Menjenguk Ujung Barat Indonesia #4 – Yuk, Muter-Muter Lagi di Banda Aceh



Minggu, 27 Oktober 2013
Very excited mo ngejar sunrise di Sumur Tiga, yang katanya paling keren se-Sabang (hasil ngotot ke leader kemaren malem), bikin gw jam 3 subuh udah buka mata dan langsung ngacir ke kamar mandi.
Beres mandi, ganti baju, ceki-ceki lagi carrier, tas kamera, tripod, gear snorkeling. Trus bangunin Liany.
Jam ½ 5 kami udah siap di resto Iboih Inn.
Direction dari leader “Semua jalan kaki ke drop point di Pantai Iboih, dan barang-barang akan dibawa pake boat”.
Wokeh, mari kita cari keringat subuh ini.
Sekitar 10 menit jalan ke arah drop point, nungguin teman-teman yang tadi blom ngumpul, gw subuhan dulu.
Jam 5 lewat 10 menit, akhirnya perjalanan mengejar sunrise di Sumur Tiga dimulai.
Pantai Sumur Tiga pagi itu


Kota Sabang masih gelap waktu ke-3 mobil mulai iring-iringan meninggalkan Pantai Iboih, yang udah jadi rumah gw dan teman-teman selama 2 hari kemarin.

Menyusuri jalanan kota yang lengang, berkelok-kelok, turun naik, akhirnya gw sampe di Pantai Sumur Tiga.
Semburat jingga keemasan udah mulai keliatan dari sela-sela pohon kelapa yang banyak tumbuh di sepanjang pantai.
Untuk mencapai bibir pantai, gw harus menuruni semacam anak tangga dari batu, baru sampe di pantai berpasir putih halus.
Sebatang pohon kelapa tua tergeletak melintang di tepian pantai berpasir.
Riak kecil gelombang sesekali menyapa tepian pantai.
Di ujung Timur, terlihat awan putih bergulung, menyatu dengan langit yang masih gelap.
Semburat warna jingga keemasan mulai menyeruak dari sela-sela awan putih yang mulai pecah.
Suasana pagi itu begitu tenang, hanya ada kecipak suara gelombang kecil yang datang, dengan angin laut yang sangat halus membelai semua yang ada di pantai, dan bau khas wangi laut yang selalu membuat kangen.

sunrise di Pantai Sumur Tiga


Gw inget, ada seorang sahabat yang pernah bilang gini, “Mbak, cobain deh, sekali-sekali waktu menikmati sunrise/sunset, kamu jangan melakukan apa-apa. Just about 2 minutes. Diem, rasakan. Pasti rasanya beda”.
coba rasakan……..

Dan bener aja, walau ini bukan yang pertama kalinya gw ngelakuin itu.

Setelah take some frames, gw berdiri dan merem.
Hanya mengandalkan kuping, kulit, hidung, gw rasakan sensasi yang berbeda.
Suara kecipak gelombang seperti nyanyian (serius, ini ga lebay ya :D), sinar matahari pagi yang hangat mulai membelai wajah, dan bau laut menyapa idung gw.
Gw berasa……….. hmm….. apa ya???
Yang jelas, gw makin cinta dengan negeri ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Gw Cinta Indonesia!!!

ngers, ntar ke sini bareng-bareng yuk!!!


yang bikin kangen…


Udah puas ketemu sunrise di Sumur Tiga, akhirnya gw dan teman-teman melanjutkan perjalanan.

Karena jam 8 kita harus naik kapal untuk balik ke Banda Aceh, setelah dari Sumur Tiga, kita hanya menyusuri pinggir pantai yang membentang sepanjang perjalanan ke pelabuhan.
Sempet berhenti di beberapa spot, biasa lah…… pepotoan yang ga beres-beres :D
Dan akhirnya jam 7.45, gw dan teman-teman udah siap di depan pintu Pelabuhan Balohan.
Thank’s a lot Sabang for very nice vacation, wait for me for the next time (I wish).












pemandangan dari atas Kota Sabang

itu Pelabuhan Balohan, diliat dari atas


Jam 8 pagi kapal cepat mulai meninggalkan pelabuhan Balohan, Sabang. Melaju ke arah Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.
Sesuai rencana, karena penerbangan gw ke Jakarta masih jam 15.45 sore, begitu sampe di Banda Aceh, gw akan solo trip, misah dari rombongan.
Jadi, waktu di kapal, gw telepon lagi abang Taufik, driver taxi yang waktu itu nganter gw dari airport ke kompleks rumah Shinta, minta jemput di pelabuhan, dan langsung nego taxi untuk jalan-jalan keliling kota. Deal!
Jam 8 lewat 45 menit, bang Taufik udah sms gw, ngasi tau bahwa dia udah standbydi gate kedatangan pelabuhan. Sip! Mari kita explore Kota Banda Aceh, sebelum flight ke Jakarta.
Teng, jam 9 pagi, kapal merapat di Pelabuhan Ulee Lheue.
Leader trip sempet nanya, penerbangan gw jam berapa, nanti akan diantar ke bandara katanya.
Haduuuhhhh… makasih banget deh, tapi ga usah repot, gw udah order taxiyang bakal nganterin gw keliling kota. Tengkiyu banget deh…..

welcome again in Ulee Lheue port


Sampe di pelabuhan, ternyata bener, taxi yang gw pesen udah standby di parkiran.
Temen-temen pada bengong, gimana caranya gw bisa sewa taxi dan dijemput persis pas kapal nyampe.
Hehehehehehe…. ga usah bingung fren…. itu lah gunanya punya kenalan dan selalu punya backup plan.
Ok ya guys…. gw misah ya…. mo solo trip biar bisa explore banyak di Kota Banda Aceh.
Setelah pamitan sama semua teman-teman 1 rombongan, akhirnya gw kembali naik ke taxi silver yang udah siap di parkiran.
Let’s go!!!
Di taxi, gw sempet discussdulu dengan si abang driver, sebaiknya ke mana dulu nih, biar semua bisa dikunjungi.
Bang Taufik nanya gw, emang ke mana aja tujuan gw?
Gw beberin lah itinerary yang udah gw bikin. Masih ada Pantai Lampuuk, Rumah Cut Nyak Dien, Mesjid Teuku Umar, Rumoh Aceh dan Kapal Lampulo.
Akhirnya destinasi yang udah gw sebutin di atas diurutin supaya ga bolak-balik, plus dapet beberapa destinasi bonus karena letaknya yang berdekatan.
  1.  Pantai Lampuuk;
  2. Pantai Lok Ngha;
  3. Rumah Cut Nyak Dien
  4. Belanja oleh-oleh makanan khas Aceh, yang kebetulan letaknya hanya beberapa meter dari Rumah Cut Nyak Dien;
  5. Mesjid Teuku Umar;
  6. Makam Sultan Iskandar Muda;
  7. Museum Aceh a.k.a Rumoh Aceh;
  8. Pasar ikan tradisional;
  9. Kapal Lampulo;
  10. Mesjid Agung Baiturrahman; dan terakhir
  11. Belanja oleh-oleh suvenir.

Wuiiiihhhh…. banyak juga ya destinasi yang bakal gw datengin selama kurang lebih 5 jam ini.
Ok, mari kita mulai keliling Kota Banda aceh.
Destinasi pertama, Pantai Lampuuk.
Berjarak kurang lebih 6 km dari pusat kota, karena jalanan lancar, ga pake lama, gw udah sampe di sana.
Pantai pasir putih yang landai, halus menyapa kaki gw.
Pagi menjelang siang itu, Pantai Lampuuk terlihat lumayan rame.
Anak-anak kecil berlarian di pinggir pantai sambil bermain bola. Ada yang berenang dengan bebasnya, ada yang main perang-perangan dengan teman-temannya.
Di bagian kiri pantai, sekelompok pemuda, kayaknya sih entah dari kepolisian atau angkatan bersenjata (siswanya tapi ya… coz masih muda-muda gitu) sedang latihan lari.
Jajaran warung-warung yang banyak di pinggir pantai blom semuanya buka.

Pantai Lampuuk

panasnya sinar matahari ga menghalangi mereka maen di pantai

Pantai Lampuuk pagi menjelang siang itu cukup rame


Sekitar 15 menit gw di Lampuuk, mengumpulkan beberapa frame, sebelum melanjutkan perjalanan ke Lok Ngha.
Lok Ngha sendiri ga jauh dari Lampuuk.
Waktu bencana Tsunami terjadi di taun 2004, Lok Ngha adalah pusat gempanya.
Dulu, katanya daerah Lok Ngha ini hancur dilanda Tsunami.
Dan saat gw sampe ke sana, Lok Ngha udah kembali hijau, aktivitas warga pun udah normal.
Lok Ngha udah pulih.
Dan emang bener, memandang Pantai Lok Ngha di kejauhan, dari pinggir jalanan yang letaknya lebih tinggi dari dataran sekitarnya, cakep banget!

Lok Ngha, siapa yang nyangka di taun 2004 adalah pusat terjadinya Tsunami


Ga berlama-lama di Lok Ngha, gw melanjutkan perjalanan ke Rumah Cut Nyak Dien.
Konon, ini adalah rumah aslinya pahlawan wanita dari Aceh tersebut.
Rumah panggung yang didominasi warna hitam, dengan hiasan beraneka warna sebagaimana biasanya sebuah rumoh Aceh, berdiri kokoh. Dengan latar belakang sebuah bukit hijau, yang sebagian punggungnya memperlihatkan lapisan batuan alamyang terkandung di dalamnya.
Rumah itu sekarang udah jadi sebuah cagar budaya. Terlihat asri dengan taman yang tertata rapi.
Hanya saja, gw kurang beruntung kali ini, karena pagar rumah itu masih tergembok rapi, dan ga keliatan ada yang jaga.
Dan akhirnya gw cuma bisa motret dari sela-sela pagar putih yang membentengi rumah itu.
But, it’s ok.
Ngeliatnya dari luar juga udah bikin gw seneng koq.

Rumah Cut Nyak Dien

cuma bisa ngintip dari luar pager doang


Udah liat-liat rumah Cut Nyak Dien (dari luar pager ya…), trus gw melipir ke toko makanan khas Aceh yang jaraknya hanya beberapa meter dari situ.
Dendeng, kopi, pia, kue ikan sukses masuk dus (nambah deh bagasi gw :D).
Dari pusat makanan khas Aceh, gw melanjutkan perjalanan, balik ke pusat kota.
Kali ini tujuannya adalah Mesjid Teuku Umar.
Bangunan mesjid dengan kubahnya yang unik, menyerupai topi yang biasa dipake oleh pahlawan kita itu.
Bangunan yang didominasi warna putih, dengan atap berwarna coklat gelap, dan kubah berbentuk topi dengan kombinasi warna coklat gelap dan terang, ditambah hiasan kotak-kotak kecil warna coklat gelap, terang dan hijau.
Bentuk kubahnya khas, ga bulet seperti kebanyakan kubah sebuah mesjid, tapi lebih bersegi, sangat identik dengan topi yang biasa dikenakan oleh pahlawan kita, Teuku Umar.

Mesjid Teuku Umar

coba liat bentuk kubahnya yang khas itu, mirip kan dengan topi yang dipake Teuku Umar

masih di Mesjid Teuku Umar


Dari Mesjid Teuku Umar, mobil bergerak ke destinasi selanjutnya, Makam Sultan Iskandar Muda.
Tau dong ya, itu siapa? Pasti tau lah… beliau adalah seorang sultan yang memerintah Aceh di tahun 1607-1635, yang terkenal dengan sifatnya yang tegas, adil dan bijaksana. Yang telah membawa Aceh pada jaman keemasannya.
Pemerintah Indonesia telah menganugerahkan titel pahlawan nasional kepada Sultan Iskandar Muda.
Makamnya yang terletak di kompleks Situs Cagar Budaya Makam Kandang Meuh, berdiri gagah, didominasi bangunan berwarna putih dan coklat yang dinaungi bangunan beratap tapi tak berdinding berwarna kuning gading.
Makam ini dipasangi pagar besi setinggi kurang lebih 70 cm. Sekitar makam sangat bersih dan terawat.
Di depan makam sultan, terdapat juga makam-makam tua yang menurut cerita adalah makam kerabat dan orang kepercayaan sultan.

welcome to Situs Cagar Budaya “Makam Kandang Meuh”


makam Sultan Iskanda Muda

makam seorang sultan yang juga pahlawan nasional Indonesia

sebagian makam tua yang ada di komplek “Makam Kandang Meuh”

Sultan Iskandar Muda & Teuku Umar on articles



tari Seudati-nya udah beres pas gw nyampe


Dari kompleks makam Sultan Iskandar Muda, gw meneruskan penjelajahan ke Rumoh Aceh dan Museum Aceh.

Waktu gw sampe di sana, rombongan penari baru aja beres menampilkan Tari Seudati (yah…. kesiangan ya gw nyampenya?)
Akhirnya gw hanya bisa explore Museum Aceh, yang isinya semua informasi tentang Aceh dan perkembangannya.
Mulai dari alat berburu, alat rumah tangga, penyebaran bahasa daerah, perkembangan pembangunan Mesjid Agung Baiturrahman dari masa ke masa, dan banyak lagi.
Oh iya, gw ngerasain juga naek ke Rumoh Aceh. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu, dengan anak tangga yang lumayan tinggi dan sempit.
Waktu gw mo naek, gw papasan dengan rombongan opa-opa dan oma-oma bule yang juga sedang mengunjungi Rumoh Aceh.
Salah seorang oma itu merasa kesulitan waktu menuruni tangga dan sempet berucap “Wow, your feet are small, this stair not suitable with mine”.
Gw cuma nyengir sambil bantu itu oma nurunin tangga.
Emang sih, anak tangganya kecil-kecil, jadi untuk ukuran kaki bule yang sangat jauh lebih besar dari kaki gw yang size-nya 36 ini, emang ga enakeun itu tangganya.


Rumoh Aceh dan Museum Aceh
ruang pertama begitu naek tangga
di Rumoh Aceh


Setelah oma-oma itu turun, giliran gw yang naek ke Rumoh Aceh.

Ruangan yang pertama gw masuki setelah menaiki anak tangga yang kecil-kecil itu berupa serambi. Gw lupa klo orang Aceh itu nyebutnya apa? Yang jelas fungsinya sebagai ruang berkumpul klo ada pertemuan-pertemuan.
Ruangan ini kosong, akses keluar masuk hanya melalui tangga kecil yang terletak di bagian lantai depan rumah.

Di bagian kiri serambi, ada anak tangga untuk masuk ke bagian rumah yang lebih tinggi, yang merupakan ruangan inti. Di sini dipajang beberapa ruangan yang dilindungi oleh dinding kaca.
Ada ruangan yang berisikan pelaminan dan perlengkapan pernikahan, ada ruangan yang berisi peralatan makan dan sebuah ranjang, lengkap dengan kelambu putih-pink-nya.

Di sisi kiri ruangan, terdapat tangga untuk turun ke serambi yang bentuknya persis seperti serambi yang pertama gw masuki.
Di sini terdapat peralatan untuk memasak, di sisi lainnya terdapat sebuah dipan dan sebuah keranjang ayunan bayi yang berkelambu.
Suasana di ruangan kuning temaram. Pantulan cahaya dari kayu berwarna coklat gelap yang menjadi bahan utama Rumoh Aceh membuat cahaya di dalam ruangan itu jadi unik.
Ditambah bias cahaya dari jendela yang diberi gorden berwarna kuning, membuat suasana di dalam Rumoh Aceh adem, tapi hangat (nah…gimana itu ya? Gw juga bingung bilangnya).
Yang jelas karena bangunannya dari kayu, suasananya jadi ga panas, padahal ga ada AC or kipas angin di situ.
Tapi dengan bias cahaya yang memantul dari lantai dan dindingnya, ditambah cahaya dari jendela, jadinya hangat.
Pokoknya suasananya homy banget deh……. nyamaaaaaaaaaaannnnn…..



pelaminan
dan perlengkapan pernikahan
ranjang, kelambu
dan perlengkapan makan
dapur dan perlengkapannya
dipan, dan ayunan
























Beres liat-liat isi Rumoh Aceh, gw trus turun.
Di halaman ada sebuah bangunan panggung berdinding kayu setinggi 50 cm, yang dipenuhi ukiran, dan beratap rumbia.
Katanya itu adalah tempat pertemuan warga.
Ga tau sih, sekarang masih difungsikan seperti itu atau ga?

menurut penjelasan yang gw dapat, ini adalah tempat pertemuan warga
Di samping kanan belakang Rumoh Aceh, terdapat Museum Aceh.
Di sini pun gw ketemu lagi dengan rombongan oma-oma dan opa-opa bule itu.
Emang beda ya… klo bule itu keliatan banget interest-nya dengan informasi yang ada di dalam museum. Klo orang kita (hehehehehe…), cuma liat-liat tanpa mau baca penjelasannya, apalagi ngedengerin penjelasan dari guide museum yang bertugas.
Karena rombongan oma dan opa itu punya guide yang fasih banget ngejelasin tentang Aceh, akhirnya gw ngintilin rombongan itu. Lumayan kan, dapet penjelasan lengkap :D
Peureulak Boom a.k.a Pohon Peureulak

rusa berkepala 2 yang diawetkan di Museum Aceh

berbagai perlengkapan untuk berburu

ini peta bahasa daerah yang digunakan di Aceh

maket Mesjid Raya Baiturrahman di tahun 1879

yang ini maket Mesjid Raya Baiturrahman di tahun 1936

klo yang ini maket Mesjid Raya Baiturrahman taun 1957

mushaf Al-Quran di Museum Aceh
Sebelum meninggalkan kompleks Rumoh Aceh dan Museum Aceh, gw sempet liat bangunan kecil di dekat pintu keluar.
Bangunan kecil persegi 4, dengan empat sisi bumbungan atap, di bagian atasnya ada puncak berundak 3 dengan hiasan seperti ujung payung di ujungnya.
Bangunan ini terbuat dari kayu dengan dominasi warna hitam dan merah.
Bangunan berukuran kurang lebih 1.5 x 1.5 meter ini merupakan bangunan untuk menggantungkan sebuah lonceng logam yang besar.
Lonceng itu terlihat kuno, cuma setelah gw telusuri, gw ga nemuin tuh penjelasan itu lonceng apa, dibuat kapan, atau itu pemberian dari daerah mana, atau lonceng itu berasal dari masa pemerintahannya siapa?
Rumoh Aceh

ini nih lonceng yang gw bilang, tapi blom nemu keterangannya itu lonceng apa?
Yah….. sudah lah… nanti gw tanya mbah Gugel deh tentang lonceng itu.
Sekarang, mari kita lanjutkan meng-explore Aceh dengan sisa waktu yang ada, sebelum gw balik ke Jakarta.
Destinasi selanjutnya, Kapal Lampulo, atau yang dikenal dengan Kapal Di Atas Rumah.
Untuk mencapai Gampong Lampulo, gw melewati pasar ikan tradisional. Di sini gw liat perahu-perahu nelayan Aceh yang sedang menurunkan hasil tangkapannya.
Off course ya…. smell di lokasi ini not too good. Tapi klo liat hasil lautnya…. dijamin bakalan ngiler :p
Perahu layar warna-warni tampak ramai bersandar di dermaga sederhana yang ada.
Orang-orang tampak sibuk di atas perahunya masing-masing dengan berbagai aktivitasnya. Ada yang sedang menurunkan muatan, ada yang membersihkan perahu, ada yang memperbaiki bagian perahu yang mungkin sedang bermasalah. Full of activities deh pokoknya.
deretan kapal di dermaga pasar ikan tradisional

siang itu dermaganya rame

kapal warna-warni, cantik

poto-potonya ngeblur, karena taken from moving car
Akhirnya sampe lah gw di lokasi Kapal Lampulo.
Sebuah kapal kayu berwarna putih, abu dan hitam terlihat masih berada dengan kokohnya di atas sebuah puing-puing rumah yang menjadi saksi bisu bencana Tsunami.
Sekarang, di sekeliling kapal telah dipasang perancah baja untuk mencegah kapal jatuh dan roboh. Mengingat kapal ini kan udah bertengger selama kurang lebih 9 tahun di atas puing rumah itu.
Di bagian sisi rumah yang masih terawat dengan baik, sekarang dijadikan ruangan untuk mendokumentasikan foto-foto yang diambil pada saat terjadinya bencana Tsunami.
Di ruangan itu gw melihat dahsyatnya Tsunami yang terekam di dalam foto-foto yang dipasang dengan rapi di dinding dan papan khusus yang ada di situ.
Melihat foto dan membaca keterangan yang ada di setiap bagian bawah foto, bikin gw merinding.
Foto-foto itu seolah bercerita, bersuara.
Jadinya sediiiiiiiiiiihhhhhhhh……
Kapal Lampulo

kapal ini menyelamatkan 59 orang pada saat Tsunami 2004

agar tetap terjaga, pemerintah daerah memasang perancah baja di sekeliling Kapal Lampulo

“Kapal nelayan ini dihempas gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004
hingga tersangkut di rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting dahsyatnya musibah Tsunami
tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu:
Di halaman tempat Kapal Lampulo bertengger (kayak burung ya? Abisnya gw bingung bilangnya apa? Mo dibilang berdiri, pasti bukan dong), ada semacam counterdari pengelola situs Lampulo itu.
Di situ gw dapet sertifikat yang jadi bukti bahwa gw beneran dong udah sampe di Kapal Lampulo.
Di situ juga akhirnya gw beli buku yang judulnya “The Witnesses of Aceh Tsunami Victims”.
Buku itu berisi testimoni dari 10 orang saksi hidup yang selamat dari bencana Tsunami setelah menaiki kapal yang terdampar di atas rumah tersebut.
Oke, sekarang mari kita lanjutkan perjalanan.
Kudu cepet-cepet, soalnya gw pengen bisa sholat Dzuhur di Mesjid Baiturrahman lagi.
Let’s go abang driver, kita ke Mesjid Baiturrahman. Cuuuuusssssssss………..
Alhamdulillah, pas sampe di halaman mesjid, pas adzan berkumandang.
Buru-buru wudhu, dan akhirnya kesampaian juga gw Dzuhur-an di Mesjid Baiturrahman.
Plus, bisa foto-foto mesjid pas siang.
Langsung lari ke halaman mesjid, ambil frame kiri, kanan, depan.
Oh iya, di sisi kiri mesjid, ada semacam tugu peringatan kecil yang menjadi penanda bahwa pada tanggal 14 April 1873, di tempat itu Mayor General Kohler telah terbunuh pada saat memimpin penyerangan ke Mesjid Raya Baiturrahman.
Hayoooo…. coba diinget-inget pelajaran sejarahnya… masih inget ga dengan Kohler???
Hmm… yakin deh, pasti udah pada lupa :p
Mesjid Raya Baiturrahman

siang itu di Mesjid Raya Baiturrahman

“Tanggal 14 April 1873 di tempat ini Mayor Jendral J. H. R. Kohler
tewas dalam memimpin penyerangan terhadap Mesjid Raya Baiturrahman”

menara yang ada di depan gerbang Mesjid Raya Baiturrahman
Siang itu Mesjid Raya Baiturrahman sangat rame.
Dan di situ, gw juga ketemu dengan rombongan teman-teman yang juga exploreKota Banda Aceh (sssttt…. tapinya destinasi yang mereka datengin ga sebanyak gw dong :D)
Dan akhirnya, gw kudu menyudahi acara explore Kota Banda Aceh.
Udah jam ½ 2 siang, dan gw masih mo nyari oleh-oleh untuk tim hore, ponakan-ponakan bandel tapi ngangenin di rumah. Yuk kita capcus!!!
Tujuan gw cuma mo beli kaos di Mister Piyoh lho….
Kan baca di inet, klo di Aceh ini juga ada kaos-kaos khas Aceh…. ya kayak Dagadu-nya Yogya or Joger-nya Bali itu.
Klo di Aceh, yang terkenal itu namanya Mister Piyoh.
Tadinya, gw berniat mo liat pusatnya yang ada di Sabang. Tapi apa daya, karena selalu molor itu schedule-nya, bahkan yang harusnya dikunjungi juga akhirnya di-skip, ya gw ga kesampaian deh liat Mister Piyoh yang di Sabang.
Untungnya di Banda Aceh juga ada.
Akhirnya gw melipir ke Mister Piyoh yang ada di Banda Aceh. Kebetulan juga ternyata lokasinya searah dengan bandara.
Udah ngubek-ubek stok kaos yang ada di Mister Piyoh, akhirnya dapet juga itu kaos bergambar Cut Kak dan Cut Bang kecil (gw lupa sebutannya… klo anak perempuan kecil itu kan disebut Inong, klo anak laki, lupa gw).
Sebelum ke Mister Piyoh tadi, gw sempet singgah di pusat suvenir di pusat kota.
Sempet beli tenun Aceh, itu untuk gw, yang ternyata sangat hobi ngumpulin kain-kain dari daerah se-Indonesia.
Trus beliin dompet untuk ibu dan adek.
Untuk bapak, makanan aja yah pa…. soalnya kopiah khas Aceh-nya ga nemu :D
Dan akhirnya cerita ngebolang gw berakhir di Bandara Sultan Iskandar Muda.
Jam 3 teng gw udah beres check-in dan akhirnya duduk manis sambil baca-baca majalah di lounge bandara.
Jam ½ 4 sore, boarding, dan 15 menit kemudian si burung besi mulai meninggalkan runway BDI menuju Jakarta.
Bye bye Aceh….. nice to know youthank you so much for the vacation… and, meet you again soon ^.^
finally, must go back to Jakarta

goodbye Aceh, Sabang, thank’s a lot for the vacation

Udahan ya cerita tentang ngebolang ke Aceh-nya….
Ini udah banyak yang japri neh, ngomelin gw yang katanya nyebarin racun mulu….
Padahal kan gw ga ngeracunin yak… gw cuma posting di socmed gw aja….
Ya klo setelah pada baca trus keracunan, itu bukan salah gw dong….
#berlaludengantampanglempeng

Eh iya, ini bocoran itinerary selama ngebolang di Banda Aceh + Sabang, kali aja ada yang mo nyontek :D





Menjenguk Ujung Barat Indonesia #3 – Masih Tentang Sabang



Sabtu, 26 Oktober 2013
Hai….. ketemu gw lagi….
Udah bangun nih…. masih dalam rangka ngebolang di Aceh…
Udah baca kan cerita gw yang kemaren? Bisa cekidot di sini koq…
Ga tau kenapa, tiap ngetrip pasti gw bangunnya pagi (bukan nyombong ya).
Jam 4 subuh gw udah bangun, mandi, beres-beres, trus sholat subuh.
Di sini sholat subuhnya udah jam 5an gitu. Tapi di luar masih gelap lho…
Gw liat Liany masih pules.
Pelan-pelan gw buka pintu, sambil nenteng kamera dan tripod.
Sorryya Ny, gw ga berani ngebangunin, soalnya lu keliatannya pules banget”.

Iboih pagi itu

Jam 5 lewat 30 menit gw udah sampe di dermaga Iboih Inn.
Kosong, ga ada siapa-siapa.
Horeeeeeeee…….. gw bebas nyari spot poto. Berasa private homestayini.
Nyiapin kamera, tripod, nungguin semburat jingga di kaki langit sebelah Timur.
Air laut hanya sesekali beriak kecil.
Warna biru mendominasi pagi ini.
Langit terlihat sedikit mendung, awan putih keabuan terlihat merata mewarnai langit pagi.
Walau mendung tipis menggelayut di langit pagi itu, tapi gw beruntung masih berhasil menangkap beberapa frame sunrise pagi itu di Iboih.

tenang banget…. biru, ungu, jingga…

laut di depan resort, pagi itu


Jam 7 pagi, baru deh rombongan narsis mulai ribut.
“Eh… ayo kita hunting sunrise”, gw ga tau siapa yang ngomong itu.
Hehehehehehe….. mo hunting sunrise ya mbak? Itu matahari udah terang benderang gitu :p

Rombongan narsis mulai memenuhi seluruh sudut dermaga.
Dan gw pun mulai ngeberesin peralatan perang gw.
It’s time for me to packing :D
Beda schedule kita….
Hari ini schedule-nya snorkelinglagi di bagian luar Pulau Rubiah, dan diving.
Off course gw ga ikutan diving. Gw ngikut snorkelingajah.
Jam 9 pagi rombongan mulai jalan ke arah Pantai Iboih.
Bagi-bagi gear snorkeling, plus peralatan diving untuk mereka yang mo nyelem.
Gw sih untuk snorkeling udah bawa gearsendiri, paling minjem fin aja.

ikuuuuuuuutttttt……

homestay di pinggir laut sepanjang Pantai Iboih

on the way to spot of snorkeling
(sukses membuat gw tergoda untuk nyebur)

Tadinya, gw cuma pengen poto-poto aja dari atas kapal, tapi liat air hijau toska yang super duper jernih, akhirnya gw nyebur juga.
Kan ceritanya, itu instruktur dan guide snorkeling-nya udah didominasi sama rombongan narsis, sementara gw masih yang ngeri-ngeri gitu untuk terjun ke laut.
Untung ada bapak yang drive-in perahu yang bersedia ngajarin gw renang, sekaligus nunjukin di mana aja spot yang terumbu + ikannya bagus-bagus.
Makasih banyak bapak……. kesampaian juga gw terjun ke laut dan ngeliat terumbu + ikan-ikan cantik yang hilir mudik di sela-sela karang.

tuh…. liat airnya….. #mupeng


what a beautiful country??? I Love Indonesia!!! #teriakpaketoa
Jam 1 siang, kegiatan snorkeling + diving beres.
Trus kapal puter balik ke pantai.
Dipesenin klo jam 2 siang kudu udah siap di Pantai Iboih lagi untuk schedulekeliling Kota Sabang.
Sip, jam 2 siang i’m ready on the beach!
Setelah mandi, bersih-bersih, gw dan Liany balik ke pantai.
Jam 2 kurang 5 menit, gw dan Liany udah sampe di pantai, dan ternyata…… seperti biasa, masih ada aja yang blom kumpul.
Masih yang sibuk makan siang dan sebagainya.
Tunggu sana sini, eh…. jam 3 sore baru deh jalan.

Tugu Nol km, yeaayy… nyampe di sini

Tujuan pertama sore ini, NOL km!
Yihaaaaaaa…. gw sampe di ujung paling Barat Indonesia.
Bangunan beton putih dengan ornamen orange menandai titik Nol km Indonesia.
Sore itu Tugu Nol km cukup rame dengan pengunjung.
Cuma sayang, gw ga kesampaian dapetin sertifikatnya.
Kata si leader (yang lagi-lagi bikin gw sebel) “Klo wiken gini, petugasnya ga ada, harus janjian dulu di instansinya”.
Karena males berdebat, dan niat gw mau liburan, senang-senang, akhirnya gw cuekin aja.
Gpp lah ga dapet sertifikat Nol km-nya.
Next time gw akan balik lagi dan explore lebih banyak!







diresmikan oleh pak Try Sutrisno


ada aja yang jahil,
bikin gravity sembarangan

bagian atas Tugu Nol km itu begini ternyata

di bagian dasar tugu, tampak kurang terawat

Tugu KM 0 – Indonesia

Setelah dari Nol km, rombongan bergerak ke arah Pantai Gapang.
Kali ke-2 ke Gapang (kan kemarin udah singgah ke sini waktu insiden nyari toilet itu), gw masih dapetin spot-spot bagus untuk disimpan.
Cuma ya kali ini ga seleluasa kemarin, you know lah why…..
Yes, karena kali ini gw harus rebutan spot dengan narsis geng :D

wish you were here…..

sampe ke sini Ngers ^.^


Abis dari Pantai Gapang, tujuan selanjutnya Benteng.
Gw kurang ngerti juga, ini benteng waktu jaman Belanda apa Jepang.
Soalnya si leader juga ditanyain cuma geleng-geleng.
Susye nih…… bawa rombongan, tapi dia juga ga paham itu apa dan gimana?

pemandangan Pantai Ujung Batee dari atas


Nah, kan tadinya kita itu iring-iringan 3 mobil.
Eh…. ini malah balap-balapan.
Mobil rombongan gw, yang disetirin sama si abang Ewin ternyata paling depan.
Jadi lah kita rada nyantai gitu.
On the way ke Benteng, kita ngelewatin Mesjid Agung Kota Sabang.
Bujuk-bujuk bang Ewin, akhirnya gw dan temen-temen bisa singgah di Mesjid Agung Kota Sabang.
Seperti biasa, poto-poto lagi dong di sini….
Cukup 10 menit poto-poto di Mesjid Agung Sabang, kami langsung cusss lagi.

Mesjid Agung Sabang

Mesjid Agung Sabang

Nyampe di Benteng, sore udah semakin gelap.
Bangunan Benteng sendiri ada di dataran yang lebih tinggi dari tempat mobil berhenti.
Jadi dari mobil, kita harus menaiki tangga beton ke arah Benteng.
Benteng sendiri berupa bangunan bulat persis di puncak tertinggi dataran yang ada di situ.
Setelah menaiki tangga, kita akan dihadapkan pada jalan setapak dari paving block yang sudah mulai berlumut di sana-sini. Dinding kanan kirinya berupa batu dan tanah yang udah bercampur dengan pohon-pohon yang tumbuh subur di situ.
Kesannya adem, tapi serem :D
Di pintu masuk benteng ada sebatang meriam, yang mulutnya tepat di jendela yang menghadap ke laut lepas.
Tanah di depan benteng miring landai ke arah laut (klo ga hati-hati, bisa ngegelinding dan sukses mendarat di laut lho :D)
Poto-poto di depan Benteng dan laut lepas, ga terasa senja semakin temaram.

jalan menuju Benteng

pemandangan ke laut lepas dari depan Benteng


itu bangunan Bentengnya



meriam tua yang masih ada di Benteng


Waduh….. ga keburu nih dapet sunset di Sabang Fair.
Nah… di sini gw nyadar banget efek dari ketidakpatuhan dengan schedule. Banyak banget destinasi yang di-skip sama leader rombongannya, yang bikin gw ngamuk.
Ya gimana nggak?
Beberapa destinasi itu justru merupakan spot-spot cantik andalan Kota Sabang ini.
Sebut aja Pantai Kasih, katanya sunset di situ paling cihuy se-Sabang.
Waktu gw tanya leader, kenapa ga ke sana? Jawabnya “Tempatnya ga bagus koq mbak”.
Lha? Klo ga bagus, kenapa lu masukin ke itinerary???
Rasanya pegen gw buntelin pake sarung tu orang, trus gw gelindingin ke laut.
Bukan cuma Pantai Kasih yang di-skip, tapi juga Pantai Aneuk Lot, Anoi Hitam.
Ada revisi nih fren… Aneuk Laot itu ternyata bukan pantai, tapi danau di tengah Pulau Weh. Trus… benteng yang tadi itu adalah tempat pengintaian tentara Jepang waktu masa penjajahannya dulu. Benteng itu ada di daerah Anoi Hitam, katanya di pantainya ada batu yang kalo diliat dari samping mirip gajah (tapi kemaren gw ga liat tuh, di sebelah mana ya?)

Thank’s to Herry, yang udah ngasi koreksian… untung punya sohib yang yang pernah jadi kuncennya Sabang :D

Tadinya Pantai Sumur Tiga juga mau di-skip, gw ngotot supaya besok sunrise bisa ke sana.
Sampe gw bilang aja, klo ga ada yang pada mau ke Sumur Tiga, gw bakal sewa mobil sendiri dan nungguin sunrise di sana. Dengan catatan, ga boleh ada yang ngikut!
Akhirnya tu leader nyerah, dan setuju, besok sunrise di Sumur Tiga.

senja itu di Benteng

menjelang sunset (yang ga keburu)

harus cukup puas dengan langit yang berwarna jingga sore itu


Dari Benteng, perjalanan dilanjutkan ke Sabang Fair, sekalian makan malem di sana.
Yang disebut Sabang Fair itu ternyata semacam alun-alun kota, di mana banyak tenant penjual makanan. Letaknya di pinggir laut, ada live music-nya.
Malem itu gw pesen Nasi Goreng Ayam doang.
Temen-temen yang laen pada rebutan pesen Sate Gurita yang katanya jadi menu andalan di situ.
Ga deh, gw makan makanan yang biasa-biasa aja, udah pasti rasanya.
Di sini, karena tadi pas ngelewatin pasar liat duren berserakan di pinggir jalan, akhirnya kita usul, patungan beli duren.
Jadi lah makan malam itu ditutup dengan pesta duren. Hmm…….. yummy…. yes!
Pulang ke homestay udah jam 10an gitu.
Bersih-bersih, packing, langsung pules.
Besok kudu bangun lebih pagi, karena jam 5 udah harus cusss ke Pantai Sumur Tiga.



Menjenguk Ujung Barat Indonesia #2 – Sabang, I Love U



Jumat, 25 Oktober 2013
Saking excited-nya, subuh buta gw udah bangun dong.
Kita lanjutkan cerita ngebolang kemarin….

Langsung mandi dan beresin perlengkapan perang.

  •      Kamera, checked.
  •      Carrier, checked.
  •      Gear snorkling, checked.


Okeh beibeh, i’m ready…..
Pagi itu Shinta udah nyiapin sarapan yang enaaaaaakkkk…. banget.
One of my fave food, nasi goreng!
Ditemani irisan telur dadar, kering tempe teri, hmm….. berasa di rumah deh….
Sumpah Ta, masakan lu yahud! Enyaaaaaaaaaakkkkk…..
Selesai makan, gw langsung nurunin perlengkapan. Kan ceritanya gw janjian ketemu dengan teman-teman yang lain jam 8 pagi ini di Pelabuhan Ulee Lheue.
Gw berangkat dari rumah Shinta jam 8 lewat 10 menit (telat 10 menit ini).
10 menit kemudian, gw udah sampe di pintu masuk dermaga Ulee Lheue.
Daaaaaaannnn….. mana itu rombongan teman-teman??? Blom keliatan batang idungnya.
Gw messageke mbak Win, Rini, teh Irma, kagak ada yang nyaut dong! Hadeeeeuuuuuhhhh…..
Tiba-tiba ada bapak yang make seragam ASDP nyamperin gw, “Mau ke Sabang dek? Pake kapal apa?” tanya beliau.
“Iya pak, mo ke Sabang, pake kapal cepat yang jam 9” sahut gw.
“Lho, itu kapalnya udah ada, penumpang juga udah pada naik koq… naik aja ke kapal, nanti ketinggalan”, tambah si bapak.
“Iya pak, ini masih nunggu teman-teman yang lain”, sahut gw lagi.
Si bapak ASDP kemudian ninggalin gw, balik ke arah pintu masuk dermaga.
ini nih loket untuk beli tiket ke Sabang, klo beli tiketnya pp, ada diskon :D

ayo… ayo… yang mau ke Sabang, ini harga tiketnya per Oktober 2013 kemarin
Haduuuuuuhhhh…. ini ke mana sih yang laen? Kagak bisa on time apa ya???
Jam ½ 9 baru deh tu rombongan datang dengan 2 mobil. Setelah nurunin barang-barang bawaan teman-teman, lho… koq itu mobilnya langsung pergi???
Ternyata mereka masih harus jemput 1 rombongan lagi. Whaaaaaaaaaattttt?????
Jam 8 lewat 50 menit, alias 10 menit sebelum jadual kapal berlayar, baru deh gw ngikutin rombongan masuk ke kapal.
Nah… ini bikin gw tambah jengkel sama yang ngakunya leadertrip ini. Masak sampe di depan kapal pun, dia masih ga nyadar dengan kehadiran gw yang notabene adalah part of rombongannya dia.
Pengen gw getok pake ujung jangkar tuh palanya.
Sampe akhirnya gw samperin aja tuh orang, trus gw tanya berapa jumlah pesertanya?
Trus gw tanya, emang udah komplit semua?
Baru deh dia nyadar. Gila ya…..
Nah… setelah jengkel yang pertama tadi, kejengkelan gw masih berlanjut, gimana ga?
Kapal udah bunyiin peluit tanda mo berangkat, tu leadermasih yang sibuk minta peserta foto-foto pake banner-nya dia. Weeeewwww…..
Gw sih udah cuek aja, begitu dapet tiket, gw langsung masuk aja ke kapal, trus nyari kabin eksekutif.
Milih kursi di deretan paling depan, deket jendela (teuteup tempat favorit).
Jam 9 teng, kapal pun meninggalkan dermaga Pelabuhan Ulee Lheue menuju Pulau Weh.
let’s go to Sabang!

langit biru, awan putih, air laut, buih gelombang……..

Honestly, sebenernya gw pengen banget itu naek ke dek kapal, angin-anginan di atas sambil cuci mata. Tapi apa daya, matahari yang cerah ceria sinarnya bikin nyali gw ciut, dan akhirnya cm ngejogrok di tempat duduk :D
Cuma ngintip-ngintip dari jendela kaca, seperti apakah pemandangan sepanjang pelayaran ini…

Nyeberang dari Ulee Lheue ke Balohan (ini nama pelabuhan di Kota Sabang) hanya memakan waktu 45 menit (klo pake kapal cepat), klo kapal biasa 3 jam gitu deh katanya.
Cuaca hari itu cerah, langit biru bersih dihiasi awan-awan putih yang bergumpal-gumpal, cantik!
Gelombang juga ga terlalu gede, sedikit berayun-ayun di kapal, not bad lah.
Ombak yang pecah karena menghempas buritan kapal terlihat putih, berbuih yang kemudian hilang.
karena cuma nongkrong di kabin, motret pun cuma bisa dari balik kaca jendela

45 menit menikmati ayunan gelombang laut, akhirnya gw dan teman-teman sampe di Pelabuhan Balohan, Sabang. Yippiiiiiiieeeee…… #jogetjoget

horeeeeeeeee…….. sampeeeeeeeeee……….
bareng mbak Wiwin, yeaaayyyy…. gw nyampe di Sabang…
ini nih yang sangat bersemangat
ngeracunin gw klo Sabang itu cakep…
(thank’s Ry, lo bener, Sabang emang cihuy)

Sampe di pelabuhan, nurunin bawaan, trus rombongan nyariin mobil yang udah disiapkan.
Sebenarnya gw dapet “titipan” pesen dari seorang teman yang udah ngomporin gw abis-abisan tentang indahnya Sabang, untuk “ketemu” dengan teman-teman sejawatnya yang staydi Puskesmas Sabang. Tapi ternyata, begitu turun dari kapal, mobil yang akan nganterin gw ke Iboih udah standby, terpaksa deh gw “ingkar”, ga bisa nemuin teman-temannya pak dokter Herry… (sorry ya Ry….. ga sempet ketemu temen-temen lo…. next time deh klo gw solo trip, bisa singgah-singgah kapan pun gw mau :D)
Ga direncanain, ternyata gw semobil dengan temen-temen waktu ngetrip ke Padang kemarin lho…. yeaaaaaaayyyyy!!!!
Ada mbak Wiwin, teh Irma, mas Yusuf, Rini, horeeeeeeeeeee…….
Di mobil, semua pada cerita-cerita seru gitu….. trus akhirnya pada nanya “Kapan, kita ke mana lagi?” :D hihihihihihihihi….

Perjalanan menuju Iboih, seru! Jalannya turun-naik, berkelok-kelok.
Di mana-mana hijau, biru, putih, jadi 1 komposisi yang gw sukaaaaaaaaaaa…..banget!
Menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan, gw ga nyadar, ternyata Rini udah diem aja di jok belakang. What happened Rin?
Ternyata ada yang kebelet :D
Untung si abang driver-nya baik dan cekatan plus cerdas, mobil dibelokin ke Pantai Gapang, nyari toilet.
Dan ternyata, Pantai Gapang itu bagus!
Pantai pasir putih halus dengan taburan batu-batu kecil di sepanjang bibir pantainya.
Nungguin Rini menuntaskan hajatnya, gw dan teman-teman yang laen segera ambil aksi, mari kita poto-poto!!! :D
Lumayan nih, gegara nyari toilet, eh…. malah dapet bonus liat Pantai Gapang duluan.
Thank’s ya abang driver…. eh iya, drivergw dan rombongan ini namanya Ewin.
Rini udah beres dengan keperluannya, gw dan teman-teman yang lain udah beres juga pepotoannya. Yuk, kita lanjutkan perjalanan ke Pantai Iboih.
Kirain ya… karena rombongan gw sempet singgah di Gapang, kita udah ditinggal rombongan. Nyatanya… sampe di Iboih, tetep yang pertama! Yuhuuuuuuuu……
Keren nih si abang driver! #thumbsup

Pantai Iboih, cakep………..

ini juga Pantai Iboih

Sampe di Iboih udah jam 12-an gitu.
Nurunin carrier, koper (ups), dan berbagai tentengan rombongan, trus temen-temen yang cowok kabur ke mesjid. Ini kan hari Jumat ya cyin…… biar teuteup ganteng, yang cowok kudu sholjum dulu…
Nah….sembari nunggu temen-temen yang cowok Jumat-an, gw, mbak Win, Rini, teh Irma melipir deh ke warung makan. Laper to the max ini.
Sebenarnya, di Kota Sabang ini ada peraturan yang melarang aktivitas perdagangan selama sholat Jumat dilaksanakan. Tapi apa daya, ini perut udah melilit-lilit, naganya udah protes (ternyata sarapan nasgor tadi pagi, kurang :D).
Dengan setengah memaksa si abang yang jaga warung makan, akhirnya kami ber-4 sukses makan siang. Alhamdulillah.
Sepiring nasi putih panas, disiram sayur lodeh, dengan lauk telur asin + kerupuk sukses tenggelam di perut gw :D (eh iya, plus sebotol air mineral)
Beres urusan isi perut, gw dan temen-temen balik ke arah drop point di pinggir Pantai Iboih.
Mana nih temen-temen yang abis sholjum? Koq blom pada keliatan?
Nungguin dulu di pinggir pantai, sempet poto-poto dulu, liat-liat seputar Pantai Iboih.
Nah, itu mereka udah balik.
Eh…. begitu temen-temen yang cowok nyampe, kirain langsung berangkat ke homestay.
Ga taunya, mereka juga kelaparan, dan langsung pada kabur nyari warung makan :D
Baik lah, kita-kita yang cewek nunggu lagi deh di sini.

airnya bikin mupeng untuk nyebur

senangnyaaaaaaa……
Kira-kira jam 13.30, ketika semua rombongan udah kumpul, tu leader nyuruh kita-kita naek boat.
Lho? Emang homestay-nya di mana?
Temen-temen pada spekulasi gitu “Itu, homestay-nya di pulau yang di depan itu lho”.
Hadeeeuuuuhhhh… itu kan Pulau Rubiah. Sementara di itineraryjelas-jelas ditulis kalo nginepnya di Iboih.
Curiga deh gw……..
Ngikut juga nih naek ke boat.
Tuh kan….. bener. Baru juga duduk di boat 5 menit, udah sampe.
Ternyata homestay-nya cuma sekedipan mata klo naek boat.
Masih di pantai yang sama, cuma melipirnya rada jauhan dari drop point tadi.
Wokeh, kita liat homestay-nya.

ini dermaga di depan Iboih Inn, tuh boat yang tadi dinaikin

nih, nginepnya di sini… homestay-nya di atas tapi ya…


Dan lagi-lagi, gw kesel di sini.
Nyampe di dermaga Iboih Inn, rombongan dikumpulkan di restoran apungnya, trus bagi-bagi kamar.
Ternyata, temen-temen itu udah pada bagi-bagi kamar waktu nginep di Banda Aceh.
Dan karena gw ga nginep bareng mereka, akhirnya gw ga tau bakal sekamar dengan siapa.
Waktu gw tanya di leader, jawabnya “Bentar ya mbak, dicariin dulu kamarnya, soalnya ini udah penuh semua”.
Hahhhhhhh?????
Emang tu leader ga reserved kamar dari jauh-jauh hari ya???
Trus yang ngelola homestay juga bilang “Iya mbak, ini semua kamar penuh, nanti coba dicari dulu ada yang kosong ga?”
What???
Akhirnya gw nyeletuk aja, “Klo emang di sini ga ada kamar kosong, gpp deh bu, saya ke Casa de Nemo aja” sambil pasang muka lempeng.
Si ibu sama leader trip langsung bengong.
Hihihihihihi….. emang dipikirnya gw bakal worriedbanget klo di situ ga ada kamar kosong???
Gw juga kan klo mo ngetrip gini udah ngumpulin info sebanyak yang gw bisa, jadi selalu ada second choice dan alternatif klo terjadi the worse case.
Ga yang asal ngikut aja kaleeeee…..
Nungguin si ibu pengelola homestay dan leaderngutak-atik dokumen, nyari kamar kosong untuk gw, gw ya dengan muka lempeng duduk aja di salah satu kursi yang ada di resto itu.
Sambil liat-liat pemandangan laut, merasakan sapuan angin laut di wajah gw, menghirup harupnya wangi laut yang khas.
Sampe akhirnya “Mbak, lu sekamar gw kasi berdua aja nih sama Liany, kurang baek apa gw?” si leader trip tiba-tiba nyamperin gw.
“Hmm…. gw blom bisa mengiyakan statement elu sih, sampe gw liat seperti apa kamar gw dan Liany”, dengan cuek gw nyaut.
Dikasi kunci kamar nomor 14.
Trus gw kan blom kenal tuh dengan yang namanya Liany, tengok kanan-kiri, eh ada temen yang ternyata juga masih duduk dengan manisnya di ruang resto.
“Hai, Liany ya? Gw Evy”, gw negur 1-1nya anggota rombongan yang masih nongkrong di resto saat itu.
Jabat tangan, kenalan, gw dapet roommate baru nih.
Setelah nanya si ibu, kamar nomor 14 itu di mana? Dan ternyata ada di deretan paling atas dan paling ujung!
Sebelum trekking ke kamar nomor 14 itu, gw sempet nanya sama leader, “Setelah ini acaranya apa ya?”
And you know, ini akan jadi jawaban pamungkasnya selama trip berjalan, “Nanti diinfo mbak, tunggu aja ya”.
Akhirnya gw dan Liany, yang sama-sama bawa carrier + tas kamera, mulai naik tangga 1-1 sampe ke deretan kamar paling ujung.
Hadeeeeuuuuhhhhh…. udah paling atas, paling ujung, cakeeeeeeeepppppp…..
Balik ngetrip, gw bakal kurus dan berotot ini, ga perlu nge-gym :D
ini teras kamar gw, ada hammock-nya lho….
ini kamarnya (langsung bagi
kapling dong begitu sampe di kamar :D)


Nyampe juga nih di depan kamar nomor 14.
Sebuah bangunan kayu, couple, berkolong, dengan 2 jendela kaca gede di bagian depan, yang sekaligus merupakan pintu geser dari kamar tersebut.
Di depan kamar ada 1 kursi plastik, dan sebuah hammockyang tergantung persis di tengah-tengah teras mungil itu.
Di sekeliling kamar masih banyak pepohonan hijau lebat, dan beberapa ekor monyet hutan yang berlompatan ke sana ke mari.
Suara jangkrik aja masih kedengaran di siang itu.
It’s absolutely right place for escape!
Dan sinyal provider selular pun mendadak ilang.
Beneran disuruh liburan ini…… horeeeeeeee…….
Nurunin carrier, langsung bagi kapling tempat tidur (dan gw lebih milih space di deket dinding) karena Liany udah booking space kasur yang deket kamar mandi :D
Oh iya, di kamar itu cuma ada 1 tempat tidur queen size, dengan kamar mandi, kipas angin, 2 colokan listrik (ini yang paling penting, urgent sangat, bisa rebutan klo cuma ada 1 colokan), di atas tempat tidur tergantung sehelai kelambu berwarna biru muda.
Hmm…. karena suasananya masih sangat “hutan” pasti banyak nyamuk ya… makanya di kamar ada kelambunya.
nyobain hammock
(langsung kepengen merem deh….)

Oke, sekarang kita ganti baju.
Kan ceritanya, sesuai itinerary, jam 2 siang ini acaranya snorkeling di Pantai Iboih.
Sambil nungguin “info” dari leader trip, gw dan Liany nyantai-nyantai di teras.
Gw nyobain hammock-nya, lumayan….. bisa merem nih :D
Berayun-ayun di hammock sambil menikmati udara yang sejuk, plus dapet bonus ngeliatin monyet-monyet mungil yang sedang lompat-lompatan di dahan pohon di sekitar homestay, what a perfect?!
Karena info yang ditunggu ga juga ada, akhirnya gw dan Liany mutusin jalan aja deh ke resto.
Jam 2 kurang 5 menit, gw dan Liany udah standbydi resto Iboih Inn.
Ternyata, temen-temen yang lain blom lengkap dong.
Masih on time gw dong ya…..
Setelah semua ngumpul di resto, trus kita disuruh naik boatlagi.
Tadinya gw sama Liany pengen jalan kaki aja, sekalian liat rutenya.
Tapi leader-nya bilang pake boat aja biar cepet.
Oke lah…..
Naik boat 5 menit, sampe deh gw dan temen-temen di Pantai Iboih.
Gw tanya di mana spot snorkeling-nya?
Trus tu leader nunjukin perairan di depan Iboih, di depan Pulau Rubiah.
Hmm…… kayaknya gw males deh snorkeling saat ini, mending poto-poto aja.
Ngumpulin stok poto untuk wallpaper :D
sendirian…. teman-temannya mana ya?

deretan boat di sepanjang Pantai Iboih

santai bener ya si bapak….

siapa yang mau ke sini????? (ajak-ajak gw ya :D)
Akhirnya gw ga ikutan snorkeling siang itu.
Cuma nongkrong di pinggir pantai, sambil nyari-nyari spot yang bagus untuk difoto.
Siang itu Pantai Iboih lumayan rame.
Terlihat sekumpulan bule yang baru turun dari kapal dengan peralatan diving lengkap yang masih melekat di badannya.
Beberapa kelompok turis yang sedang snorkeling juga terlihat di spot yang ada di depan pantai.
tuh, liat deh airnya… jernih… jadi pengen nyebur

rombongan bule yang abis diving, hi sir, what do u think about Indonesia?
It’s really beautiful, huh?
Yang menarik perhatian gw, ada seorang anak kecil, bule, yang sedang dengan asyiknya main ayunan dengan menggunakan seutas tali tambang yang tergantung di pohon besar yang ada di pinggir pantai.
Menggunakan kaos merah, itu anak kecil, yang gw taksir umurnya ga lebih dari  5 tahun, dengan asyiknya berayun-ayun di seutas tambang besar.

ini nih yang jadi hiburan siang itu…. gemes liatnya


Di dekatnya, ada seorang gadis kecil, bule juga, bertelanjang dada, hanya menggunakan celana dalam kuning bercorak yang terihat sedang memperhatikan anak lelaki bule itu berayun-ayun.
Kayaknya sih itu adiknya ya….
Hmm….. itu bapak bulenya.
Menggunakan celana pendek selutut, bertelanjang dada terlihat berbicara dengan kedua anak kecil itu.
Ternyata, anak kecil bule itu mau juga main ayunan pake tambang.
Dan dengan tanpa rasa ngeri, anak perempuan kecil bule itu berpegangan di tambang, trus diayun oleh bokapnya.

yang kecil ikut-ikutan maen ayunan di situ


Seru banget liatnya!
Trus…. itu kakak beradik pangku-pangkuan dan berayun di tambang.
Yang gw liat cuma muka sumringah mereka yang ketawa-ketawa sewaktu tali tambang itu berayun ke arah laut dan pantai bergantian.
negosiasi, siapa duluan yang maen :D

yeaaayyyy….. I got it!
Puas ngeliat kelakuan bule-bule cilik itu, gw melipir ke arah kanan pantai.
Coba kita liat, gimana pemandangan di sebelah kanan sana.
Di bagian kanan Pantai Iboih, masih rada sepi.
Dan gw nemuin hamparan pasir putih yang masih bersih dari bekas jejak-jejak kaki.
Semacam ritual tiap gw ngetrip, selalu ada mereka yang gw ingat.
Ngers, gw ga pernah lupa lho dengan kalian…..
Ke mana pun gw ngetrip, nama Diengers tetep gw bawa.
Jadi lah gw mulai coret-coret di pasir, one of uspernah nyampe ke Iboih .^
hai Ngers, always remember all of u, everywhere I go

air laut yang jernih, tenang…. huhuhuhuhu….

sisi lain Pantai Iboih siang itu
Hari beranjak sore, teman-teman yang snorkeling1-1 mulai naik ke pantai.
Yuk ah, kita balik ke homestay.
Kali ini, balik ke homestay-nya jalan kaki.
Kesampaian juga gw mo liat rute ke homestay, on foot.
Jalan kaki rame-rame ke arah homestay, melewati deretan-deretan homestayyang berderet-deret di sepanjang Pantai Iboih, ternyata homestay di sini banyak banget.
hampir semua rumah penduduk punya usaha penyewaan life jacket
Nyampe homestay, bersih-bersih, trus makan malem.
Di sini gw dapet kejadian yang bikin selera makan mendadak ilang.
Ceritanya gw pesen capcay untuk menu makan malem ini.
Sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba mata gw nangkep sesuatu yang asing di potongan brokoli yang ada di mangkok.
Itu kan………… uleeeettttt…. hueeeeekkkkk……
Langsung ilang selera makan gw!
Waktu gw tunjukin itu ulet ke si ibu pengelola homestay, si ibu langsung menjerit.
Trus mukanya jadi ga enak gitu.
Trus…. gw ditawarin menu pengganti.
Haduh, ga deh bu, makasih, ntar dapet “bonus” lagi.
Gw cuma geleng-geleng kepala.
Abis makan yang diselingi insiden tadi, trus gw balik ke kamar.
Jam 9 malem gw udah siap-siap bobok manis.
Jam 9 di sini, udah sepi banget :D
Yang ada cuma suara jangkrik dan binatang-binatang malam.
No TV, mo update-update socmed juga sinyal kagak ada.
Mari lah…. kita bobok ajah… biar besok bisa liat sunrisedi dermaga.
Bangunin gw biar ga kesiangan hunting sunrise-nya….



Menjenguk Ujung Barat Indonesia #1 – Ngider di Banda Aceh

Hai… hai… long time no see :D
Apa kabar? Baik dong ya…
Gw mo share cerita nih… sekalian pamer klo udah sampe di ujung barat Indonesia tercinta ini… hehehehe…
Iya… gw udah sampe dong ke titik Nol km di Sabang, Pulau Weh, yeaaaayyyyy!!!
Dan beneran, Indonesia itu indah……….. banget!
Ya… walaupun gw baru nyampe di ujung baratnya, but so far i’ve seen, nothing else more beautiful than my Indonesia #gajadiahnyarisuakakenegaralaen :D
Yuk ah, cekidot hasil keliling-keliling gw di propinsi paling barat di Indonesia.
Let’s go!
Kamis, 24 Oktober 2013
05.00 wib
Jam segini, gw udah duduk-duduk manis di lounge bandara Soetta. Udah beres check-in, tinggal nunggu boarding, and…….. let me fly……
Nungguin boarding jam 06.20 wib, masih lama ya?
Liat kanan kiri, mayoritas orang-orang yang ada di ruang tunggu ini sibuk dengan gadget-nya. Trus? Gw juga mau sibuk dengan gadget gitu? Kayak robot ajah….
Ceki-ceki ada apa ya di tas gw???
Ok, cek lagi itinerary selama di Aceh, hmm…. mending gw liat-liat lagi deh rute solo tripnya, biar semua bisa didatangin.

yang ini modal ngebolang
ke ujung barat Indonesia
perlengkapan ngebolang
ke ujung barat Indonesia












Oh iya, sebenarnya kali ini pun trip gw barengan dengan beberapa teman yang tergabung di trip organizer yang gw ga mau sebutin namanya karena udah ngecewain banget pelayanannya. Ga lagi-lagi ikutan trip organizer ini.
Honestly, gw akhirnya memutuskan untuk join setelah dibujukin dengan teman-teman yang dulu pernah barengan trip ke Padang. Timbang sana, timbang sini, mikirnya pake lama…….. akhirnya mutusin ikut, tapi dengan catatan, gw ketemu rombongan di Banda Aceh aja, karena gw berangkatnya duluan. Dan entah itu kebetulan atau emang rejeki gw, beberapa bulan sebelum berangkat, tiba-tiba teman SMP gw kudu pindah dari Palembang ke Banda Aceh! What a miracle???

Udah susun rencana kalo gw akan mengunjunginya waktu masih stay di Palembang, ternyata terkabulnya bisa ketemu justru setelah dia pindah ke Banda Aceh.
Big thanks to Shinta, yang udah bersedia nampung gw, nyediain kamar yang bisa gw inapin semalam di Banda Aceh – bikin gw ngerasa homy, nyediain makan siang dan sarapan yang yummy banget, nasgornya jagoan Ta! Plus nganterin gw keliling-keliling Kota Banda Aceh dan mengunjungi beberapa situs yang selama ini cuma bisa gw liat saat berselancar di dunia maya. Eh iya, juga nraktir gw mie Aceh Razali (that’s for the first time-nya gw nyobain yang namanya mie Aceh, dan akhirnya bikin ketagihan :D), trus ngajakin gw hangout ke Cafe Mama, tempat gaulnya Kota Banda Aceh, hehehehe….
Okay, ceritanya gw lanjutin ya….
Jam 06.15 wib gw boarding, naek burung terbang yang sayapnya bengkok euy…. hihihihihi….
Kebetulan lagi, alhamdulillah, seat gw persis samping jendela, cuci mataaaaaaaa……
Jam 06.30 teng, si burung besi mulai pelan-pelan menapaki runway, makin lama makin kencang, dan akhirnya… wuuuusssssss………..I’m fly……..
Bye bye Jakarta………

nonton di sini…..
mari sarapan yang mengenyangkan…..
sluuurrrrpppp….





Penerbangan Jakarta-Banda Aceh memakan waktu kurang lebih 4 jam 15 menit. Lama yaaaa…..

Wokeh, mari kita coba nikmatin perjalanan panjang ini.
Eh iya, karena ini penerbangan panjang, ternyata di masing-masing seat udah tersedia layanan multimedianya bo…. hihihihihhi… gw norak :D
Ayo kita coba, ada apa ajah?
Ceki-ceki menunya, hmm… ada film The Heat!
Mari nonton…. sambil ngemil omelet… slurp….
Dan ternyata, blom juga setengah film, gw udah sukses bobok cantik dong :D
Bangunnya karena denger pengumuman klo pesawat mo transit di Kualanamu.
Wuuiihhh…… gw udah sampe Medan!


nebeng parkir bentar di Kualanamu Airport



Sebenarnya pesawat akan transit selama 30 menit untuk isi bahan bakar dan naikin penumpang, untuk penumpang yang transit kayak gw, dipersilakan untuk nunggu di lounge. Tapi…… gw males euy turun naik pesawat lagi. Ya udah, gw nunggu di dalam pesawat aja lah.

Gw liat, waktu transit itu, penumpang yang transit mungkin hanya sekitar 5 orang. Padahal waktu berangkat dari Jakarta, ini pesawat full lho….
Ternyata sebagian besar (mostly malah) mereka penumpang dengan tujuan Medan.

Udah transit 30 menit, pesawat udah isi bahan bakar, penumpang dari Medan juga udah naek (ga banyak juga ternyata, buktinya banyak seat yang kosong), si burung besi pun kembali terbang……
Nah…. dari Medan ke Banda aceh ternyata ga lama, cuma sekitar 30 menit.
Baru juga gw rencana mo merem lagi, udah ada pengumuman klo pesawat mo mendarat :D
Yeay…….. Banda Aceh, here i am!
Pertama-tama, sms ke Shinta, ngasi tau kalo udah sampe di Banda Aceh.
Trus…. mari kita cari taxi.
Nanya dengan petugas bandara, eh….. malah ditelponin taxi sama si bapak, katanya itu sodara dia. Makasih banyak ya pak untuk bantuannya ^.^
Oh iya, di Banda Aceh, ga ada taxi resmi seperti di Jakarta. Adanya taxi berupa mobil-mobil pribadi. Jadi jangan heran kalo liat yang disebut taxi di Banda Aceh adalah mobil-mobil jenis Avanza, Xenia, Innova dan teman-temannya.
Gw dapet taxi kenalan si bapak petugas bandara, Avanza silver. Driver-nya namanya Bang Taufik.
Fyi, untuk tarif taxi dari bandara ke pusat kota adalah 80 ribu. Itu standarnya.
Okey….. mari kita ke Jalan Teuku Umar, “Shinta, jemput di depan kompleks yaaaa”.
Yang gw suka di Banda Aceh, jalanannya ga macet! :D
Jadi perjalanan dari bandara ke pusat kota, lancar jaya.
Taxi silver ini mulai bergerak di atas hitamnya aspal Kota Banda Aceh. Roda bundarnya menggelinding perlahan namun pasti, mengarah ke pusat kota.
Perjalanan dari bandara ke pusat kota memakan waktu sekitar 30-45 menit, tergantung kecepatan kendaraannya.
Dari bang Taufik yang jadi driver gw hari ini, gw dapet cerita banyak tentang Aceh, khususnya tentang musibah besar di tahun 2004, yup, bencana tsunami.
Bagaimana bumi Aceh yang tenang, damai, dalam sekejap porak-poranda oleh bencana besar itu.
Sungguh manusia tiada daya di depan kuasa Allah SWT.
Jam 11.45 gw sampe di depan BTN, Jalan Teuku Umar, Banda Aceh.
Baru juga nurunin carrier dari taxi, Shinta dan Fika (ini anaknya Shinta yang bontot), udah ada di depan kompleks. Alhamdulillah….. ketemu juga dengan sahabat sewaktu SMP, yang udah ga ketemu sekitar 22 tahun!!!
Kangennyaaaaaaaaa……..

Trus gw diajak Shinta ke rumahnya, langsung disuguhin makan siang. Hmm…. yummy….. enak! :D
Cerita-cerita sambil menikmati suguhan nasi putih panas, tumis buncis, kering tempe teri, tempe goreng. Sesekali mendengarkan celotehan Fika yang baru umur 5 tahun. Nostalgia, mengingat-ingat cerita-cerita masa SMP dan awal SMA.
Ketawa ngakak begitu teringat bandelnya waktu SMP :D
Andai tak ingat dengan schedule solo trip yang udah gw bikin, rasanya males untuk keluar rumah dan menghentikan acara temu kangen ini. Tapi kan gw pengen liat kota Banda Aceh sebelum besok pagi berlayar ke ujung baratnya, yes! Besok gw akan ke Sabang, Pulau Weh.
Setelah beres-beres, dan Shinta siap dengan mio-nya, yeeaaayyyy…. gw akan keliling Kota Banda Aceh dianter Shinta….. Thanks a lot Ta!…. #ketjupbasah :D
Destinasi pertama, Museum Tsunami.


Museum Tsunami

Jalan masuk ke Museum Tsunami


Kolam di tengah bangunan
Museum Tsunami


Museum yang didirikan oleh kerjasama negara-negara yang memberikan bantuannya kepada Indonesia pasca terjadinya bencana Tsunami ini terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda, Kota Banda Aceh. Museum ini merupakan pusat pengetahuan dan menyimpan berbagai peninggalan bencana Tsunami 2004 yang telah lalu.

Memasuki bangunan museum, kita akan disuguhi kolam besar berbentuk oval, dikelilingi dengan batu-batu bulat yang bertuliskan nama negara-negara pemberi bantuan. Di dalam kolam, terlihat ikan mas berenang ke sana ke mari. Di bagian atas kolam, tergantung bendera negara-negara pemberi bantuan.


Menaiki tangga landai melingkar, gw sampai di bagian ruang pamer. Di situ kita bisa melihat barang-barang peninggalan bencana Tsunami. Ada jam besar yang berhenti berdetak persis pada saat air bah menyapu seantero Kota Banda Aceh. Ada juga sebuah motor berwarna merah yang hanya tinggal kerangkanya akibat tersapu Tsunami.


Jam yang berhenti berdetak persis pada
saat gelombang Tsunami menghantam
Kota Banda Aceh


Beberapa diorama Tsunami juga dipajang di ruangan itu. Bagaimana gambaran sesaat sebelum Tsunami menerjang, air laut surut, dan ikan-ikan terdampar di sepanjang pantai. Yang membuat masyarakat di sekitar pantai dengan rasa penasaran mendekati bibir pantai dan mengumpulan ikan-ikan yang terdampar itu. Tanpa mereka sadari bahaya besar yang mengintai, gelombang air bah yang sangat deras dan dahsyat yang kemudian menghantam pantai dan orang-orang yang sedang berada di sekitarnya. Menenggelamkan dan menyapu semua yang ada di depannya tanpa pandang bulu.

Dari ruang pamer, gw akhirnya memasuki ruangan theater. Di sini akan diputar film pendek mengenai bencana Tsunami.
Memasuki ruangan theater yang gelap, mendadak rasa sunyi dan dingin merambat di tubuh gw. Mengambil kursi di bagian tengah ruangan, gw siap menyaksikan detik demi detik yang mencekam. Film dimulai dengan audio lantunan ayat suci yang membuat suasana sedih dan menyadarkan gw bahwa tiada kuasa melebihi kuasa Allah SWT.

Frame demi frame yang ditayangkan memperlihatkan betapa dahsyatnya bencana yang terjadi. Menyapu bersih Kota Banda Aceh. Bagaimana orang-orang berusaha dengan sekuat tenaga menyelamatkan diri dan keluarga serta siapa pun yang ada di sekitarnya dari terjangan air bah. Kota Banda Aceh yang tenang pagi itu menjadi riuh dengan hiruk pikuk teriakan orang-orang yang menyelamatkan diri, takbir berkumandang di seantero kota.

Gw melihat bagaimana berbagai kendaraan tersapu oleh air bah, bangunan-bangunan yang seketika luluh lantak diterjang air yang datang bertubi-tubi. Beribu tubuh kaku manusia terombang-ambing mengikuti derasnya aliran air bah yang menggerus Kota Banda Aceh.
Film pendek berdurasi hanya sekitar 30 menit itu sukses membuat gw mewek.
Ga terbayang gimana perasaan mereka yang mengalaminya secara langsung.
Nama-nama korban bencana Tsunami 2004 terpasang rapi di sebuah ruangan khusus
(semoga mereka semua khusnul khotimah, aamiin)


Selesai menyaksikan film pendek, gw melanjutkan untuk melihat ruang foto. Di situ terpajang lengkap dokumentasi bencana Tsunami. Berbagai foto yang menggambarkan betapa bencana Tsunami di tahun 2004 itu telah meluluhlantakkan Kota Banda Aceh terpasang berderet-deret. Melihat bagaimana proses evakuasi dan pencarian korban di tengah kehancuran kota. Melihat betapa nilai kemanusiaan itu tidak memandang bangsa, agama dan kasta. Berbagai negara, dengan perbedaan warga negara, agama, warna kulit, pekerjaan, bersama-sama, tolong-menolong di dalam proses recovery bencana. Di sini gw melihat indahnya kebersamaan dan semangat tolong-menolong, rasa kemanusiaan yang tergambar dari perilaku semua orang yang bekerjasama.

Selesai ngider di seluruh ruangan yang ada di bagian atas museum, gw kembali menuruni tangga landai melingkar. Kembali ke area kolam di tengah bangunan museum ini. Di sisi lain lantai ini terlihat bangkai sebuah helikopter yang setengah bagiannya hanya berupa kerangka besi yang udah karatan. Ternyata itu adalah bangkai helikopter yang menjadi korban bencana.
Bangkai helikopter yang dihantam gelombang Tsunami

Kherkoff


Di samping Museum Tsunami, gw melihat Kherkoff. Yup, kompleks pemakaman Belanda yang di bagian tengahnya terdapat makam dari anak Sultan Iskandar Muda (Peutjoet) yang dihukum oleh ayahnya sendiri karena telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Sultan Iskandar Muda, yang pernah menjadi pemimpin Aceh pada tahun 1607-1635 terkenal sebagai seorang pemimpin yang adil dan bijaksana. Keadilan itu dibuktikan dengan menghukum putra kandungnya sendiri yang telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Sebagai pengingat, putranya kemudian dimakamkan di kompleks pemakanam Kherkoff, sehingga bisa menjadi contoh di kemudian hari.

Dari Museum Tsunami, gw kemudian menyeberangi jalan kota untuk sampai ke Lapangan Blang Padang. Blang Padang merupakan lapangan di pusat Kota Banda Aceh, seperti alun-alun kota yang sekarang menjadi pusat kegiatan masyarakat Banda Aceh. Berbagai aktivitas dilakukan oleh masyarakat di situ, seperti berolah raga, bersantai, dan lain-lain.
Di siang menjelang sore itu, gw melihat banyak masyarakat Banda Aceh yang sedang berolah raga, jogging, bermain sepak bola, senam, dan sebagainya. Di sisi lain lapangan, gw melihat sekumpulan anak muda yang sedang duduk bersenda gurau dengan teman-temannya.
Di lapangan Blang Padang ini gw melihat replika RI 1 yang merupakan pesawat terbang pertama yang dimiliki oleh Indonesia. Pesawat terbang yang diberi nama Seulawah RI 1 itu adalah pesawat yang dibeli seharga USD 120.000 atau setara dengan 25 kg emas, merupakan sumbangan masyarakat Aceh pada saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Replika RI 001, Seulawah

Masih di lapangan Blang Padang juga, gw melihat Monumen Thank’s to the World. Monumen yang menjadi kenang-kenangan dan ucapan terima kasih kepada para negara yang telah memberikan bantuan pada saat terjadinya bencana Tsunami.
Monumen Thank’s to the World

Negara-negara yang membantu recovery pasca bencana Tsunami

Salah satu monumen yang ada di Lapangan Blang Padang



Dari lapangan Blang Padang, gw dan Shinta meneruskan perjalanan ke lokasi PLTD Apung. PLTD Apung ini merupakan kapal milik PLN yang awalnya berada di perairan, sekitar 3 km dari pusat kota. Pada saat terjadinya bencana Tsunami, gelombang besar telah menghanyutkan PLTD ini hingga ke tengah kota. Memasuki kompleks PLTD Apung, di bagian kanan gw melihat sebuah monumen yang dikenal dengan Monumen Tsunami. Monumen berbentuk kerucut segi 6 yang terletak di tengah sebuah halaman beton, di bagian belakangnya berdiri dinding beton yang dilengkapi dengan diorama perjalanan PLTD Apung dari lokasi awalnya di laut, hingga terdampar di wilayah Gampong Punge Blang Cut.

Di sisi-sisi kerucut segi 6 itu terpampang nama-nama korban Tsunami dari Gampong Punge Blang Cut.
PLTD Apung di Gampong Punge Blang Cut

Monumen Tsunami
Setelah melihat PLTD Apung, Shinta ngajak gw ke pinggiran Kota Banda Aceh. Yup, sore itu gw diajak Shinta untuk melihat Pelabuhan Ulee Lheue, yang menjadi pelabuhan yang akan menghubungkan Banda Aceh dengan Sabang. Jadi, besok pagi gw akan nyeberang ke Pulau Weh dari sini.
Setelah menanyakan jadual kapal untuk besok pagi, gw diajak Shinta untuk menikmati sore di pinggir laut. Sambil menikmati jagung bakar dan kelapa muda, perfecto!


Sore itu di tepi Pelabuhan Ulee Lheue

Menikmati sore di pinggir laut, merasakan semilir angin laut yang bertiup, harumnya aroma laut, cahaya mentari yang semakin lama semakin menjadi jingga, membuat gw seolah ga mau beranjak.
Oh iya, di sini gw melihat patroli dari petugas keamanan khusus yang biasa disebut Wilayatul Hisbah (WH) mereka melakukan patroli di seputar kota untuk menjaga kota dari tindakan-tindakan pelanggaran syariat Islam yang mungkin terjadi.
Menjelang senja

Matahari telah di ujung garis horison ketika gw dan Shinta beranjak dari sana. Tujuan setelah ini adalah Mesjid Agung Baiturrahman. Saksi bisu bencana Tsunami, yang telah menyelamatkan beratus-ratus nyawa manusia yang berlindung di dalamnya ketika air bah menerjang pusat Kota Banda Aceh. Gw pengen ngerasain sholat Maghrib di sana.
Sebelum sampai di Mesjid Agung Baiturrahman, gw sempet singgah di kompleks Taman Sari Gunongan. Gunongan merupakan sebuah kompleks taman sari yang dulunya merupakan hadiah bagi Putri Phang, permaisuri dari Sultan Iskandar Muda. Taman itu dibangun karena sultan sangat mencintai permaisurinya dan agar sang permaisuri tidak kesepian bila ditinggal oleh sultan menjalankan pemerintahan. Sultan membuat Gunongan sebagai hadiah kepada istrinya yang masih merupakan keturunan dari kerajaan Pahang agar sang puteri dapat mengobati rasa rindunya kepada kampung halamannya. Gunongan dibuat sama persis dengan lingkungan kerajaan tempat sang puteri berasal.
Sempat mengambil beberapa frame, perjalanan dilanjutkan ke tujuan akhir hari ini, Mesjid Baiturrahman.
Situs cagar budaya Taman Sari Gunongan

Taman Sari Gunongan

Senja itu, suasana di sekitar Mesjid Baiturrahman sangat adem.
Cahaya mentari senja berwarna jingga keemasan menghiasi langit di sisi kiri mesjid. Sangat kontras dengan putihnya bangunan mesjid dan kubah yang coklat gelap.
Hamparan awan putih menghiasi langit yang memayungi Mesjid Baiturrahman.
Di halaman mesjid, tampak masyarakat Banda Aceh yang akan menunaikan sholat Maghrib.
Gw bergegas menuju tempat wudhu di sisi kanan mesjid, ga mau ketinggalan merasakan sholat di mesjid yang penuh barokah ini.

Mesjid Agung Baiturrahman senja itu

Alhamdulillah… nyampe juga ke mesjid bersejarah ini


Merasakan sholat maghrib di bagian bumi yang jauh dari kota kelahiran, di tanah yang sempat menjadi saksi bisu bencana besar di Indonesia, di kota yang terletak di ujung barat negeri tercinta ini, di tengah-tengah manusia yang blom gw kenal, tapi gw ngerasa seperti berada di tengah-tengah keluarga.

Senyum tulus seorang ibu tua di sebelah gw setelah salam membuat gw mendadak kangen banget sama nyokap. Sebelum gw berangkat ke Aceh tadi pagi, gw sempet telepon nyokap, trus nyokap pesen “Mbak, sempetin sholat di Mesjid Baiturrahman. Aceh kan katanya serambi Mekkah, berdoa di sana, semoga kamu bisa segera sampe untuk beribadah di Baitullah”.
Whuaaaaaaaa…… mendadak mbrebes mili ini mata gw.

Bagian dalam Mesjid Baiturrahman


Sebelum beranjak meninggalkan mesjid, gw sempet melihat arsitektur bagian dalam. Pilar-pilar putih yang berbentuk pintu dan kubah terlihat di bagian dalam mesjid. Langit-langit putih dibuat berkotak-kotak dengan ornamen didominasi warna hijau dan kuning. Lampu antik tergantung di langit-langit. Lantai perselen membuat suasana di dalam mesjid sangat adem.






Interiornya begitu menyejukkan


Keluar dari mesjid, langit telah berubah menjadi gelap. Hanya cahaya lampu dari mesjid yang menjadi penerang. Mesjid Baiturrahman terlihat bercahaya malam itu. Kubahnya mengeluarkan semburat emas, cahaya putih memancar dari setiap pintunya.

Gw yang sedang belajar motret berusaha menangkap moment itu. Speechless liatnya.
Di bagian depan mesjid, berdiri menara dan sebuah gerbang. Dan malam itu pun, ke-2 bangunan itu menambah agungnya Mesjid Baiturrahman.

Menara dan gapura yang menambah kemegahan Mesjid Agung Baiturrahman


Selesai mengambil 1, 2 frame, Shinta ngajak gw pulang dulu ke rumah, sebelum lanjut hangout menikmati suasana malam di Kota Banda Aceh.

Malam itu Shinta janji mo nraktir gw mie Aceh yang terkenal, Mie Razali. Katanya itu mie Aceh yang paling ngetop di sana. Dan asal tau aja, ini lah pertama kalinya gw makan mie Aceh :D
Gw mesen mie rebus udang+daging kali ini. Ga pake lama, sepiring mie rebus dengan kuah kentalnya yang berwarna coklat dan potongan-potongan udang+daging udah terhidang di depan gw. Ditemani sepiring acar yang isinya irisan bawang merah yang telah ditumis ½ matang dan rawit plus segelas jus wortel. Sluuuurrrrrppppp……. ternyata mie Aceh itu enak yak :D
Kenapa ga dari dulu ya gw nyobain makannya? Kenapa nunggu sampe ke Aceh dulu baru gw nyobain makanan enak begindang? Hehehehehehehe….


nih, list menu di Mie Razali
klo ini pesenan gw
mie udang+daging plus jus wortel















Selesai makan mie Aceh, Shinta ngajak gw keliling kota pake motor.
Menikmati udara malam di bumi serambi Mekkah, melihat berbagai aktivitas masyarakatnya.
Dan akhirnya kami singgah di Cafe Mama, yang konon katanya tempat gahooollnya orang Aceh :D
Di sini, kata Shinta, roti canainya enak.
Oke, baiklah…. mari kita coba.
Gw mesen roti canai duren. Hmm…. suapan pertama (mikir), hmm…. suapan kedua (nyam nyam), suapan ketiga, enaaaaaaaaaaaakkkkkkk….. sumpah!
Beneran ini kata Shinta, roti canainya juara!
Malam ini di atas motor dalam perjalanan pulang ke rumah Shinta, gw cm bisa elus-elus perut yang kekenyangan. Alhamdulillah…… rejeki…. makan enak dan gratis pula :D (sering2 aja ya Ta…. betah deh gw :D)
Setelah mandi dan bersih-bersih, gw pun siap untuk bobok cantik malam ini.

See u tomorrow ya….. berlayar kitaaaaa…..