Tour De Belitung Timur 2013 #6 – Pantai Burung Mandi




Setelah foto-foto dan menikmati sore di Danau Mangpayak, saya dan teman-teman kembali menaiki kendaraan menuju destinasi selanjutnya.
Destinasi selanjutnya tidak terlalu jauh dari Danau Mangpayak, tapi kali ini saya benar-benar ketemu pantai. Ya… Pantai Burung Mandi.
Pantai ini berlokasi di Desa Burung Mandi, Kecamatan Damar, Belitung Timur.
Dari Kota Manggar jaraknya sekitar 20 km dan dari pusat Kota Tanjung Pandan jaraknya sekitar 90 km. Ga terlalu jauh kan?


langit senja, pasir putih, perahu Kater

Seperti pantai-pantai di yang ada di Pulau Sumatera pada umumnya, Pantai Burung Mandi ini pun memiliki hamparan pasir putih dengan butirannya yang terasa halus di kaki.
Pantai ini sangat landai, sehingga nyaman untuk disusuri di sore itu.
Riak gelombang yang datang membelai sang bibir pantai hanya lah riak-riak kecil, yang memberikan sedikit suara berkecipak.
Di sepanjang pantai terlihat pohon-pohon pinus berdiri dengan rapinya. Yang melengkapi indahnya pemandangan yang tertangkap oleh mata. Dan pohon-pohon pinus itu pun berfungsi sebagai tempat berteduh untuk menghindari panasnya sinar matahari yang menyengat.


suasana senja di Pantai Burung Mandi


Langit senja hari itu berwarna biru pucat dengan semburat jingga yang mulai pudar, seiring semakin rendahnya sang surya di ujung Barat. Beberapa gumpalan awan putih terlihat berarak di langit yang pucat.
Angin bertiup perlahan, membelai daun-daun pohon pinus sehingga menimbulkan suara-suara yang khas.
Sementara itu, di sepanjang pantai berjejer perahu-perahu tradisional Belitung yang disebut Perahu Kater denga warnanya yang semarak.
Berderet-deret Perahu Kater warna-warni, hijau, kuning, merah, biru, coklat, orange, dan sebagainya memenuhi sisi pantai.


Teman-teman dari Jakarta tentunya ga menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan obyek foto cantik dong…
Ga perlu nunggu instruksi, langsung aja mereka mencari perahu yang paling cantik warnanya, pasang gaya dan…. taaadaaaa….. seperti biasa, narsis :D


ayo, dipilih….. dipilih….


its name is MARATON


Di sisi Barat pantai, menjorok ke tengah laut, sebuah Perahu kater terlihat terombang-ambing dipermainkan ombak. Seutas tali tambang panjang terlihat menjulur dan terikat di sebuah tonggak kayu sebagai pengamannya agar tidak hanyut terbawa gelombang.
Dengan latar belakang langit senja berwarna biru kekuningan, kecipak suara gelombang yang menghempas bibir pantai, dan gemulainya gerak perahu mengikuti alunan gelombang, sungguh lukisan alam sangat cantik.
Saya menikmati semuanya sambil menghirup perlahan udara laut yang segar dengan baunya yang khas.
Ah….. I Love You, Indonesia. More and more!!!
mau bilang apa kalo liat yang seperti ini?
sendiri, di senja itu
Ssstttt… setelah dari Pantai Burung Mandi ini, masih ada 1 destinasi lagi yang akan saya kunjungi sebelum malam tiba.
Yuk, ikuti saya, kita akan mengunjungi Vihara Dewi Kwan Im yang legendaris itu.





Tour De Belitung Timur 2013 #5 – Danau Mangpayak a.k.a Danau Mempaya





Setelah perut kenyang menyantap mie Belitung di RM Manlie, perjalanan Tour De Belitung Timur 2013 dilanjutkan menuju Danau Mangpayak a.k.a Danau Mempaya.
Danau Mangpayak terletak di Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur.
Danau ini bukan lah seperti danau pada umumnya yang terbentuk secara alami. Danau Mangpayak merupakan lubang bekas galian tambang timah yang sangat luas, dan tidak digunakan lagi. Karena lubang bekas galian ini sangat besar dan luas, serta struktur tanahnya yang mengandung Kaolin, air yang menggenangi lubang bekas tambang ini tidak pernah bisa kering, walaupun pada musim kemarau panjang. Oleh masyarakat setempat, danau ini disebut “Kolong”, yang artinya lubang bekas tambang galian Timah yang sengaja dibiarkan terbuka tanpa reklamasi.


Saya dan rombongan tiba di Danau Mangpayak di sore menjelang petang hari itu.
Suasana di danau sangat tenang. Air danau hanya beriak kecil karena angin yang berhembus pelan.
Langit sangat biru, namun sore itu gumpalan awan putih terlihat sedikit meggulung, seperti kumpulan kapas putih.
Di kejauhan, di seberang danau, terlihat sebuah gunung, yaitu Gunung Burung Mandi yang berdiri dengan gagahnya.
Walaupun air di danau terlihat tenang dihiasi dengan riak kecil, namun di Danau Mangpayak ini tidak boleh melakukan kegiatan berenang. Kenapa?
Itu karena kedalaman danau ini mencapai +/- 40 meter.


Danau Mangpayak dengan latar belakang Gunung Burung Mandi


Akses menuju Danau Mangpayak ga sulit kok.
Danau ini hanya berjarak sekitar 50 km dari pusat Kota Tanjung Pandan.
Atau, apabila kita menggunakan ojek dari pusat Kota Manggar, kita hanya membayar Rp 5.000 s/d Rp 10.000 saja. Murah kan?


Di danau ini saya hanya mengambil beberapa foto.
Dari jembatan kayu sederhana yang ada di pinggir danau, terlihat tulisan DANAU MANGPAYAK yang sudah tidak utuh. Tulisan itu dibuat beberapa waktu sebelum acara Tour De Belitung Timur 2013, pada saat diselenggarakannya acara pemilihan Bujang dan Dayang Belitung Timur 2013.


Setelah mendapatkan beberapa foto, saya hanya berdiri menikmati hembusan angin yang membawa bau khas air.
Suasana danau yang tenang, ditingkahi dengan riuhnya suara dari teman-teman peserta Tour De Belitung Timur 2013 yang sibuk untuk berfoto.
Ah, saya suka suasana ini.


sore itu, langit biru berhiaskan gumpalan awan yang cantik

Setelah dari Danau Mangpayak, saya akan dibawa ke mana lagi ya oleh panitia Tour De Belitung Timur 2013?
Destinasi seperti apa yang akan saya temui selanjutnya?




Tour De Belitung Timur 2013 #4 – Mie Belitung Manlie




Setelah dari Open Pit, perjalanan dilanjutkan untuk mencicipi makanan khas Belitung.
Yup! Saya dan teman-teman akan mencicipi mie Belitung yang terkenal di Belitung Timur, yaitu Mie Belitung Manlie.


RM. Manlie terletak di Jalan Pasar, Kecamatan Kelapa Kampit, Belitung Timur.
Rumah makan ini menyediakan hidangan khas Belitung seperti mie Belitung, Kepiting goreng dan nasi campur (ayam, udang, sayur, dan lain-lain).
Harga makanan yang dijual di RM Manlie juga sangat murah, berkisar antara Rp 10.000 – Rp 25.000.
RM Manlie buka pada pukul 06.00 wib dan tutup pada pukul 21.00 wib.
Dan di siang menjelang sore hari itu, saya dan rombongan Tour De Belitung Timur 2013 akan mencicipi mie Belitung yang terkenal itu #ngeces
mie Belitung RM. Manlie

Sekilas, apabila dilihat dari luar, RM Manlie hanya seperti toko kelontong.
Dengan selembar banner lusuh berwarna kuning muda yang sudah semakin memudar warnanya tergantung di bumbungan depan bangunan, bertuliskan RM MANLIE dengan beberapa menu yang tersedia di sana.
Di bagian depan terdapat 2 buah meja kayu di kanan dan kiri pintunya.
Di atas meja tersebut terdapat beberapa makanan kecil khas Belitung, seperti kerupuk ikan, getas, terasi, dodol ketan dan madu.



Saya memasuki RM Manlie dan diantar ke bagian dalam rumah makan, menuju ruangan dengan beberapa meja yang sudah diatur sedemikian rupa.
Kursi-kursi plastik terlihat mengelilingi sisi setiap meja.
Saya kebagian 1 meja dengan mbak Dani, Retno dan ibunya, mbak Dewi, mbak Sye Ing dan beberapa ibu-ibu yang belum saya kenal namanya.


Tidak menunggu lama setelah saya duduk, sepiring mie Belitung yang masih mengepulkan uap dengan aroma khasnya teah terhidang di atas meja.
Mie Belitung adalah hidangan mie kuning dengan kuahnya yang sedikit kental berwarna agak keruh.
Kuahnya merupakan kuah kaldu udang yang menjadi campurannya.
Pelengkap kuah mie Belitung adalah tahu yang dipotong berbentuk dadu, irisan timun dan taburan emping melinjo.
Sluuuurrrrpppp…… saya mencoba mencicipi kuah mie Belitung yang masih cukup panas…
Hmm….. yummy….. enak….. #acungjempolkanankiri


es Jeruk Konci

Seperti biasa, yang akan menemani saya menyantap sepiring mie Belitung ini adalah segelas es Jeruk Konci.
Jeruk Konci merupakan jeruk manis khas Belitung.
Dan siang menjelang sore hari itu, sajian ini adalah yang terlezat.

(saya makan dulu yaaaa………)


Nanti saya cerita lagi destinasi selanjutnya dari Tour De Belitung Timur 2013 ini…
#dadahdadahdariRMManlie




Tour De Belitung Timur 2013 #3 – Open Pit




Setelah dari Bukit Pangkuan, kami meneruskan perjalanan menuju destinasi selanjutnya. Untuk Tour De Belitung Timur 2013 ini, destinasinya unik-unik lho, ga biasa seperti trip-trip pada umumnya. Hal itu pula yang menjadi alasan saya hingga akhirnya me-reply email dan ikut mendaftar. Destinasi selanjutnya yang dikunjungi peserta Tour De Belitung Timur 2013 adalah Open Pit. Nah…. pasti bertanya-tanya, apa itu Open Pit?


kawasan Open Pit yang sekarang terabaikan

Jadi gini…
Open Pit itu adalah suatu kawasan yang merupakan bekas lokasi penambangan timah yang terletak di Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur. Dulu, tempat ini merupakan lokasi penambangan timah terbesar yang ada di Belitung. Digunakan oleh perusahaan asal Australia BHP Billiton (Billiton adalah nama internasional untuk Belitung) pada tahun 1971-1985. Selanjutnya penggunaan lokasi beralih kepada perusahaan asal Jerman, Preussag GmbH of Hannover sampai akhir tahun 1989.


Lokasi ini sebenarnya cukup unik, karena terletak di puncak sebuah bukit yang bernama Gunong Kik Karak. Namun, karena bukit ini menyimpan potensi cadangan timah yang sangat besar di dalamnya, maka perusahaan tersebut membuat sebuah galian raksasa berbentuk kawah tepat di puncaknya. Di lokasi ini banyak terdapat gua-gua bekas penambangan, namun dengan alasan keamanan, saat ini gua-gua tersebut sudah ditutup dan dilarang untuk dimasuki oleh pengunjung.
Masih ingat dengan film terkenal Laskar Pelangi? Nah… di film Laskar Pelangi itu ada background mengenai kejayaan penambangan timah di Belitung kan? Ini lah salah satu lokasinya.


danau bekas penambangan timah, seperti telaga warna ya…

Di lokasi ini juga terdapat banyak kawah-kawah dengan ukuran yang cukup besar dengan air yang berwarna gradasi hijau kebiruan.
Sebenarnya, Open Pit bukan lah lokasi wisata, tetapi tempat ini sangat menarik untuk dijadikan sebagai obyek foto. Untuk teman-teman yang hobi dan menggeluti dunia fotografi, coba deh pas ke Belitung, singgah di Open Pit, banyak spot-spot menarik untuk diabadikan melalui lensa kamera.
si Orange hanya bisa menunggu di sini,
selanjutnya mari kita melatih otot kaki dan betis :D

Sekilas saya ceritakan bagaimana suasana di Open Pit.
Untuk mencapai lokasi bekas penambangan timah, dari kendaraan, saya dan teman-teman harus berjalan kaki menyusuri jalanan tanah yang sedikit menanjak sekitar 20-30 menit tergantung kecepatan kaki masing-masing.
Hamparan dataran yang luas, dengan tanah yang sedikit berbatu, perdu dan pohon-pohon kecil terdapat di kanan dan kiri jalan. Jalanan tanah itu sedikit menanjak, membuat napas saya dan teman-teman cukup berkejaran, terengah-engah. Ditambah waktu itu cuaca pas tengah hari, kebayang ya gimana panasnya?
Oh iya, jangan lupa untuk membawa air minum, payung atau topi ya….
Karena, beneran… panas banget untuk mencapai lokasinya.


tanah berpasir dan berbatu, tandus


Setelah berjalan kaki sekitar 20-30 menit, dengan medan dataran tanah yang sedikit menanjak, saya dan teman-teman akhirnya tiba di bibir sebuah danau dengan airnya yang berwarna gradasi hijau kebiruan.
Di kanan kiri lokasi, masih banyak terdapat pepohonan yang tumbuh di pinggiran tebing dan dataran yang lebih tinggi. Tanaman perdu juga banyak tumbuh di sekitarnya.
Berdiri di tengah dataran terbuka, dengan langit biru terbentang luas dihiasi beberapa gumpalan awan putih yang cantik. Di kejauhan terlihat beberapa danau bekas penambangan timah dengan kilauan airnya yang berwarna hijau kebiruan. Diselingi dengan semilirnya hembusan angin, membuat saya terkesima.


di kanan kiri jalan, pemandangan seperti ini yang terlihat


Walaupun saat itu cuaca sangat panas menurut saya, tapi dengan adanya semilir angin yang bertiup, bisa mengurangi panasnya sinar matahari. Dan anginnya lumayan sejuk lho di sana… Pokoknya suasananya ciamik deh…


stoven

Oh iya, di daerah Open Pit ada sebuah bangunan seperti menara yang sangat tinggi. Itu adalah stoven, bangunan yang dulu digunakan sebagai tungku untuk mengolah timah mentah hasil penambangan menjadi bijih timah yang akan dijual.

Saat ini stoven sudah tidak digunakan lagi seiring dengan mulai berkurang dan ditutupnya lokasi penambangan timah di seputaran Belitung. Dan stoven menjadi sebuah tugu mati yang berdiri tegak di tengah dataran tandus dengan rumput-rumput yang mulai berkurang warna hijaunya. Berdiri menantang langit biru. Seolah-olah ingin berkata “Ini lah aku, bangunan yang dulu sangat berguna, sekarang hanya berdiri kaku dan bisu di padang ini”.

Sampai saat ini, stoven masih berdiri tegak dengan gagahnya di tengah padang rumput yang mulai menguning warnanya. Guratan-guratan kehitaman menghiasi hampir seluruh permukaannya. Beberapa tanaman perdu yang cukup tinggi terlihat tumbuh cukup rapat di sekitarnya. Berdiri, sendiri, menjadi bukti sejarah betapa jayanya timah di Belitung pada masa lalu.

Setelah mengambil beberapa scene foto, saya dan teman-teman kemudian kembali ke lokasi di mana bis-bis kami diparkir. Perjalan hari ini belum selesai. Masih banyak destinasi yang akan kami kunjungi dalam rangka Tour De Belitung Timur 2013 ini.

Masih ingin tahu kan, kami akan ke mana aja?

sebelum meninggalkan lokasi Open Pit mari kita narsis dulu….