Liburan yang Anti Mainstream – Nonton Wayang Tavip “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”


Ini kali ke-3 saya mengisi akhir pekan untuk kegiatan yang tidak biasa. Mencoba membiasakan diri dengan kegiatan yang anti mainstream. Yup! Sudah 3 bulan ini, saya selalu menghadiri pertunjukan Teater Koma di Museum Nasional. Dan di akhir pekan di Bulan September ini, saya datang untuk menyaksikan pertunjukan Wayang Tavip yang berjudul “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”.
Judulnya memang pertunjukan wayang, tapi jangan salah, wayang di sini bentuknya akan sangat berbeda dengan wayang yang umumnya kita ketahui. Pertunjukan dari Teater Koma ini menggunakan wayang Tavip. Apa itu wayang Tavip?
Wayang Tavip adalah wayang yang merupakan kreasi dari M. Tavip, seorang dosen jurusan teater di STISI Bandung, pada tahun 1993. Dulu, dikenal dengan nama Wayang Motekar. Wayang ini menggunakan media khusus semacam plastik keras yang transparan, sehingga bisa diwarnai. Pembuatan wayang ini menggunakan teknologi khusus, di mana bahan yang telah digambar dengan tokoh yang diinginkan kemudian diberi warna sehingga terlihat lebih menarik.
Nah, kali ini lakon yang dimainkan oleh Teater Koma berjudul “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”.

dialog antara kakek dan 3 pemuda tentang kapal dan laut

Tidak ada panggung untuk pertunjukan, hanya sebuah kain putih yang menggantung dari plafond salah satu pojok lantai 2 yang terdapat di gedung baru Museum Nasional. Dan di pagi menjelang siang itu, saya hampir saja terlambat untuk menyaksikan pertunjukan Wayang Tavip. Ketika saya tiba di lantai 2 Museum Nasional, pengunjung sudah memenuhi spot yang menjadi tempat pertunjukan. Duduk melantai dengan santai di depan kain putih yang berfungsi sebagai layar. Sebuah lampu sorot sudah menyala dari belakang kain putih itu.

Kisah dimulai dengan adegan 3 orang pemuda yang bercita-cita menjadi pelaut berbincang dengan seorang kakek, yang ternyata adalah mantan pelaut. Dengan balutan humor segar, sang kakek memberikan penjelasan mengenai kelautan di Indonesia kepada ke-3 pemuda itu. Termasuk kelengkapan yang wajib ada di sebuah kapal. Apa tugas dari Mualim 1, Mualim 2, dan Mualim 3. Sebenarnya, saya juga baru tahu saat itu bahwa tugas masing-masing Mualim di dalam sebuah kapal itu berbeda-beda. Mualim 1, bertanggung jawab terhadap semua kelengkapan wajib yang harus ada di dalam sebuah kapal; Mualim 2 bertanggung jawab terhadap arah dan rute perjalanan, termasuk harus sangat paham terhadap ilmu pelayaran dan navigasi; serta Mualim 3 yang bertanggung jawab terhadap logistik.


jadi, belajar juga bisa lewat media seperti ini, santai tapi berbobot


penjelasan dari sang kakek mengenai sektor bahari Indonesia sangat bagus


Kemudian sang kakek menjelaskan berbagai macam jenis kapal yang ada di Indonesia, seperti Kapal Pinisi, Jukung, Lumbung, Gubang, Perahu Bajau, Perahu Sapit, dan lain-lain. Dan di layar pun terlihat beberapa bentuk perahu tradisional tersebut dengan warna-warnanya yang menarik.


pengenalan berbagai macam perahu/kapal dari berbagai daerah di Indonesia


mulai dari perahu Pinisi, Bajau, Sapit, dan lain-lain


Selain bercerita tentang jenis-jenis perahu yang ada di Indonesia, sang kakek juga bercerita, bahwa menjadi “orang laut” dituntut untuk siap menghadapi segala macam kondisi yang mungkin terjadi pada saat berlayar, salah satunya harus siap seandainya bertemu dengan bajak laut. Pada bagian ini, sekilas sang kakek bercerita tentang Malahayati, seorang bajak laut wanita yang terkenal dan ditakuti di sekitar Selat Malaka. Jadi, dulu itu, bajak laut bukan hanya lelaki, namun wanita juga ada yang jadi pimpinannya. 


“orang laut” harus siap dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapi,
salah satunya adalah ketemu bajak laut
penggambaran akan sosok Malahayati, pelaut wanita yang terkenal di seantero  Selat Malaka


Dan pertunjukan hari itu ditutup dengan adegan sang kakek mengajak ke-3 orang pemuda itu untuk mulai berlayar menggunakan sebuah perahu diiringi lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh seluruh pengunjung dengan tepuk tangan yang berirama.


Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudraMenerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang, ombak berdebur di tepi pantaiPemuda b’rani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai

pertunjukan diakhiri dengan ajakan sang kakek untuk berlayar

… menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa …

Di akhir acara, seluruh pendukung pertunjukan muncul dari belakang layar, termasuk dalangnya, yang ternyata adalah Bapak M. Tavip! Wuih….. keren!!!




dan…. ini lah wayang-wayang yang tadi dimainkan…
seluruh pendukung acara, termasuk pak dalangnya

ini bapak dalangnya, bapak M. Tavip

3x pertunjukan, penontonnya rame terus

tuh lihat, antusias yang nonton

menghabiskan akhir pekan, ga harus jalan-jalan ke mall kan???


Mengobati Rasa Penasaran dengan Ujung Genteng




Ini adalah catatan perjalanan saya di akhir tahun 2013 kemarin.
Setelah sekian lama selalu mendengar kata Ujung Genteng, tapi ga beranjak juga untuk pergi ke sana, akhirnya Desember taun lalu saya memutuskan untuk ikut open trip ke Ujung Genteng. Yang ngadain Travollution. Ini trip organizer recommended dah, saya mulai kenal founder-nya – Hafiz – sejak 2011, sebelum beliau… membentuk Travollution.

Kita berangkat dari Jakarta sekitar jam 9 malam, hari Jumat after office.
Seperti biasa, kali ini pun saya berangkat sendirian, maksudnya dari sekian banyak peserta, ga ada yang saya kenal, kecuali leader dan co leader-nya.
Seperti biasa, kalau perjalanan malam, saya selalu membiasakan diri untuk saving tenaga, jadi… sepanjang perjalanan malam itu saya pun tidur dengan pules di elf yang akan mengantarkan saya ke Ujung Genteng.

Ternyata, Ujung Genteng itu jauh ya…. Terbukti elf yang saya tumpangi baru tiba di daerah Ujung Genteng keesokan paginya.

Sungai Cikaso pagi itu

Saya tiba di sana sekitar pukul 7.15 pagi. Dan tujuan pertama kami adalah sebuah curug, Curug Cikaso. Jadi, setelah elf parkir dengan sempurna, kami pun segera meniti jalan setapak menuju sungai yang ada di kampung tersebut. Lho, pasti jadi pertanyaan kan, kenapa harus ke sungai?
Sebenarnya Curug Cikaso ini bisa diakses lewat jalan darat, hanya saja jaraknya lumayan jauh. Nah…. agar lebih cepat, kami waktu itu mempergunakan jasa sewa perahu yang memang tersedia di Kampung Ciniti. Harga sewa perahunya sekitar Rp 70.000 untuk 12 penumpang. Waktu itu rombongan kami menggunakan 2 buah perahu.
Dan jadilah, pagi itu saya merasakan berperahu ria di sungai yang airnya sedang pasang dengan warna kecoklatan akibat hujan di malam sebelumnya.


perjalanan menuju Curug Cikaso

Berperahu sekitar 10 menit, maka sampai lah saya di lokasi Curug Cikaso. Dari turun perahu, saya masih harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai di lokasi curug. Pagi itu, jalanan tanah menuju curug masih basah oleh embun dan sisa air hujan semalam, jadinya jalanan setapak itu cukup licin. Saya beberapa kali harus terkaget-kaget karena tiba-tiba pijakan kaki ini terasa bergeser (untung ga gedebug :D).

Sekitar 25 meter dari curug, saya sudah mulai merasakan cipratan airnya, dingin! hihihihihi….
Waduh, kalo airnya nyiprat ke mana-mana gini, gimana caranya bisa motret ya???
Saya pun mulai melipir-melipir, mencari lokasi yang tidak terkena cipratan air.

Nih, saya ceritain dikit tentang Curug Cikaso…….
Curug Cikaso sebenarnya bernama Curug Luhur, yang mengalir dari sebuah anak sungai dari Sungai Cikaso yang bernama Cicurug. Tapi oleh masyarakat, curug ini lebih dikenal dengan nama Curug Cikaso.
Curug Cikaso terbentuk dari 3 titik air terjun yang berdampingan letaknya, dengan 1 lokasi kolam yang sama, yang airnya berwarna hijau kebiruan. Untuk 2 titik air terjunnya dapat terlihat jelas, sedangkan 1 titik lainnya agak tersembunyi di tebing yang menghadap ke Timur. Kolam di bawah limpahan ke-3 curug tersebut alirannya akan menuju laut muara Tegal Buleud, Sukabumi. Sebenarnya, kolam di bawah curug itu boleh digunakan untuk berenang, namun harus diawasi oleh yang berpengalaman, karena kedalaman kolam itu mencapai 15 m.


Curug Cikaso

Nah… masing-masing titik air terjun itu memiliki nama yang berbeda, yang berada di sebelah kiri bernama Curug Asepan, yang di tengah Curug Meong, dan yang di sebelah kanan bernama Curug Aki. Ke-3 curug tersebut memiliki ketinggian sekitar 80 meter dengan lebar tebing sekitar 100 meter. Oh iya, Curug Cikaso ini berada di Kampung Ciniti, Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Untuk aksesnya, curug ini berjarak sekitar 8 km dari pusat kota Kecamatan Surade, 15 km dari Jampang Kulon, atau 30 km dari Ujung Genteng, dan sekitar 110 km dari Kota Sukabumi, atau +/- 70 km dari Pelabuhan Ratu.
Dari Kota Surade, apabila menggunakan kendaraan roda 4, jarak itu bisa ditempuh sekitar 30 menit untuk tiba di pertigaan Jalan Cikaso dengan kondisi jalan yang berliku dan beraspal mulus. Tapi mendekati desa terakhir sebelum sampai ke curug, kondisi jalan mulai berbatu-batu.
Ada 2 jalur yang bisa ditempuh untuk sampai di Curug Cikaso, pertama melalui pertigaan/pasar (Cinagen, Jampang Kulon) masuk ke arah Cikaso, kurang lebih 5 km. Yang kedua melalui pertigaan (Cibarehong, Surade) ke arah SMA N 1 Surade, kemudian berbelok ke kiri, kurang lebih 3 km, jalur ini sedikit memutar sehingga membutuhkan waktu sekitar 6 jam.

Walaupun pagi itu belum mandi (ups), tapi begitu kena cipratan air dari curug, mata langsung seger. Airnya dingin…………. (pake bingits) :D

ini teman-teman seperjalanan saya ke Ujung Genteng

Akhirnya, setelah liat-liat curug, udah poto-poto, udah poto keluarga juga dengan seluruh peserta, saya pun balik kanan menuju ke perahu. Yup, balik lagi naik perahu untuk kembali ke parkiran elf.
  

kembali mengarungi Sungai Cikaso


Selesai explore curug, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Amanda Ratu di Pelabuhan Ratu.
suasana seperti itu yang bikin betah


Perjalanan dari Curug Cikaso menju Pantai Amanda Ratu tidak terlalu jauh.
Pantai Amanda Ratu ini dijuluki Tanah Lot-nya Jawa Barat. Hal ini disebabkan adanya sebuah daratan yang mirip Tanah Lot, yang ada di tengah laut. Pantai ini menghadap langsung ke Samudera Hindia dengan ombaknya yang indah.
Dan siang itu, saya tiba di Pantai Amanda Ratu ditemani awan kelabu yang membuat hari sedikit adem. Cahaya matahari tampak tidak terlalu panas sinarnya, sehingga saya bisa dengan nyaman berjalan-jalan mencari spot foto yang cantik.
Air muara sungai siang itu berwarna coklat keruh akibat hujan semalam, namun makin ke tengah samudera, warnanya semakin jernih.
Memang terasa nyaman, duduk di tebing pantai, sambil merasakan angin yang bertiup semilir, sambil menikmati deburan ombak yang memukul bibir pantai.








Pantai Amanda Ratu

Tanah Lot-nya Jawa Barat nih


Di pantai ini ada penginapan yang diberi nama persis sama dengan nama pantainya, Amanda Ratu. Penginapan kayu di tengah kebun kelapa ini terasa sangat asri dan sejuk. Bangunan yang didominasi kayu berwarna coklat, dengan beberapa jendela kaca besar dan sebuah teras berpagar kayu unik di atasnya itu sungguh terasa nyaman untuk ditinggali. Hanya sayang, waktu itu saya dan teman-teman tidak menginap di sana. Maybe next time….
Hijaunya rumput di seluruh halaman pantai (sebenarnya) menarik saya untuk guling-guling di situ. Tapi…… kira-kira kalau saya melakukan itu, teman-teman yang lain heran ga ya? :D  


penginapan Amanda Ratu


senang ya liat keadaan di sekitar penginapannya
ini Firaz, peserta trip terkecil waktu itu,
dan tetangga kamar yang menggemaskan



















seperti biasa, mari foto keluarga


Kami tidak berlama-lama di Pantai Amanda Ratu, karena hari itu kami harus segera sampai di Pantai Pangumbahan untuk mengikuti acara pelepasan tukik. Tau tukik ga? Tukik itu adalah anak penyu. Jadi nanti di Pantai Pangumbahan, saya dan teman-teman akan melakukan pelepasan bayi-bayi penyu itu ke laut.
Hayuk kita teruskan perjalanan…….

Elf yang saya dan teman-teman tumpangi segera bergerak menuju Pantai Pangumbahan.
Sebelum melakukan pelepasan tukik, karena proses pelepasan tukik dilakukan menjelang maghrib, kami singgah dulu di penginapan (duh, saya lupa nama penginapannya).

Sampai di penginapan, ternyata jatah makan siang telah menunggu kami. Sebenarnya kalau dibilang makan siang, udah kelewatan sih waktunya, karena kami tiba di penginapan sekitar jam 2 siang.
Ga nunggu dipersilakan berkali-kali, langsung seluruh pasukan menyerbu meja makan dan mulai mengisi piringnya masing-masing dengan menu yang disediakan siang itu: nasi putih hangat, sayur asem, ayam dan tempe goreng, serta lalapan dan sambel.
Hmm…. yummy…..

Udah selesai makan, kenyang dong pastinya…
Baru deh kami dibagiin kamar untuk nginepnya.
Karena saya perginya sendiri, di sini saya kebagian berbagi kamar dengan Mira, dan tetanggan kamar dengan bocah kecil menggemaskan yang fotonya ada di atas tadi, Firaz.
Bocah laki-laki yang berumur belum 3 tahun ini nantinya akan jadi tamu setia di teras depan kamar saya. Dan akan menghibur dengan celotehannya serta aksi manjat-manjat dan lompat-lompatnya.

Saya dan Mira pun langsung menuju kamar kami yang letaknya paling ujung.
Sampai di kamar, berbagi tempat tidur (kami mendapatkan twin bed room, jadi jatah bobonya luas), dan bersih-bersih (akhirnya ngerasain mandi juga hari ini :D).

Sekitar jam 1/2 5 sore, kami berkumpul dan segera menuju Pantai Pangumbahan utnuk melakukan pelepasan tukik. Dari penginapan, kami harus menggunakan elf untuk sampai di lokasi pantai karena letaknya yang cukup jauh. Sampai di sana pun, elf yang saya tumpangi tidak bisa sampai ke pantai karena jalanan menuju penangkaran penyu cukup sempit untuk dilalui elf. Jalanan tanah berbatu itu hanya cukup dilewati kendaraan roda 4 berbodi kecil. Jadi, setelah elf-nya parkir, saya dan teman-teman harus berjalan kaki sekitar 400 meter untuk sampai di komplek konservasi penyu Pangumbahan. 



ini bangunan balai konservasinya, lucu ya… ada penyu gede di atapnya :D

Dari balai konservasi, kami melanjutkan jalan kaki menuju Pantai Pangumbahan.
Jaraknya lumayan, sekitar 100-150 meter. Dan untuk mencapai pantai, kami melewati deretan mangrove yang sedang dibudidaya sebelum ditanam untuk mengurangi abrasi pantai akibat gerusan air laut.
Dan akhirnya………. hore…… di depan mata saya terbentang lautan paris putih kecoklatan yang sangat luas.

pantainya luas………..

suka banget dengan suasana pantai dan ombaknya yang cantik


Sore itu, Pantai Pangumbahan cukup ramai.
Hampir di setiap sudutnya terlihat kelompok-kelompok pengunjung yang sedang menikmati pantai senja itu.
Tadinya saya berharap bisa sekalian menunggu sunset di sini, tapi sepertinya keinginan itu tidak bisa terlaksana karena gulungan awan kelabu terlihat menggelayut di langit. 

menunggu moment sunset yang gagal karena mendung tebal


Sambil menunggu moment pelepasan tukik, saya mencari lokasi yang bisa saya gunakan untuk berakrab-akrab dengan pasir pantai yang lumayan halus itu.
Sambil menenteng kamera, saya akhirnya mendapatkan sebuah spot untuk mengistirahatkan kaki saya dibenaman pasir pantai.

tadinya saya berharap foto ini berupa siluet, tapi sayang ga bisa sunset-an di sini


Dan akhirnya, moment yang saya tunggu tiba juga.

Beberapa orang petugas konservasi membawa sebuah bak hitam besar yang berisikan puluhan ekor tukik yang siap dilepas ke pantai.
Saya ga kebagiannya tukiknya… hiks… :(
Dan harus cukup puas dengan melihat saja.


menunggu saat pelepasan tukik


Pengunjung yang akan melepaskan tukik harus berdiri di belakang sebuah garis yang dibuat oleh petugas konservasi. Garis itu adalah garis batas ombak laut yang sampai ke daratan, sehingga nantinya apabila tukik-tukik itu dilepaskan, mereka akan langsung dapat berenang mengikuti ombak laut.


ayo tukik…. kamu bisa!!!



ombak yang mencapai pantai ini membantu tukik-tukik untuk segera sampai di laut


Senja itu, puluhan tukik berlomba-lomba berenang ke laut, kembali ke habitat aslinya. Berjuang melewati hamparan pasir untuk mencapai laut lepas.

Selesai melepas tukik, langit pun semakin gelap, saya dan teman-teman segera kembali ke parkiran elf.

Malam itu, acaranya bebas.
Setelah makan malam, sbagian teman-teman memanfaatkan waktu untuk berenang di kolam yang ada di depan penginapan. Sementara saya dan Mira, kami hanya duduk-duduk sambil ngobrol di sebuah gazeebo yang ada di halaman penginapan.
Sedang asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba……. breeeessss…. hujan turun dengan derasnya. Saya dan Mira langsung ngacir ke arah kamar…. hehehehehehe….
Mungkin memang sebaiknya malam ini saya beristirahat aja, cuaca cukup mendukung untuk bersembunyi di balik selimut malam itu ^.*

Bye semuanya….. kita ketemu lagi besok pagi ya…..
Besok, kita akan jalan-jalan ke curug lagi lho…..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Selamat pagi……… #sambilnguletdikasur

Cuaca tadi malam yang adem karena hujan, sukses membuat saya nyenyak (sampai ga sempat mimpi, hihihihihi…) di balik selimut. Dan pagi ini, saya bangun dengan segar.
Setelah sarapan, kami segera bersiap-siap menuju Curug Cigangsa.

Elf yang saya tumpangi kembali melintasi aspal hitam menuju Desa Batu Suhunan. Untung saja, jalanan menuju Desa Batu Suhunan bisa dibilang cukup bagus, dengan aspal yang mulus. Hanya saja beberapa saat mendekati Desa Batu Suhunan, jalanan aspal mulus berganti dengan jalanan aspal kasar yang di beberapa tempat terdapat lobang yang cukup mengganggu.
Sekitar jam 10, kami tiba di Desa Batu Suhunan. Elf berhenti di depan sebuah rumah warga yang biasa menjadi meeting point untuk pengunjung yang akan melihat Curug Cigangsa.
  


pagi itu di Desa Batu Suhunan


Curug Cigangsa sebenarnya bernama Curug Luhur Cigangsa, berada di Desa Batu Suhunan, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Untuk sampai ke lokasi Curug Luhur Cigangsa, kita harus berjalan kaki melintasi pematang sawah, dan kemudian menuruni tangga batu alami yang lumayan terjal. Jarak dari tempat kami parkir elf menuju curug sekitar 500 meter.

Jalan di pematang sawah, sebenarnya ga terlalu masalah. Yang jadi masalah adalah saat menuruni tangga batu alami yang lumayan terjal, apalagi ditambah dengan sisa hujan tadi malam. Membuat tangga batu itu cukup licin, sehingga harus sangat extra hati-hati waktu menuruni dan naiknya.
Tapi…. setelah sampai di lokasi curug, semua kesulitan untuk menuruni tangga batu itu terbayarkan.


Curug Luhur Cigangsa


Di depan mata saya berdiri tebing batu bertingkat 3 dengan limpahan air yang menuruninya. Tebing batu itu berwarna hitam kehijauan karena lumut yang tumbuh di permukaannya. Dan karena malam sebelumnya hujan, air di kolam yang ada di bawah curug pun berwarna kecoklatan. Di sekitar kolam tersebut banyak batu-batu besar yang dapat kita jadikan pijakan untuk mendekati curug. Tapi… batu-batu itu pun penuh lumut, jadi harus sangat hati-hati melangkah di atasnya.

Saya tidak berani menyeberangi batu-batu besar berlumut yang ada di sekitar curug untuk mencari spot foto yang mungkin sangat bagus, karena takut terpeleset dan gedebug jatoh di situ :D
Dan saya akhirnya cukup puas dengan memotret Curug Luhur Cigangsa dari batu besar yang letaknya paling dekat dengan tangga :D

Akses menuju lokasi Curug Luhur Cigangsa belum ada penunjuk arahnya. Jadi, setelah melalui pertigaan tugu Kota Surade, sebaiknya kita bertanya dengan masyarakat di situ, agar tidak salah arah. Curug ini berjarak sekitar 110 km ke arah selatan dari Kota Sukabumi, dan sekitar 1 km dari pusat Kota Surade.

Setelah puas melihat dan mengambil beberapa shot foto Curug Luhur Cigangsa, saya dan teman-teman kemudian kembali menaiki tangga, melintasi pematang sawah, kembali ke parkiran elf.


di pagi menjelang siang yang mendung itu, suasana di Desa Batu Suhunan sangat tenang



Selesai sudah perjalanan saya kali ini untuk menebus rasa penasaran akan Ujung Genteng. Makin banyak saya melihat sudut-sudut daerah di Indonesia ini, saya semakin pengen teriak “Damn!!! I love Indonesia so much!!!”.




2014 Diengers Goes to Bromo – #6 Panen Apel (di Kebun Orang) Yuk! Sambil Jenguk Piaraan…

DSC_8522

Perut udah kenyang (cerita kita sarapan enak di Malang bisa liat di sini ya…), cukup lah untuk bekal keliling-keliling di kebun Apel nanti. Sekarang yuk kita buruan naik bis, biar cepet sampe di Kota Batu.
 
Dari Malang ke Batu perjalanannya ga terlalu jauh. Kemarin itu, jam 8.30 kami sudah sampai di halaman parkir Jatim Park 2. Tapi sayang…. ternyata Jatim Park 2 bukanya jam 10. Jadi…. mari kita melipir dulu untuk panen Apel (di kebun orang) hehehehhe…
 
Dari Jatim Park 2, bis mini yang membawa kami berbelok ke arah kiri menuju lokasi agrowisata. Dan kami berhenti di depan sebuah rumah warga yang memiliki kebun Apel. Turun dari bis mini, kami diajak menuju kebun Apel yang terdapat di belakang rumah tersebut.
 
Sebelum mulai memanen Apel (dari kebun orang itu), kami diperkenalkan dengan yang punya kebun, cuma sayang, sekarang saya lupa siapa nama masnya itu :D #maaf
Di kebunnya, si mas itu ada 3 jenis Apel yang siap dipetik. Ada Apel diet yang rasanya luayan asem, trus Apel yang warnanya agak merah (saya lupa apa namanya) dan Apel hijau yang rasanya manis.
 
Kami dibekali 1 kantong kresek putih untuk tempat Apel yang akan dipetik. Kalau apel yang dipetik, nanti akan ditimbang pada saat akan keluar dari kebun itu, dan harus bayar ya…. Tapi, kalau Apelnya langsung dimakan, itu semua gratis tis tis!!!
 
Saya kebetulan bukan yang terlalu hobi dengan buah Apel, karena menurut saya, rasa Apel itu kayak gabus kalau pas digigit :D
Jadi, saya hanya memakan 2 buah Apel hijau yang manis, plus nyicipin 1/2 Apel merah.
 
Ngeliat teman-teman yang panen Apel dengan semangat, saya suka aja.
Beberapa teman yang (katanya) pengen kurus, berburu Apel diet yang menurut saya rasanya sangat asem itu. Dan cerita Apel diet ini nantinya sepulang dari Malang jadi trending topic di grup yang bikin ngakak-ngakak.
 
Selesai panen Apel, nimbang dan bayar Apel yang mau dibawa pulang, kami pun segera naik kembali ke bis mini dan bergegas cuusss ke Jatim Park 2.
kelakuan… sukses jadi codot di kebun Apel :p courtesy by OurTrip1st
tetep ya….. ga boleh liat kamera… :p :p :p courtesy by OurTrip1st

 

hayo…bayar dulu itu yang di gembolan, jangan langsung kabur yak :p courtesy by kamera mas Ahmad

 

 

yeaaayyyy… akhirnya bisa foto ber-7 juga… courtesy by kamera mas Ahmad

 

oleh-olehnya mbak, mas, dipilih…dipilih… courtesy by mas Ahmad

 

hmm…. oleh-olehnya berapa karung nih? kan yang mau dibagi banyak banget…
courtesy by mas Ahmad

 

Sampai di sana, asik….. loketnya udah buka.
Dan mas Bidin dengan gesit langsung beliin kami tiket.
Oh iya, untuk tiket masuk ke Jatim Park 2 ini harganya Rp 100.000 untuk weekend dan Rp 70.000 untuk weekdays.
Tiketnya berbentuk gelang kertas yang harus dikenakan di tangan.
 
nih, tiket Jatim Park 2 saya masih bagus dan tersimpan rapi ^.*
 
here, we are…. ready to explore Jatim Park 2, yeah!!!
 
Dari luar, bangunan utama Museum Satwa yang ada di Jatim Park 2 ini bentuknya seperti bangunan MK :D
Bangunan bernuansa Eropa dengan  pilar besar dan tinggi sebagai penopangnya.
Di kanan kirinya ada patung Gajah besar, lengkap dengan gadingnya yang panjang.
Sementara di depan tangganya, ada 4 patung buaya ijo memegang senapan dan mengenakan topi dengan posenya yang lucu (di akhir kunjungan, merasa menyesal karena ga sempet foto dengan patung-patung buaya itu).
 
Museum Satwa tampak dari depan, liat pilarnya inget gedung MK :D
 
 
nah kalo yang ini bangunan Secret Zoo, bagus ya…
 
Oh iya, di belakang counter loket ada bangunan dengan model yang tidak biasa. Bagus banget deh.
 
yang motoin males bener ini…. jauh beeuuuddhh… kan potonya jadi kecil begini…
courtesy by Iyus
 
 
Gelang tiketnya udah pada dipake semua kan?
Ayo kita segera masuk ke Museum Satwanya, udah ga sabar kan mau liat peliharaan yang ada di sana? :p
 
dah, masuk sangkar semua (kata Iyus) :p
courtesy by Iyus
 
 
Baru juga memasuki ruangan pertama dari Museum Satwa, di depan saya ada sebuah bangun ruang berbentuk kandang burung raksasa dengan beberapa replika binatang di dalamnya.
Waaaahhhh… keliatannya bagus nih untuk poto-poto…. hehehehehe…
Dan ga perlu disuruh lagi, semua pada pasang gaya di sana :p
kalo teman saya yang ini emang agak ambigu bin geje, maunya nyosor mulu :p
segitu senengnya Andin dinyanyiian sama om Llama
  
nah, yang ini yang paling happy, karena ketemu idolanya :p
ih, Ivan porno ih….

Tadinya sempat berpikir bahwa isi dari Museum Satwa ini biasa-biasa aja, tapi ternyata…. isinya lengkap banget! Walaupun sebagian merupakan replika, tapi koleksi binatang hidupnya juga banyak lho.

Dan Jatim Park 2 ini merupakan peringkat ke-11 taman rekreasi terbaik se-Asia.
Jatim Park 2 terdiri dari 3 bangunan utama, yaitu:
1. Museum satwa;
2. Secret Zoo (kebun binatang); dan
3. Tree Inn (Hotel pohon).
 
Di dalam Museum Satwa kita juga akan menjumpai beberapa diorama binatang dengan berbagai macam keunikannya.
 
  
belajar motret ala-ala NatGeo :D #ngarep
ini bayi Kanggurunya lucu lho…..
yang paling gede itu namanya Apatosaurus

 

kirain beneran, taunya cuma diorama
gaya yang aneh….. ckckckckckck….
 
hiu ditelan hiu?????


Selesai keliling di Museum Satwa, kami memasuki komplek Secret Zoo.
Di sini binatangnya hidup ya… jadi bukan sekedar replika.
Liat Buaya, Flamingo, Merak, Kura-kura, Jerapah, Tikus raksasa (ada tikus yang beratnya sampe 15 kilo, hiiiii…..
Kucing ketemu Tikus segede itu juga yang ada Kucingnya yang kabur), dan macam-macam lagi binatang lainnya.
Secret Zoo ini luas banget! Dan siang itu saya akhirnya ngaku kalo ternyata capek juga keliling di sana. Betis rasanya keriting :D ahahahahahaha…. perlu rebonding betis ini pulang dari Malang….
 
Di Secret Zoo, ada penggolongan binatang-binatang yang ditampilkan. Jadi ada komplek burung-burungan, insect, avertebrata (alias binatang tanpa tulang belakang), ikan dan hewan air lainnya, dan lain-lain. Puas banget keliling di sana. 
nih, yang paling eksis waktu dipoto
ga tau ini namanya apa, tapi ekornya lucu
  
ada yang berani masuk ke situ ga? trus duduk-duduk lucu sambil elus-elus kepalanya? :p
 
 
kura-kuranya gede banget… 
 
ini nih tikus yang beratnya sampe 15 kilo, ada ga kucing yang berani nyamperinnya?
  
yang ini ekspresinya favorit!!!
ga tau namanya, tapi mungkin masuk
spesies Bangau ya?
itu totol-totol ikan Pari-nya biru, bukan item putih kayak kebanyakan
 
nungguin pose si Flamingo ini bikin saya harus panas-panasan
udah keluar dari Museum Satwa, baru nyadar ada beginian, dan menyesal karena ga sempet foto di situ
 
Dan akhirnya, petualangan saya dan teman-teman di Jatim Park 2 harus diakhiri, karena kami harus mengejar kereta untuk balik ke Jakarta jam 4 sore itu.
Bergegas menuju parkiran, dan kemudian bis mini itu pun melaju membelah jalanan di Batu menuju Malang.
yeay!!! kami udah keliling Jatim Park 2 dong…
courtesy by OurTrip1st
betis udah keriting juga masih bisa nggaya :p
courtesy by OurTrip1st
betisnya udah keriting… ting… ting… :D
courtesy by OurTrip1st

 

Kami sampai di depan Stasiun Malang sekitar jam 2 siang lewat dikit, dan kebetulan sedang ada karnaval anak-anak.
Jadi jalanan sangat macet pada waktu itu, dan bis mini kami tidak bisa mendekat ke parkiran stasiun. Walhasil, bis parkir agak jauh dari stasiun dan kami kemudian berjalan kaki menuju stasiun.
Tapi sebelum naik kereta, sepertinya kita perlu untuk makan siang dulu deh, soalnya ini perut udah laper banget….. Kan tadi kalorinya udah banyak yang dibakar waktu keliling di Jatim Park 2 :D :D
 

 

parkiranya rada jauh ya dari stasiun, ayo siap-siap gendong gembolan masing-masing
courtesy by mas Ahmad

 

yang belakang ngintip-ngintip, takut sama yang depan ya? :D
courtesy by mas Ahmad
kita maksibar di sini ya… laper nih…
courtesy by mas Ahmad
 
Karena pertimbangan waktu, akhirnya siang itu kami maksibar di warung sederhana yang ada di depan stasiun.
Udah selesai maksibar, akhirnya saya dan teman-teman Diengers harus pamit sama mas Bidin, adek, Mieke, mbak Yuli dan Nanda. Kami harus segera naik kereta jam 4 ini.
Sementara Adek dan teman-teman yang lain akan stay dulu di Surabaya (kalo ga salah) karena mereka baru mendapatkan tiket untuk balik ke Jakarta 2 hari kemudian.
Liburan kali ini seru banget dan anti mainstream.
Makasih banyak untuk OurTrip1st yang udah bantu arrange trip kami kali ini. Jangan kapok ya……
 
 
 
 

2014 Diengers Goes to Bromo – #5 Di Malang Numpang Bobo Doang


courtesy by mas Ahmad


Beres basah-basahan di air terjun Madakaripura (teman-teman sih yang basah-basahan, saya ga ikutan :D), kami segera melanjutkan perjalanan, malam ini kami mau numpang bobo di Malang :D
Tapi…… sepertinya ada yang teriak-teriak ini… #pegangperut #koklaperya
Dan memang mas Bidin sangat pengertian, kami langsung diajak melipir ke RM. Rawon Nguling, di Jalan Zainal Arifin No. 62, Malang. Menurut informasi, ini adalah rawon kesukaannya ibu Megawati, mantan presiden kita. Oh iya, dari Madakaripura ke Malang ditempuh dalam 2-3 jam ya…. :D


minumnya yang nyantai aja masbro, jangan buru-buru :p
courtesy by Iyus

itu apa ya yang lagi ditunjukin sama mas Bidin???
courtesy by Iyus



Dan malam itu, akhirnya kami me-rawon nguling bareng sambil becandaan.

Hmm….. perut udah kenyang, mari kita kemon ke penginapan. “Mas Bidin, kita nginep di mana ya??? Udah berat nih matanya… “.


Naik lagi ke bis mini, trus bobo :D

Bis mini melanjutkan tugasnya menggelinding menuju penginapan (ssstttt… saya ga tau lewat mana aja itu jalannya dari Rawon Nguling, yang jelas, begitu buka mata, bis mini udah berhenti di halaman sebuah guesthouse).


Sekitar jam 11 malam, akhirnya kami tiba di depan Guest House Lily. Dari depan sih ga kelihatan seperti penginapan, karena bangunan guest house ini nyempil di antara pertokoan yang ada di komplek Pasar Besar Square. Bangunan serupa ruko dengan dominasi warna putih gading dan ungu ini berlantai 3, dengan 21 kamar yang memiliki kategori twin sharing, king size dan triple bed. Dan harga kamarnya pun cukup murah, untuk twin sharing harga per malamnya adalah Rp 150.000.



Guest House Lily, tempat kami menginap malam itu
courtesy by http://www.nunuelfasa.com/2014/08/lily-guest-house-harga-homstay.html


Dengan mata yang masih setengah merem, saya kemudian menggendong carrier ke arah pintu guest house. Menunggu mas Bidin yang sedang mengurus check-in nya kita. Kami diinformasikan bahwa kamarnya ada di lantai 2. Sesampainya di lantai 2, ada seorang bellboy yang sudah menunggu dan membagikan kunci kamar. Tadinya saya dan Windy kebagian kamar di lantai 2 ini, tapi tiba-tiba mbak Yuli dan Nanda nanya, kamar mereka yang mana? Ups!
Akhirnya saya dan Windy rembugan, gimana kalau kamar di lantai 2 ini dikasiin aja ke mbak Yuli, sementara saya dan Windy pindah ke kamar yang di lantai 3. Kasian juga kan mbak Yuli dan Nanda (yangg masih belum sehat itu kalau harus naik tangga ke lantai 3).
Windy setuju, dan akhirnya kami pindah ke kamar di lantai 3.



fasilitas LED TV di tiap kamar
courtesy by http://www.nunuelfasa.com/2014/08/lily-guest-house-harga-homstay.html



wastafel, shower dan toilet duduk
courtesy by http://www.nunuelfasa.com/2014/08/lily-guest-house-harga-homstay.html
ini kamar saya dan Windy, sebenarnya sih tadinya Windy mau saya suruh tidur di luar aja :p

Saya dan Windy kalau tidak salah mendapatkan kamar nomor 313, twin sharing di dekat tangga.
Nah… waktu pembagian kamar ini, ada insiden yang akhirnya bikin kita ketawa-ketawa pas tau ceritanya. Jadi…. waktu saya dikasi kunci kamar 313, saya dan Windy langsung masuk aja, udah ga ngeh dengan situasi yang lain. Karena saya lihat Iyus, mas Ahmad dan Ivan sepertinya sudah mendapatkan kamar persis di sebelah kamar kami. Aman lah ya…
Baru sampe kamar, trus rebahan di kasur, ngelurusin punggung, tiba-tiba pintu kamar saya diketok dari luar. Mas Bidin!
“Lho, ada apa mas?” tanya saya.
Ternyata ada kekeliruan di front desk mengenai pesanan kamar kami.
Seharusnya, kami mendapatkan 7 kamar termasuk kamarnya mas Bidin, ternyata… di front desk tercatatnya hanya 6 kamar. Dan hasilnya, ternyata…… mas Ahmad ga kebagian kamar :D
Akhirnya malam ini mas Ahmad buka 1 kamar lagi (ukurannya king size euy…) yang letaknya di sebelah kiri kamar saya dan Windy.
Trus mas Bidin bilang, untuk konfirmasi kamar yang sudah dipesan, besok pagi biar dia yang urusin dengan bagian front desk hotel. Yang penting malam ini semua bisa istirahat.



ini nih yang kebagian kamar king size, tapi denger-denger bobonya ngungsi ke kamar Iyus + Ivan ya? :p
courtesy by mas Ahmad


Waktu saya dan mas Bidin diskusi soal ini, ada yang lucu, Iyus dan Ivan ikut ngedengerin dengan mata yang udah 3/4 tertutup, kerudungan selimut putih. Setelah pulang, mereka saya tanya, waktu itu ngeh ga sih? Dan dua-duanya menjawab “Waktu itu kita udah ga ngeh lho kamu ngomong apa sama mas Bidin, udah ga kedengaran” wkwkwkwkkwkwk…..


Malam itu akhirnya bisa bobo enak, badannya lurus… rus… rus… nyenyaaaaaakkkkkk….
Dan paginya, saya bangun dengan badan yang jauh lebih segar.


Fasilitas di Guest House Lily:
– AC yang dingin banget (sempet dikecilin temperaturnya karena saya dan Windy kedinginan);
– TV LED;
– kamar mandi yang dilengkapi dengan shower, toilet duduk dan wastafel.


Selamat pagi Malang……… #sambilngulet

Karena malamnya saya sudah packing rapi, pagi itu abis mandi, saya hanya perlu memasukkan toiletries ke dalam carrier, dan siap turun ke lobi.
Eh tapi…… Windy blom beres nih, nungguin dulu bentar ya…..

Windy udah beres, kemudian kami turun ke lobi. Dan ternyata teman-teman yang lain udah pada siap di lobi. Malah mereka udah leyeh-leyeh di sofa nungguin saya dan Windy :D #nyengirlebar



tampang-tampang yang nungguin saya + Windy pagi itu :D
online teruuuuuuuusssss…….
courtesy by ma Ahmad
mukanya serius amit itu ngeliatin henponnya?
courtesy by mas Ahmad



“yang, aku masih mau ke Batu ya… oleh-olehnya nanti aja kalo nemu” :p
courtesy by mas Ahmad



Selesai urusan di front desk, termasuk konfirmasi masalah kamar mas Ahmad, akhirnya kami pun kembali menaiki si bis mini untuk menuju destinasi terakhir kami di trip Bromo ini. Tapi sebelumnya, kita sarapan dulu yaaaaaa…….. Lapeeeeeeeerrrrr…….



sarapan murah meriah di Pecel Kawi, enak…….. (pake bingits)



Pagi itu, di Malang, kami sarapan di Pecel Kawi yang terkenal itu. Nasi pecel + telor dan udang goreng jadi pilihan saya pagi itu, ditambah segelas teh manis hangat. Hmm….. yummy banget!!!


bersih! ga tau laper, apa doyan itu? :D
inget-inget Ndin….
RPM, body pump, body combat :p






















Udah kenyang, sekarang mari kita teruskan perjalanan….. let’s go to Batu. Ceritanya hari ini mau panen Apel (kapan nanemnya ya? :p) dan mengunjungi piaraan-piaraan di Museum Satwa yang ada di Batu. Hayuk ah kita kemon……