Tour De Belitung Timur #2 – Bukit Pangkuan

 
 
 
Tujuan pertama setelah rombongan Tour De Belitung Timur 2013 tiba di Belitung adalah Bukit Pangkuan. Ada apa di Bukit Pangkuan???
 
 
ini tour guide kami, namanya Robi
 
Bis orange yang saya naiki perlahan mulai menggelindingkan roda bundarnya di atas hitamnya aspal parkiran bandara H. A. S. Hanandjoeddin Tanjung Pandan. Karena ini rombongan resmi as a special guest of Disbudpar Kabupaten Belitung Timur, di dalam bus ada beberapa guide yang dengan detil menceritakan apa saja yang dilewati selama perjalanan. Guide di bis yang saya tumpangi bernama Robi, yang di akhir rangkaian acara baru saya tahu bahwa Robi juga adalah seorang pemilik Trip Organizer di Belitung Timur.
Dengan sabar Robi menjelaskan desa apa saja yang kami lewati, apa yang menjadi ciri khas dari setiap desa, apa mata pencaharian dari mayoritas masyarakatnya dan berbagai informasi detil lainnya.
Perjalanan menuju Bukit Pangkuan sangat lancar. Ga macet seperti di Jakarta.
Di kanan dan kiri jalan terlihat alam yang masih hijau, pemukiman warga pun terlihat tidak begitu padat. Jalanan beraspal hitam terlihat lengang, hanya 1, 2 kendaraan yang melintas, sungguh beda dengan Jakarta ya :D
 
jus rumput laut
 
Oh iya, sebelum berangkat tadi, di bis kami disuguhi minuman olahan dari rumput laut yang diproduksi di Belitung Timur. Yummy deh…
Di siang yang begitu panas, dapat suguhan minuman dingin yang manis, rasanya……… hmm… sluuuurrrrppppp…..
  
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, dari Kota Tanjung Pandan ke Desa Mentawak Kelapa Kampit, akhirnya kami tiba di Bukit Pangkuan.
Di hadapan kami terbentang dataran tinggi dengan pohon-pohonnya yang rindang, di beberapa sudut terlihat pondok-pondok kayu yang teduh. Beberapa permainan outdoor juga ada di situ, seperti flying fox, ATV, high ropes dan lain-lain.
Menurut itinerary, kami akan menikmati makan siang di Bukit Pangkuan ini.
 
  
berkumpul, kenalan, dapet cerita tentang Bukit Pangkuan
 
Dan jadi lah siang itu, sambil berkumpul di lantai 2 pondok kayu yang ukurannya paling besar, kami saling memperkenalkan diri, mas Santos sebagai koordinator dari Jakarta menyampaikan bebrapa kalimat pengantar, kemudian kami mendengarkan cerita dari seorang bapak yang menjadi pengelola agrowisata Bukit Pangkuan. Acara ditutup dengan makan siang bersama sambil menikmati semilir angin yang sejuk, yang bikin mata saya kriyep-kriyep dan ingin segera merem :D
 
  
di Jakarta, mana bisa liat langit yang biru kayak gini…
Penasaran ga dengan pemandangan di Bukit Pangkuan? Nih beberapa fotonya.
Dengan langit berwarna biru terang, ditaburi beberapa gumpalan awan putih, pohon-pohon menghijau terhampar, rerumputan, dan hembusan angin semilir, suasana di Bukit Pangkuan sungguh menggoda untuk berlama-lama dinikmati.
Terbayang, saya bisa memasang hammock di antara 2 batang pohon besar, kemudian merebahkan tubuh di atasnya, berayun mengikuti angin yang bertiup sambil memejamkan mata. Pasti asyik banget ya…
 
tuh… ada danaunya juga nun jauh di sana
Untuk sementara, bisa deh lupa dengan setumpuk do to list yang tertempel di dinding cubicle. Mari kita nikmati suasana di Bukit Pangkuan.
 
pasang hammock di sini asyik nih kayaknya ^.*
Saya ingin bercerita sedikit mengenai Bukit Pangkuan. Bukit Pangkuan merupakan sebuah kawasan agrowisata yang terletak di Desa mentawak Kelapa Kampit, Belitung Timur, dengan luas sekitar 120 hektar. Penggagas berdirinya kawasan agrowisata ini adalah bapak H. Usmandie Andeska. Kawasan agrowisata Bukit Pangkuan dibuka secara resmi pada bulan Juni 2013. Menurut pengelolanya, ke depannya Bukit Pangkuan diharapkan akan menjadi obyek wisata alternatif bagi turis lokal, domestik dan manca negara yang datang ke Belitung Timur. Dan pengelola akan melengkapinya dengan berbagai fasilitas penunjang seperti kolam renang, kolam pemancingan, wahana permainan air, cottages, toilet, paint ball, camping ground dan wahana permainan untuk anak-anak.
 
salah satu sudut kawasan agrowisata Bukit Pangkuan
Nah, jadi nanti kalau kita berkunjung ke Belitung, boleh deh sekalian singgah ke kawasan agrowisata Bukit Pangkuan ini. Pasti menyenangkan!
jalan setapak dari beton menjadi jalur utama di tengah kawasan agrowisata Bukit Pangkuan
mari kita berwisata…
pemandangan dari atas pondok kayu utama di Bukit Pangkuan
Perjalanan belum usai lho….
Masih banyak destinasi menarik lainnya ^.*


 
 
 
 

Tour De Belitung Timur 2013 #1 – Let’s Go to Belitung Timur


Email dari mas Santos siang ini membuat saya tersentak. Tour De Belitung Timur Gratis!!!
Ya ampun… teringat utang tulisan perjalanan Tour De Belitung Timur setahun yang lalu… Apa kabar ini janji dengan Disbudpar Beltim untuk mempromosikan pariwisata di sana??? #toyorkepalasendiri
Ok, saya mau cerita deh pengalaman setahun yang lalu, waktu jadi peserta Tour De Belitung Timur, jalan-jalan gratis ke kabupaten yang dulu dikepalai oleh pak Ahok :D

Awalnya saya (iseng) mengikuti milis Jejakkaki (dan tentunya sebagai anggota pasif ya…. :D), hingga pada suatu siang, pas ngecek inbox, mata ini melihat 1 buah email dengan judul TOUR BELITUNG TIMUR 2013 BIAYA FREE/GRATIS.
Langsung ya… karena ada embel-embel kata FREE/GRATIS, saya mencermati email tersebut. Tapi tetap aja saya ga langsung me-reply email untuk melakukan pendaftaran. Email itu sempat saya diamkan selama 2 hari setelah saya baca. Baru 2 hari kemudian saya me-reply email tersebut dan mendaftar.

Dan 5 hari kemudian saya mendapatkan email konfirmasi bahwa saya terpilih sebagai peserta Tour De Belitung Timur 2013. Dan tentunya GRATIS!!! Saya hanya mengeluarkan modal tiket pesawat Jakarta – Tanjung Pandan pp + airport tax.
2 hari setelah konfirmasi, saya kemudian menerima itinerary + ticket booking. Yeaaayyyy… Belitung Timur, i’m coming…..
siap jalan-jalan ke Belitung Timur

4 hari kemudian, saya sudah standby dengan manisnya di Bandara Soetta sejak jam 6 pagi :D
Menurut email, seluruh peserta Tour De Belitung Timur 2013 harus sudah siap di Terminal 1B Bandara Soetta pada jam 7 pagi. Cuma ya… tau sendiri deh… saya itu orangnya sangat excited kalau bicara tentang perjalanan. Jadi sedari pagi saya sudah standby di depan pintu keberangkatan Terminal 1B sejak jam 6 :D #blushing #tutupmuka
Sempat celingukan, lihat kanan kiri, siapa tahu nemu teman seperjalanan.
Jam 06.22 tiba-tiba ada message yang masuk ke HP “Pagi, semua peserta, harap ambil boarding pass di saya. Saya tunggu di depan pojok luar counter Sriwijaya. Saya pakai kaos merah. – Santos Jejak Kaki –“
Saya bergegas meninggalkan pojok counter makanan cepat saji, tempat saya nongkrong sedari jam 6 tadi. Berjalan menuju lokasi sesuai arahan di message tadi.

Di pojok counter Sriwijaya, saya melihat seorang pemuda (kalau dibilang seorang bapak, kelihatannya udah berumur banget nantinya :D #pissmasSantos) berkaos merah sedang membagi-bagikan bag tag sebagai penanda carrier dan koper peserta tour.
Saya dekati sambil bertanya, “Mas Santos? Kenalkan, saya Evy”, sambil saya mengulurkan tangan.
“Oh iya, Santos” sahutnya sambil menjabat tangan saya.
“Sudah dapat bag tag? Boarding pass?” tanyanya lagi.
Saya hanya menggeleng.
Kemudian terulur 2 helai bag tag dan selembar boarding pass atas nama saya setelah mas Santos mengecek list peserta.
Saya melipir ke pinggir, menuliskan nama pada bag tag, dan kemudian mengikatkannya ke carrier merah yang saya bawa. Dan selanjutnya, carrier merah pun saya geser ke arah tumpukan carrier dan koper peserta di dekat situ.

Belitung Timur, i’m coming………

Untuk peserta yang sudah mengumpulkan bagasi dan mendapatkan boarding pass, kemudian dipersilakan langsung menuju ruang tunggu. Saya pun melenggang dengan mencangklong tas kamera pink di pundak.
Suasana ruang tunggu pagi itu tidak seberapa padat, normal lah menurut saya.
Menunggu waktu keberangkatan flight pada pukul 08.35 wib, saya menyempatkan untuk membaca itinerary dan beberapa catatan mengenai Belitung Timur yang telah saya kumpulkan dari Internet.
Ga terasa, tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa penumpang penerbangan SJ056 rute Jakarta – Tanjung Pandan harus segera boarding, naik ke pesawat.
Hup! Yuk kita berangkat! Bismillah…..








Di pesawat, saya kebagian aisle seat, nomornya lupa :D
Di sebelah saya, duduk seorang wanita muda, peserta trip juga, dan di ujung, window seat duduk seorang lelaki muda, dan juga peserta trip ini :D
Maaf ya mbak dan mas, di pesawat kita ga sempet kenalan, karena mata ini ternyata sangat beraaaaaattttt…. (dan saya dengan sukses, pules les les selama penerbangan) :D
Sadar-sadarnya, ketika terdengar suara pramugari yang memberitahukan bahwa pesawat akan segera mendarat. Owemji, jadi saya tertidur sepanjang 1 jam dari Jakarta – Tanjung Pandan??? Ahahahahahahaha…… ngantuk beeeeuuuuddddhhhhh…..

disambut oleh pihak Disbudpar Kabupaten Belitung Timur secara resmi
Turun dari pesawat, ternyata rombongan dari Disbudpar Kabupaten Belitung Timur sudah menjemput di landasan. Aaaiiiihhh… serasa pejabat yaaaa…. hihihihihi…
Kami kemudian masing-masing mendapatkan setangkai bunga mawar dari Bujang dan Dayang Kabupaten Belitung Timur.
Kalau tadi awalnya kami tidak dan belum saling kenal sesama peserta, begitu sampai di Belitung Timur, turun dari pesawat, disambut oleh rombongan Disbudpar Beltim, diberi setangkai bunga mawar, dan kemudian foto bareng, selanjutnya yang terjadi adalah ajang narsis semua peserta.
Mendadak semua akrab, dengan senyum lebar terpasang di wajah semua peserta, walaupun setelah itu masing-masing mengerenyitkan kening karena panasnya cuaca pada pagi menjelang siang hari itu.
dapat bunga mawar :D

Kami kemudian digiring… ah, kok jadi kayak sapi, digiring :D
Kami diarahkan ke lapangan parkir, di mana sudah ada 2 bis besar yang menunggu, si Merah dan si Orange.
Saya kebagian di bis orange, duduk bersebelahan dengan mbak Dani, yang ternyata seorang psikolog.
Destinasi pertama begitu kami tiba di pulau Belitung adalah Bukit Pangkuan.
Ada apa di Bukit pangkuan? Yuk kita lihat….!!!














Akhir Pekan di Museum Nasional – Ribut-ribut si Bumbung dan si Coak



akhir pekan @Museum Nasional

Mencoba untuk mengisi waktu luang di penghujung Minggu setiap bulannya, ini kali kedua saya menonton aksi Teater Koma di Museum Nasional dalam aktivitas yang dikemas dengan judul “Akhir Pekan @Museum Nasional”. Setelah bulan lalu saya menonton pertunjukan Wayang Tavip: Kalijaga, Si Berandal Lokajaya yang ceritanya bagaikan kisah Robinhood tapi ala Indonesia, kali ini Pentas Teater Koma pada Hari Minggu, 24 Agustus 2014 kemarin mengambil judul “Ribut-ribut si Bumbung dan si Coak”.


Pagi menjelang siang itu saya mengambil jam pertunjukan ke-2, yang dimulai pukul 10.00 wib. Saya tiba di Museum Nasional sekitar 20 menit sebelum pertunjukan ke-2 dimulai. Pertunjukan pertama baru saja berakhir. Lokasi pertunjukannya sendiri terletak di area terbuka di belakang taman yang terdapat di dalam Museum Nasional. Terlihat para penonton pertunjukan pertama masih duduk-duduk lesehan, mengisi kuesioner yang dibagikan oleh pihak Museum Nasional.






Setelah membayar tiket masuk museum seharga Rp 5.000,00 saya segera beranjak ke booth khusus panitia pertunjukan Teater Koma. Mengisi daftar hadir pengunjung dan saya kemudian menerima selembar kuesioner dari pihak museum.


Saya segera menuju ke lokasi pertunjukan, dengan tujuan mendapatkan tempat duduk yang paling nyaman untuk melihat pertunjukan “Ribut-ribut si Bumbung dan si Coak”. Dan tepat jam 10.00 pagi, mbak pembawa acara membuka pertunjukan ke-2.

si Bumbung dan si Coak

Pertunjukan dibuka dengan hadirnya seorang penjaga museum dan 2 buah meriam. Alkisah, di dalam ruang pajang sebuah museum, terdapat lah 2 meriam yang diletakkan berdampingan, yaitu meriam si Bumbung dan meriam si Coak. Si Bumbung, meriam bawel dengan tubuh hitam gempal yang selalu membanggakan dirinya adalah made in luar negeri”. Berpapikan (katanya) meriam si Jagur dan bermamikan meriam Nyai Setomi. Sebagai meriam yang berasal dari Portugis, di bagian belakang tubuhnya terdapat cap “San-Thome” yang menurut informasi meriam tersebut dibuat di pabrik Santo Thomas, sebuah kota jajahan Portugis di India yang sekarang bernama Madras.


Sementara Si Coak, adalah meriam bertubuh hitam kerempeng, yang selalu nerimo dengan perkataan “Aku rapopo” mempunyai bolongan/coak di punggungnya yang kemudian menjadi nama panggilannya. Coak adalah meriam yang diberikan oleh Kerajaan Ottoman Turki.


sepasang turis yang mengunjungi si Bumbung dan si Coak


Tampak adegan sepasang turis yang sedang mengamati si Bumbung dan si Coak. Turis wanita tampaknya sedang berkeinginan untuk memiliki anak, terlihat dari gayanya yang mengusap-usap si Bumbung dan kemudian mengusap perutnya sendiri. Si Bumbung dipercaya memiliki keistimewaan, yang mana apabila ada pasangan yang ingin memiliki keturunan harus mengusap-usapnya dan kemudian mengusap perut pasangan wanitanya. Konon kabarnya, apabila hal itu dilakukan, sang wanita akan segera mengandung. Sepasang turis itu kemudian mengambil beberapa scene foto dan kemudian meninggalkan ruangan museum.


Bumbung dan Coak saling menceritakan kehebatannya
ahahahahahahahaha…… meriam bisa main kuda-kudaan juga ternyata :D
ekspresi Bumbung dan Coak


Adegan kemudian dilanjutkan dengan saling berceritanya Si Bumbung dan Si Coak tentang kehebatannya masing-masing. Si Bumbung yang ngotot, kadang harus gigit jari karena keki, dipatahkan argumennya oleh Si Coak. Hingga pada suatu ketika, penjaga museum mendorong sebuah meriam cantik, dengan lekuk tubuh yang aduhai ke dalam ruangan. Meriam itu adalah meriam Lela. Diletakkan di pojok yang berbeda dengan si Bumbung dan si Coak, si Lela menjadi pemandangan yang tidak biasa di dalam ruang pajang museum tersebut. Lela adalah meriam asli Indonesia dengan berbagai ukiran cantik yang membalut sekujur tubuhnya. Sebelum diletakkan di ruang pajang, meriam Lela hanya tersimpan di dalam gudang museum.



penjaga museum membawa meriam Lela ke dalam ruangan
penjaga museum memposisikan meriam Lela
inilah meriam Lela yang cantik

Kehadiran Lela ternyata menarik perhatian Bumbung dan Coak. Dan masing-masing pun berusaha untuk menarik perhatian Lela dengan caranya sendiri-sendiri. Akhirnya, karena Bumbung dan Coak tak henti berselisih, Lela pun membuat sebuah permainan kecil. Bumbung dan Coak harus menceritakan tentang dirinya secara detil, asal dari mana, riwayatnya dan informasi detil lainnya. Bumbung dengan bangganya menyebut dirinya ber”darah biru” dan “made in luar negeri” dan Coak dengan slogan “Aku rapopo”nya. 



si Coak, si Lela dan si Bumbung

si Coak bercerita tentang asal-usulnya



Persaingan siapa yang paling hebat di antara Bumbung dan Coak menimbulkan suara gaduh di dalam ruangan museum, yang akhirnya terdengar sampai ke telinga penjaga museum. Dan penjaga museum pun masuk ke dalam ruangan untuk melihat apa yang terjadi. Alangkah terkejutnya penjaga museum, melihat ke-3 meriam tersebut telah berpindah posisi.



oh my God, what happened with those cannons? Bumbung, Coak dan Lela berpindah posisi



gaya meriam yang sangat aneh :p



Dan di akhir permainan, Lela meminta Bumbung dan Coak untuk adu nyaring suara yang bisa dikeluarkan dari mulut meriam masing-masing. Bumbung dan Coak kemudian bersiap-siap, mengumpulkan tenaga untuk mengeluarkan suara yang paling kencang. Bagaimana hasilnya???


adu kencang-kencangan suara meriam
Keributan di dalam ruang pajang museum tersebut ditutup dengan kaburnya Bumbung, Coak dan Lela. Yang menyisakan kebingungan dan sakit kepala bagi mas dan mbak penjaga museum. Gimana ceritanya, meriam-meriam dengan berat beron-ton itu bisa hilang tanpa ketahuan dari ruangan museum???


gimana caranya 3 meriam bisa hilang dalam waktu yang bersamaan???


antusias pengunjung menunggu pertunjukan ke-3

Pertunjukan pagi menjelang siang hari itu bagi saya cukup menghibur. Pelajaran mengenai sejarah yang dikemas dalam sebuah pertunjukan teatrikal dengan menyelipkan unsur-unsur humor menjadi mudah diterima. Tidak membosankan layaknya membaca sebuah buku yang warna halamannya pun sudah menguning dimakan usia.













hiburan alternatif untuk semua usia

Selepas pertunjukan, saya sempatkan melihat sekeling museum. Dan kali ini ternyata pengunjung yang akan menyaksikan pertunjukan ke-3 (pukul 11.00 wib) saya lihat cukup ramai. Antusias masyarakat mendapatkan hiburan alternatif sekalian belajar sejarah negeri cukup besar. Dari segala usia ada di situ. Mulai anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua, saya lihat semua dengan sabar menunggu waktu pertunjukan ke-3 dimulai.











Oh iya, setiap selesai pertunjukan dan mengumpulkan kuesioner yang diberikan oleh pihak penyelenggara, penonton akan mendapatkan sebuah pin sebagai suvenir. Dan ini adalah pin ke-2 saya ^.*
Ga sabar rasanya menunggu jadual pertunjukan Teater Koma untuk bulan September. Bulan depan, kira-kira pertunjukannya akan bercerita tentang apa ya???


suvenir cantik untuk tiap pengunjung (ini pin ke-2 yang saya dapatkan)


Dan ini lah tim dari Teater Koma yang menampilkan pentas “Ribut-ribut si Bumbung dan si Coak”.


tim Teater Koma