (tunggal), kecil, dipergunakan untuk membuat titik-titik kecil (Jawa: cecek). Proses membuat cecek disebut nyeceki. Canting cecekan ini juga biasa digunakan untuk membuat garis-garis kecil;
  • Canting Loron, loron berasal dari kata “loro” yang berarti dua. Canting ini bercucuk dua, berjajar atas dan bawah, dipergunakan untuk membuat garis rangkap;
  • Canting Telon, telon berasal dari kata “telu” yang berarti tiga. Canting ini bercucuk tiga dengan susunan berbentuk segitiga. Apabila canting telon dipergunakan untuk membatik, maka akan terlihat bekas segitiga yang dibentuk oleh 3 buah titik, sebagai pengisi;
  • Canting Prapatan, canting ini bercucuk empat, dipergunakan untuk membuat 4 buah titik yang berbentuk bujur sangkar sebagai pengisi bidang;
  • Canting Liman, bercucuk lima, dipergunakan untuk membuat bujur sangkar kecil yang dibentuk oleh empat buah titik dengan sebuah titik di tengahnya;
  • Canting Byok, yaitu canting bercucuk 7, sering digunakan untuk membentuk lingkaran kecil yang terdiri dari titik-titik;
  • Canting Renteng atau Galaran, kata “galaran” berasal dari kata “galar” yang berarti suatu alat dari bambu yang dicacah membujur. Renteng adalah rangkaian sesuatu yang berbaris berjejer. Canting Renteng dan Galaran selalu bercucuk genap, 4 atau lebih, yang paling umum adalah bercucuk 6, tersusun dari bawah ke atas.
 (Sumber: Singgih27, FB Akhir Pekan di Museum)

bagian-bagian dari canting, courtesy by Akhir Pekan di Museum

macam-macam canting, courtesy by Akhir Pekan di Museum
penjelasan tentang bagian-bagian dari canting


Berbicara tentang membatik, sebuah kegiatan yang erat melekat dengan sosok seorang wanita Jawa, dongeng pagi itu berujung pada sosok R. A. Kartini. Perempuan Jawa yang menjadi tokoh emansipasi wanita dengan pemikirannya yang dituangkan ke dalam ke dalam surat-suratnya dalam Bahasa belanda yang dikirimkan kepada temannya, Rosa Abendanon. Yang dikemudian hari, surat-suratnya itu dibukukan oleh J. H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht”. Di tahun 1922, buku tersebut diterjemahkan oleh Armijn Pane ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran”.

batik Kartini
penjelasan tentang Batik Kartini

















Batik Kartini dan penjelasannya


Di penghujung pertunjukan, diceritakan kebiasaan Kartini membatik bersama kedua saudara perempuannya yaitu Roekmini dan Kardinah. Batik itu pun dikenal dengan nama Batik Kartini. Batik bermotif bunga kecil-kecil (buketan) dengan warna dasar coklat muda ini terkenal sampai ke penjuru dunia. Hal itu bermula dari kebiasaan Kartini mengirimkan hasil karyanya kepada teman-temannya yang berada di luar negeri, khususnya Belanda.

dan lonceng pun berdentang tanda pertunjukan telah selesai
Pertunjukan Pentas Dongeng di pagi hari itu pun diakhiri dengan berdentangnya suara lonceng. Dan selanjutnya, seluruh pendukung Pentas Dongeng pada hari itu pun berjejer manis di depan saya dan seluruh penonton. Pertunjukan berdurasi 30 menit itu pun ditutup. Dan saya mengakhiri kunjungan di Museum Nasional pada hari itu dengan berkeliling ke “Thai Room” yang ada di sisi kiri dari Museum Nasional. Di situ dipamerkan berbagai macam jenis batik dan tenun tradisional Indonesia. Dan situ juga saya bisa melihat secara langsung Batik Kartini yang terkenal itu.


antusias penonton yang menyaksikan Pentas Dongeng “Habis Gelap Terbitlah Terang”

standing applause untuk tim Teater Koma yang telah berbagi ilmu mengenai batik & Kartini
 Catatan:

  1. Dingklik: bangku kayu kecil, biasanya digunakan untuk duduk para pembatik;
  2. Malam: lilin yang digunakan untuk membatik, sebelum digunakan lilin harus dimasak hingga mencair;
  3. Gawangan: rangka kayu yang digunakan untuk menggantung kain mori pada saat membatik;
  4. Anglo: tungku yang terbuat dari tanah liat, sebagai kompor untuk memanaskan wajan berisi malam cair;
  5. Wajan: wadah untuk mencairkan malam yang diletakkan di atas anglo;
  6. Canting: alat untuk membatik;
  7. Kain mori: kain yang digunakan sebagai bahan dasar sebuah kain batik.