Bukittinggi – Menguak Tabir Lobang Jepang, Benteng Fort de Kock, Jembatan Limpapeh, Taman Margasatwa Wisata Kinantan sampai Jam Gadang


icon Kota Bukittinggi

— Masih Day-1 —


Ini lanjutan cerita perjalanan setelah rombongan mengunjungi Puncak Lawang. Kami memasuki Kota Bukittinggi menjelang sore, lumayan jauh juga perjalanan dari Puncak Lawang ke Bukittinggi. Tujuan pertama di Kota Bukittinggi ini adalah Panorama. Panorama ini boleh dibilang adalah sebuah taman hiburan. Di dalam kompleksnya terdapat taman margasatwa (gw sih biasanya bilang itu kebun binatang), Lobang Jepang, benteng Fort de Kock, deretan toko-toko yang menjual suvenir, dan juga view Ngarai Sianok dari kejauhan.


Ditemani rintik gerimis, dan suasana sore yang basah, langkah kaki kami mengarah ke area Lobang Jepang. Eh… sampe di mulut Lobang Jepang, koq rame orang bergerombol??? Kirain ada apa, ternyata…. penerangan di lokasi Lobang Jepang sedang padam. Gelaaaaaaaaaappppppp….





Tangga yang merupakan pintu masuk ke Lobang Jepang

Kasak-kusuk nih sama teman-teman “Masuk ga? Klo masuk kan gelap, gimana dunks?”
Udah terlanjur berbasah-basah dan dingin begini ya… udah beli tiket dan udah sampe di mulut lobang, mana kita kan datengnya dari jauh… nyebrang laut lho pake kapal terbang… tanggung aaaahhhh… yuk, kita masuk aja! Lagian kan si uda guide-nya juga ngebawain emergency lamp. Akhirnya kami sepakat tetap masuk ke Lobang Jepang dalam keadaan gelap, dengan penerangan dari emergency lamp.



Bagian dalam Lobang Jepang


Untuk memasuki Lobang Jepang, kami harus menuruni sederetan anak tangga. Posisinya cukup curam, sehingga uda guide pun menyarankan kami untuk mengambil posisi di tengah anak tangga dan berpegangan tangan… eh maksudnya berpegangan pada besi pembatas tangga. Pelan-pelan gw menuruni anak tangga itu, sambil tetep pegangan ke besi yang ada di sisi kanan. Udara dingin dan lembab menyeruak dari dalam lobang. Semakin ke bawah terasa semakin adem :D
Beruntung gw tadi di mobil sebelum turun sempet nyamber jaket, jadi ga terlalu dingin deh….



Lorong yang gelap dan panjang ini hasil
kerja keras para romusha
Ini ada sedikit cerita tentang Lobang Jepang based on what “uda” told us.
Lobang Jepang dibuat sekitar tahun 1942-1945 pada masa penjajahan Jepang dengan mengerahkan tenaga kerja romusha yang diambil dari penduduk Indonesia yang berasal dari luar Pulau Sumatera. Kenapa harus dari luar Pulau Sumatera? Alasannya sangat simple, karena penduduk dari luar Pulau Sumatera tidak mengenal daerah Bukittinggi, dan klo pun mereka kabur, mereka ga bisa berkomunikasi dengan penduduk lokal. Cerdas ya itu Jepun-Jepun…
Di dalam lobang Jepang ditemukan ruangan-ruangan (biasanya disebut lorong) dengan fungsi sebagai berikut:
– 6 ruangan amunisi;
– 12 ruangan barak prajurit;
– 1 ruang dapur;
– 1 ruang rapat;
– 1 ruang makan romusha;
– 1 ruang penjara
– 3 pintu emergency/pelarian.


Salah satu ruang amunisi dari 6 ruangan serupa

Lobang Jepang ini panjangnya 5.5 km, namun yang sekarang difungsikan sebagai obyek wisata baru sepanjang 1475 meter, artinya masih ada sekitar 4025 meter lagi Lobang Jepang yang membentang di bawah Kota Bukittinggi yang belum dibuka untuk umum karena pertimbangan keamanan (sirkulasi udara yang belum memadai apabila difungsikan sebagai obyek wisata).


Nah… karena 40% Kota Bukittinggi memiliki Lobang Jepang, maka di Bukittinggi tidak ada bangunan yang tingginya lebih dari 5 lantai dengan alasan safety. Selain di Bukittinggi, ternyata masih ada 2 Lobang Jepang lagi yang ada di Indonesia, yaitu di Bandung (daerah Dago Pakar) dan Papua (di bawah Kota Biak). Kebayang ga sih seandainya Jepang ga kalah perang? Dan Kota Hiroshima – Nagasaki-nya ga dibom atom oleh sekutu??? Bisa jadi semua kota yang ada di Indonesia ini, ada Lobang Jepang-nya semua lho……. kyaaaaaaaaaaaaaaa…..


Lobang Jepang dengan dinding batu cadas/gunungnya

Ruangan-ruangan atau lorong-lorong yang ada di dalam Lobang Jepang masing-masing panjangnya 29 meter. Dan lorong-lorong tersebut letaknya paralel satu sama lain, dan saling berhubungan. Hal ini disengaja oleh Jepang dengan alasan apabila ada romusha yang berusaha melarikan diri akan tersesat dan berputar-putar dari lorong satu ke lorong yang lain tanpa bisa mencapai pintu keluar. Jarak antara lorong satu dengan lorong lainnya hanya sekitar 5-6 meter. Lobang Jepang ini dinding dan tanahnya merupakan batu cadas/batu gunung, sehingga kedap air, dan diperkirakan juga tahan terhadap getaran bom. Pembuatan Lobang Jepang itu sendiri hanya menggunakan peralatan sederhana berupa cangkul, linggis dan pahat. Siapa yang membuat Lobang Jepang??? Ya tentu saja para romusha yang diculik oleh Jepang dan kemudian dipekerjakan secara paksa tanpa imbalan! Sebel yak??? #pasangtaring

Tinggi lobang Jepang hanya sekitar 1 meter 70 centi, hal ini disesuaikan dengan tinggi postur prajurit Jepang pada saat itu yang ga terlalu tinggi.



Ini ruangan penjara yang menjadi tempat
penyiksaan para romusha

Di Lobang Jepang ini ada juga 1 ruangan yang dulunya difungsikan sebagai ruang makan para romusha, karena pada saat ditemukan terdapat peralatan-peralatan makan berupa gelas yang terbuat dari bambu dan piring dari batok kelapa…. whuaaaaaaa… hiks… kasian bener yaaa… para romusha itu… #prayforthem


Ruangan yang paling besar di Lobang Jepang ini diperkirakan dulu difungsikan sebagai ruangan meeting, karena pada saat ditemukan terdapat bekas-bekas pembakaran berkas/dokumen, meja-meja besar dan kursi-kursi.











Lubang pembuangan…
(entah sudah berapa ribu tubuh romusha
yang dibuang melalui lubang ini langsung
terjun bebas ke Sungai Ngarai Sianok)
Ruang penjara yang ada di Lobang Jepang ini panjangnya lumayan juga, sekitar 42 meter. Fungsinya bukan untuk menahan orang lho… tetapi sebagai tempat penyiksaan bagi romusha-romusha yang dianggap melawan terhadap Jepang (huhuhuhuhu… kejam banget… #lapairmata).

Jadi, romusha-romusha yang dianggap ga nurut terhadap Jepang (ya iya lah… ngapain juga nurut sama penjajah???) akan disiksa di ruangan penjara selama 1 atau 2 hari. Kemudian akan dibawa ke ruangan “dapur”. Ruangan ini bukan “dapur” beneran lho… tapi hanya kamuflaseJepang supaya para romusha itu ga curiga. Aslinya ruangan ini adalah ruangan untuk eksekusi!!!


Jadi romusha yang udah disiksa dibawa ke ruangan ini, untuk selanjutnya dieksekusi, dihabisi dan kemudian mayatnya dibuang melalui lubang pembuangan yang ada di sudut dapur. Lubang pembuangan itu sendiri panjangnya 72 meter yang berujung pada sungai Ngarai Sianok. Kenapa mayat dari para romushaitu justru dibuang melalui lubang pembuangan??? Ternyata jawabannya adalah, karena lubang pembuangan itu berujung pada Sungai Ngarai Sianok, maka apabila ada mayat yang hanyut tidak akan memancing perhatian penduduk, karena akan disangka mayat dari peperangan (kan waktu itu Indonesia sedang perang melawan Jepang).



Pintu pengintaian, tempat prajurit Jepang
mengintai penduduk pribumi

Di atas lubang pembuangan terdapat lubang pengintaian sepanjang 20 meter ke arah atas. Dari lubang pengintaian itu dulu prajurit Jepang melakukan pengamatan dan pengintaian terhadap penduduk Bukittinggi sebelum kemudian melakukan penyergapan, baik itu untuk hasil buminya, maupun untuk tenaga pekerja paksa (tapi untuk pekerja paksa, apabila yang tertangkap adalah masyarakat lokal, maka langsung dibunuh dengan alasan keamanan).















Di dalam Lobang Jepang terdapat beberapa pintu emergencyatau pelarian yang sesuai rencana Jepang akan digunakan untuk prajuritnya melarikan diri apabila terjadi penyergapan dari tentara sekutu maupun rakyat Indonesia. Namun karena keberadaan Lobang Jepang itu baru diketahui pada tahun 1946, setelah dibom atomnya Kota Hiroshima dan Nagasaki, pintu pelarian itu belum pernah digunakan oleh Jepang.
Salah satu lorong menuju pintu pelarian
Pintu pelarian yang tembus ke arah Ngarai Sianok




















Dinding Lobang Jepang dibuat tidak rata, tetapi berlekuk-lekuk, kenapa demikian? Ternyata hal itu disengaja, pertama untuk tempat penyangga obor karena dulu penerangan di dalam lobang hanya menggunakan obor (secara ya cyiiiinnn… blom ada listrik kan dulu…). Kedua, ternyata permukaan dinding yang tidak rata itu juga berfungsi sebagai peredam suara, sehingga suara-suara yang timbul pada saat pembuatan Lobang Jepang tidak terdengar ke luar. Begitu juga dengan suara-suara teriakan para romusha yang disiksa dan dihabisi, tidak terdengar keluar.

Hingga saat ini, ada 2 pertanyaan besar yang belum terjawab terkait dengan keberadaan Lobang Jepang di Kota Bukittinggi ini:
  1. Berapa banyak romusha yang meregang nyawa dalam proses pembuatan Lobang Jepang? Karena pada saat ditemukan, terdapat beribu-ribu kerangka manusia di sana.
  2. Untuk Lobang Jepang sepanjang 5.5 kilometer, ke mana tanah galiannya dibuang?

Sampai detik ini pun 2 pertanyaan itu blom ada yang bisa jawab, karena tidak ada saksi hidup pada saat penemuan Lobang Jepang di tahun 1946.


Relief di pintu keluar Lobang Jepang
Relief di pintu keluar Lobang Jepang

Hmm… cerita Lobang Jepangnya sampe di sini aja ya… bonusnya ini gw share beberapa foto bagian dalam Lobang Jepang dan reliefyang ada di pintu keluar Lobang Jepang (liat reliefnya aja udah kebayang gimana penderitaan para romusha itu waktu menggali Lobang Jepang #whuaaa #tissuemanatissue).

Relief kekejaman Jepang terhadap penduduk pribumi

Relief kekejaman Jepang terhadap penduduk pribumi


Penunjuk Lokasi Benteng Fort de Kock

Benteng Fort de Kock

Beres explore Lobang Jepang, selanjutnya gw dan teman-teman mo liat Benteng Fort de Kock dan Jembatan Limpapeh yang kebetulan berada dalam 1 lokasi yang sama.
Dalam bayangan gw, yang namanya benteng itu adalah sebuah bangunan gede dari beton, tinggi, kokoh menjulang dengan lubang-lubang pengintaian, dan meriam-meriam yang siap memuntahkan pelurunya. Ternyata Benteng Fort de Kock ini hanyalah sebuah bangunan beton kira-kira berukuran 6×6 meter dengan tinggi sekitar 7-8 meter.
Gw hanya melihat benteng ini dari luar, tanpa mencoba untuk naik ke atasnya.






Prasasti batu berisi sejarah Benteng Fort de Kock
Meriam di pelataran Benteng Fort de Kock



















Jembatan Limpapeh, merentang megah
membelah Jl. Ahmad Yani Kota Bukittinggi di bawahnya
Jembatan Limpapeh

Perjalanan lanjut terus ke Jembatan Limpapeh. Jembatan Limpapeh ini merupakan sebuah jembatan gantung yang melintas di atas Jl. Ahmad Yani Bukittinggi, yang menghubungkan kawasan Benteng Fort de Kock dan Taman Margasatwa Budaya Kinantan. Panjang jembatan ini sekitar 90 meter, lebar 3.8 meter, dengan kawat-kawat baja yang terentang memegangi batang jembatan serta pelat-pelat aluminium pada permukaan jembatan.










Selamat datang di Rumah Adat Baanjuang

Rumah adat Baanjuang

Menyeberangi Jembatan Limpapeh, kami sampe di kawasan Rumah Adat Baanjuang. Dan sekali lagi gw melongo dengan mata berbinar-binar ngeliat desainnya. Masih ditemani gerimis cantik dan wangi tanah serta rumput basah (hmm…gw sangat suka suasana seperti ini), gw dan teman-teman mulai menaiki tangga rumah gadang ini. Rumah Adat Baanjuang hanya 1 lantai, di dalamnya penuh dengan etalase yang berisi miniatur pakaian adat dari berbagai daerah di Minangkabau, peralatan makan, perlengkapan upacara adat, berbagai senjata, dan masih banyak lagi. Di sisi kanan rumah gadang ini terdapat sebuah pelaminan, lemari untuk menyimpan senjata, dan beberapa perlengkapan adat lainnya.



Diorama kehidupan masyarakat Minangkabau
(lumbung padi, aktivitas menumbuk padi, mengayak, dan bercocok tanam)

Di halaman rumah gadang terdapat patung wanita Minang yang sedang menumbuk padi, lengkap dengan lesung dan alunya. Ada juga bangunan lumbung padi, sepasang wanita-pria dengan pakaian adat Minangkabau di depan tangga rumah gadang, seolah-olah menyambut tamu yang akan berkunjung.


Beres explore Rumah Adat Baanjuang, kami pun bergerak kembali ke kawasan Panorama, nyamperin si unyu yang setia menunggu di sana. Huft….. baru hari pertama trip, kakinya udah berasa butuh rebonding…. pegel boooo…
Tujuan selanjutnya…… Hotel Grand Kartini…. yoi, malam ini kami akan nginep di situ, sambil melewatkan malam minggu di Kota Bukittinggi.
Ayo kita capcus ke hotel….. sapa tau bisa rebahan 1 atau 2 jameh… menit ding :D
Si unyu bergerak dari area parkir Panorama, menyusuri aspal basah. Ga pake lama, kami pun tiba di depan Hotel Grand Kartini. Ini nih penampakan papan namanya :D hehehehehe….

Di sini nih nginepnya


Sampe hotel, check-in, bagi kamar, gw kebagian kamar 303 sharing sama Rini. Ayo kita liat gimana suasana di dalam kamarnya…..

Eh…. kamar 303 itu artinya di lantai 3 kan ya??? Tapi ini mana lift-nya ya? Baiklah…. daripada ribet, mari kita lewat tangga aja… skalian olahraga :D huft…huft…huft… (sampe pulang pun, gw ga nemu dan ga nyari juga sih, di mana lokasi lift-nya).


Ternyata kamar gw persis di depan tangga lantai 3, sementara teman-teman yang lain masih harus jalan lagi lebih jauh… hehehehehe… lucky me waktu milih kamar langsung ambil nomor 303 :D


Baru juga naro carrier di pojokan kaman, trus ngelurusin badan, si Rini langsung kabur ke kamar mandi, mo mandi katanya. Tapi tiba-tiba tok-tok-tok pintu diketok dari luar. Haduuuuuhhhhh… sapa sih?????
Gw buka pintu, eh… udah ada Hendra di depan pintu dan bilang “Ayo jalan ke Jam Gadang”. Hahhhhhh???? Jalan lageeeeeee???
Rini dari kamar mandi nyembulin kepala dan langsung bilang “Kita jalan lagi? Aku ga jadi mandi deh” ahahahahahahahaha……. gw cuma bisa ngakak.
Jam 6 sore itu, ketika kami mulai menyusuri aspal basah, keluar dari hotel menuju Jam Gadang. Berjalan di emperan toko, berusaha menghindari tetesan air hujan, akhirnya kami sampai di lokasi Jam Gadang.
Finally, I’m Here! Yeah!!!
Oooooohhh… ini ternyata ikon Kota Bukittinggi yang terkenal itu???
Berdiri dengan kokohnya di tengah-tengah sebuah taman kota, dikelilingi dengan kompleks pasar tradisional yang berbaur dengan pasar modern dan pertokoan. Di kawasan Jam Gadang banyak gw liat pedagang asongan yang menjual aneka barang…. aneka makanan kecil, minuman, permainan anak-anak, dan lain-lain.
Yeaaaaayyyyyy….. gw ada di depannya lhooooo….. poto ah poto…..

Klo selama ini gw cuma liat gambar Jam Gadang dari inetdan foto-foto racun dari teman-teman yang udah pernah ke sini, kali ini gw bisa liat langsung!
Lupa dengan cerita gerimis yang tadi sempet bikin basah dan jalannya pake loncat-loncat, gw ga mau lagi kehilangan moment sore basah di depan Jam Gadang ini.
Cekrek… cekrek… gw berusaha motret Jam Gadang dari angle paling seksi :D
Mumpung masih rada terang….

Trus mata gw mulai menelusuri susunan angka di jam yang unik itu…. bener lho…di Jam Gadang itu, angka 4-nya ditulis IIII, bukan IV!
Unik dan ga biasa penulisan angka di jam-nya.


Sejarah Jam Gadang perlu gw share di sini ga???
Hmm… gw share dikit kali ya….
Jam Gadang merupakan landmark Kota Bukittinggi. Dibangun di tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh putra pertama Rook Maker (Controleur pada saat itu) yang waktu itu berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota).
Coba perhatiin angka 4-nya
Tinggi Jam Gadang ini adalah 26 meter. Konstruksi aslinya hanya berbentuk bulat dengan diameter 80 cm, ditopang basement dasar berukuran 13 x 4 meter.
Angka yang tertera di Jam Gadang itu juga unik. Angka IV-nya ditulis IIII. Dan yang perlu diketahui adalah, mesin penggerak Jam Gadang itu cuma ada 2 di dunia!!!

Tau dong yang 1 lagi ada di mana??? Yup, mesin kembaran Jam Gadang sampai saat ini terpasang di Big Ben, Inggris. Mesin kedua jam itu bekerja secara manual, yang oleh pembuatanya, Forman, disebut Brixlion. Dan menurut cerita, pembangunan Jam Gadang itu dulu menghabiskan biaya sebesar 3.000 Gulden.
Seiring perjalanan sejarahnya, terdapat perubahan pada ornamen Jam Gadang. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di atasnya. Kemudian pada masa penjajahan Jepang, ornamennya diubah menjadi klenteng. Dan pada masa setelah kemerdekaan, ornamennya diubah menjadi berbentuk gonjong, rumah adat Minangkabau.

Cukup kan info tentang Jam Gadang dan perkembangannya? Foto Jam Gadang-nya cukup itu aja ya… honestly, gw rasanya pengen posting foto Jam Gadang banyak-banyak, karena diliat dari sudut mana pun, gagahnya tetap terlihat.


Hmm… trip hari pertama ke Minangkabau ditutup dengan makan malam di warung tenda. Dan ini lah kali pertama (beneran lho… gw blom pernah makan sate Padang sebelumnya) gw nyobain sate Padang yang asli Bukittinggi! Ditemani dengan seporsi Es Tebak (ga sempet difoto es-nya… keburu abis duluan :D).

Mari makan……..
Abis makan sate Padang, balik ke hotel, bersih-bersih, dan…….. mari bermimpi….



Suasana pagi di Jam Gadang

Eh eh, tunggu….. gw mo cerita dikit nih tentang Kota Bukittinggi, kan kemarin ceritanya gw malem mingguan di sana. Bukittinggi merupakan salah satu kota di propinsi Sumatera Barat. Pernah menjadi ibukota Republik Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia[Mestika Zed, Eddy Utama, Hasril Chaniago; Sumatera Barat di panggung sejarah, 1945-1995; Panitia Peringatan 50 Tahun RI, 1995]. Dahulu Bukittinggi disebut Fort de Kock, bahkan pernah dijuluki Parijs van Sumatra selain Kota Medan[bataviase.co.id Inilah Parijs van Sumatera. Diakses pada 26 Juni 2010].

Kota ini merupakan tanah kelahiran beberapa tokoh besar Indonesia seperti Mohammad Hatta dan Assaat, yang masing-masing merupakan proklamator dan pejabat Presiden Republik Indonesia waktu ibukota Negara dipindahkan untuk sementara ke Bukittinggi.

Bukittinggi juga terkenal sebagai kota wisata yang berhawa sejuk. Kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam. Yang paling terkenal dari kota ini adalah landmark-nya, yaitu Jam Gadang yang terletak di tengah kota dan sekaligus menjadi simbol kota yang juga berada di tepi lembah besar bernama Ngarai Sianok.




Istana Bung Hatta


Selain Jam Gadang, di Kota Bukittinggi kemarin gw juga mengunjungi eh, aslinya cuma liat dari luar pagar doang ding karena kepagian, dan gedungnya blom buka – Istana Bung Hatta. Kenapa disebut Istana Bung Hatta ya?



Patung Sang Proklamator di depan Istana-nya

Gedung ini berada tepat di seberang Jam Gadang, terkenal dengan sebutan Gedung Negara Tri Arga. Pada masa penjajahan Jepang, gedung ini merupakan kediaman Panglima Pertahanan Jepang (Seiko Seikikan Kakka), dan pada zaman revolusi fisik tahun 1946 gedung ini menjadi Istana Wakil Presiden RI pertama Drs. Mohammad Hatta. That’s why kenapa gedung ini dinamai Istana Bung Hatta.

Klo sekarang sih, gedung ini digunakan untuk kegiatan umum seperti seminar, lokakarya dan pertemuan tinggat nasional dan regional, dan juga sebagai rumah tamu Negara yang berkunjung ke Bukittinggi. Arsitektur gedung ini berciri khas kolonial. Cakep banget deh… walau gw cm bisa liat dari luar pagarnya aja :D





Kota Bukittinggi sendiri di mata gw adalah kota yang lengang. Seneng banget berjalan kaki di Bukittinggi. Kendaraan ga se-crowded Jakarta, udaranya pun masih segar. Nyaman deh….

Jalanan yang lengang dan kompleks pertokoan
Jembatan Limpapeh di atas Jl. Ahmad Yani








Gw menikmati suasana kota di pagi hari, sambil melihat aktivitas warga. Ada yang senam pagi, berjalan-jalan bersama keluarga, berbelanja, ngobrol di taman Jam Gadang, sarapan pagi. What a beautiful city…..


Aktivitas pagi di Taman Jam Gadang



Nah… ini gw kasi bonusin sunrise yang berhasil gw capture dari Taman Jam Gadang….. really love it, and u???


Sunrise dengan siluet Gunung Singgalang



Nah… gw udah beres nih cerita Tour de Minangkabau Day-1, sekarang udah boleh bobo koq… Tapi….. cerita trip-nya blom finish lho….. masih ada Day-2, Day-3 dan Day-4. Jadi…… tungguin ya cerita gw selanjutnya……..



Puncak Lawang

L’Toing – Lawang Top Paragliding




— Masih Day-1 juga —

Sebelum trip ke Minangkabau ini, gw pernah tuh dikasi video tentang Puncak Lawang sama temen, tapi ga ngeh itu video isinya apa? Soalnya ga keliatan apa-apa, cuma bayangan pohon doang :p
Nah… di trip Minangkabau ini, kesampaian juga deh ke Puncak Lawang, ada apa di sana??? Yuk gw ceritain….







Menyusuri jalanan lengang menuju Puncak Lawang

Sesuai itinerary trip, setelah liat air terjun Lembah Anai, perjalanan akan diteruskan ke Puncak Lawang. Perjalanan dari air terjun Lembah Anai ke Puncak Lawang ga kalah menarik lho dengan perjalanan menuju air terjun tadi. Di kanan kiri jalan, landscape hasil karya Sang Pencipta sangat-sangat memanjakan mata dan ngegetok hati banget… supaya gw ga boleh sombong dan selalu bersyukur udah dikasi anugrah alam seindah ini. Nih… gw share beberapa foto scene alam di sepanjang perjalanan menuju ke Puncak Lawang.
Salah satu scene pemandangan yang bisa dilihat
di sepanjang jalan menuju Puncak Lawang

Singkat cerita, si unyu mulai menaiki jalan yang makin lama makin menanjak ke arah Puncak Lawang. Dan ga pake lama, kami pun tiba di area parkirnya. Buru-buru turun dari kendaraan… di depan gw ada tangga batu selebar kurang lebih 1 meter menuju ke atas. Oke, ayo coba kita susuri, ada apa di ujungnya? Dan gw pun mulai menapaki tangga batu ke arah puncak. Udara di sekitar Puncak Lawang sangat segar… cuci paru-paru deh… sembari (sedikit) ngos-ngosan, tapi kaki tetap melangkah menaiki undakan anak tangga… teruuuuuuuusssss ke atas….


huft…1-2-3-masih banyak tangganya

Gw ga ngitung itu anak tangga jumlahnya berapa banyak? Secara ya boooo… ini aja rebutan antara ngatur napas, ngatur mata yang udah aja jelalatan liat kanan kiri, ngatur tangan yang udah gatel aja mo jepret-jepret. And…… jreng..jreng..jreng….. gw sampe di Puncak Lawang!!! Mo tau ada apa di sana????? hmm… kasi tau ga ya?????
Berhubung gw anak baek, nih gw kasi gambaran ya…. di puncak, setelah mendaki sekian anak tangga, di depan mata gw terpampang sebuah gazeebo, trus hamparan lapangan rumput, trus barisan pohon pinus… dan setelah gw jalan beberapa langkah ke depan, noleh ke kiri, dan…… di kejauhan nampak view Danau Maninjau yang luaaaaaaaasssss…. banget. Diapit dengan pegunungan di seberangnya dan pemukiman masyarakat di sebelah sini, di bawah Puncak Lawang ini!




wuuuuhhuuuuuuu…..i’m on top!!!

Sayang cuaca agak mendung dan berkabut siang itu, jadi view Danau Maninjau-nya ga yang clear-clear banget. Tapi itu pun pemandangan yang ada di depan mata udah bikin gw berdecak kagum. Kombinasi puncak bukit dengan hamparan rumput hijaunya, dikelilingi pepohonan pinus, dipayungi awan-awan putih yang sebagian agak kelabu, kabut yang seolah melayang-layang di permukaan air danau, pemukiman penduduk, perbukitan yang berbaris rapi, how is it truly beautiful, right???
Mo liat ga gimana landscape Puncak Lawang dengan view Danau Maninjau-nya??? Ok, cekidot di sini….




View Danau Maninjau, pemukiman penduduk,
dan barisan pegunungan diliat dari Puncak Lawang
Pemukiman masyarakat di bawah Puncak Lawang


Angin tak dapat membaca…
tapi yang ini adalah pembaca angin


Beberapa scene landscape udah gw tangkap dengan lensa kamera, ketika di ujung bukit ada kegiatan dari sekumpulan anak muda. Apa yang mereka lakukan??? Gw pun mendekat. Ternyata…. mereka mo latihan paralayang! Eh, itu paralayang apa paragliding sih? Honestly, gw blom tau bedanya :D














Persiapan kegiatan Paralayang/Paragliding

Pada tau kan olahraga paralayang/ paragliding ini? Atau ada yang udah pernah nyobain? Klo gw selama ini cuma tau jenis olahraga yang 1 ini dari tv dan Internet, ngeliat secara langsung ya baru kali ini. Gw segera mendekati area latihan, tentunya masih di jarak yang aman, sehingga kehadiran gw ga ganggu mereka yang sedang latihan. Gw peratiin mulai dari cara mereka ngeletakin parasut, kemudian mengatur tali-tali yang terikat erat di parasut dengan harness yang akan melekat di tubuh, bagaimana mereka membaca angin dengan melihat indikator tiupan angin, kemudian mulai mencari posisi sehingga parasut secara perlahan akan terkembang.



Yang pertama mo terbang adalah seorang “uda” (kan ini ceritanya lagi di Minangkabau, jadi mas-masnya dipanggil uda :D), yang menggunakan parasut warna orange gonjreng. Perlu beberapa kali dia mencoba mengembangkan parasutnya, berlari menuruni bukit sebelum kemudian….. flying…….. yeaaaayyyyy….

Semakin tinggi… jauh… terus membumbung…
Yeaaaayyyyy…… si orange pun terbang…




















Gw yang awalnya berdiri di pinggir lapangan, sekarang posisinya udah ngegelosor di ujung bukit dan mencoba mengabadikan “terbang”nya si uda. Makin lama makin tinggi dan jauh….. kemudian berputar… naik lagi.. turun… berputar… whuaaaaa… sepertinya asyik yaaaa…. (sayang, gw blom punya keberanian untuk nyoba).
Gw masih ngeliat parasut orange itu naik turun seolah sedang bermain-main di awan ketika sebuah parasut terbuka lagi. Kali ini parasutnya warna ijo. Whuuuooooo… hari ini gw berhasil ngeliat atraksi paralayang secara live 2x berturut-turut… senangnyaaaaaa…. :D

si hijau pun menyusul… terbang… tinggi…
bermain di antara awan…



















Di seberang lapangan rumput ada sederetan pohon pinus… cakep banget deh. Berasa romantis banget ya… hutan pinus di puncak bukit dengan view Danau Maninjau di kejauhan, ditemani semilir angin… apalagi klo ada kamu di sini… #eehh :D

Deretan pinus yang membingkai Puncak Lawang
dengan view akses jalan dari/menuju
Puncak Lawang

Ga berlama-lama di Puncak Lawang, kami pun mulai kembali menuruni anak tangga batu menuju ke parkiran. Yuk, perjalanan harus dilanjutkan! Bukittinggi, kami datang…..
Sesuai itinerary, malam ini akan kami lewatkan di Kota Bukittinggi. Si unyu mulai bergerak meninggalkan parkiran Puncak Lawang menyusuri hitamnya aspal menuju Bukittinggi.



Minangkabau Village

— masih Day-1 juga —


Welcome to Minangkabau Village


Dari Air Terjun Lembah Anai ke Minangkabau Villagejaraknya cukup jauh, tapi di sepanjang perjalanan mata kita akan disuguhi pemandangan yang sangat-sangat bagus. Jadi ditanggung ga akan bosen dan ngantuk. Cuaca hari ini terlihat sedikit mendung sejak kami mendarat, dan di sepanjang perjalanan pun kami beberapa kali disapa sang gerimis cantik. Tapi itu ga jadi halangan… kan kami aman di dalam si unyu ini…

Yang wajib dilakukan, foto keluarga… bukti nih emang beneran
udah sampe di Minangkabau :D
Kami sampai di kompleks Minangkabau Village sekitar jam 11-an deh kayaknya. Ditemani gerimis cantik yang setia mengiringi perjalanan. Sampe di sana, foto-foto dulu di gerbang kompleks, trus kami langsung masuk ke rumah Gadang (urusan tiket dsb itu urusan Hendra :D). Beberapa orang teman langsung nanya sama pengurus di situ, bisa sewa pakaian adat Minangkabau ga? Dan ternyata bisa. Sewa pakaian adat hanya 30rebu! 4 orang teman (eh… 6 ding +mbak Win dan mas Yusuf) langsung menghilang ke ruang ganti pakaian, sementara gw, Hendra, Delly, Dyni, Andi, Lina, dan ci Cicil (tuh… gw absen 1-1 dah) langsung deh poto-poto…


1 (eh… banyak ding) yang gw kagumi dari arsitektur rumah Gadang ini, detil ukiran dan bentuk atapnya yang khas banget, dan konstruksi bagian dalam rumah yang sangat bagus menurut gw. Untung gw ga pake melongo deh (plus ngiler) waktu moto-moto… abisnya di tiap sudut rumah Gadang, selalu ada detil yang menurut gw sangat menarik. Cakep deh pokoknya….

Gw cerita dulu ya apa yang ada di kompleks Minangkabau Village ini. Di area ini ada 1 rumah Gadang, di sisi depan kanan dan kiri rumah gadang masing-masing ada 2 bangunan semacam rumah Gadang dengan ukuran yang lebih kecil. Kemudian di sisi kanan rumah Gadang, ada bangunan yang difungsikan sebagai lumbung padi. Kemudian terus ke arah kanan rumah Gadang, ada bangunan kantor yang mengurusi operasional Minangkabau Village ini. Kebayang ga gimana kondisinya?
hi..hi..hi..hi…cocok ga sih gw duduk di situ :D

Teman-teman yang sewa baju keluar dari kamar ganti dengan pakaian adat Minang lengkap…. deeeeuuuu… kayak yang mo hajat nikahan deh…. dan langsung deh narsis-narsisan di pelaminan. (ssssstttttt… sebelumnya gw udah poto dong di pelaminannya… even ga pake baju adat :D)









Detil sudut-sudut rumah Gadang

Dari lantai 1, gw naik ke lantai 2 rumah Gadang. Ternyata di lantai 2-nya dibuat seperti museum gitu… jadi gw bisa liat aneka baju adat Minang dari berbagai daerah, trus peralatan yang digunakan untuk upacara adat, kursi-kursi kayu yang baguuuuusssss banget… buku-buku tentang adat-istiadatnya… banyak deh…. betah banget gw menyusuri etalase demi etalase, membaca keterangan-keterangan yang ditempel di setiap koleksinya. Klo ga inget waktu, mau deh gw ngejogrok di situ dan baca buku-buku tentang adat-istiadat Minang secara lengkap.

Udah beres explore lantai 2 rumah Gadang, gw turun dan jalan ke halamannya. Gw pengen punya poto rumah Gadang ini secara full. Ternyata ya… itu teman-teman yang pada pake baju adat itu juga turun ke halaman dan foto-foto di depan tangga…. aduuuuuhhhh… please deh… udahan dong narsis-narsisnya….. :p






Yang narsis…nih gw upload fotonya gede-gede :p
Bangunan yang fungsinya sebagai
lumbung padi berada di sisi kanan rumah Gadang

Gw bergerak ke sayap kanan halaman rumah Gadang. Di situ ada bangunan yang katanya klo dulu digunakan sebagai lumbung padi. Walaupun sekarang udah ga difungsikan (kan hanya prototype ini ceritanya) sebagai lumbung padi, dan itu adalah bangunan baru, tapi gw excited gitu liatnya…. abisnya, detil ukiran dan atapnya tetap amazing di mata gw.














Di sisi kanan depan rumah Gadang terdapat bangunan ini,
masing-masing 2 buah

Terus ke kanan ada bangunan kantor yang mengelola operasional rumah Gadang di Minangkabau Village ini. Di sayap kiri agak ke depan rumah Gadang ada juga bangunan seperti lumbung padi tadi. Persis di depan tangga rumah Gadang, berjarak kurang lebih 15 meter ada taman yang dilengkapi dengan kolam (sayang kolamnya menurut gw kurang terpelihara). Secara keseluruhan, landscape rumah Gadang dengan beberapa bangunan-bangunan kecil penunjang di sekitarnya sangat bagus. Cakep banget deh pokoknya.


Udah puas liat-liat dan poto-poto narsis (not me of course), kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Puncak Lawang. Ada apa di sana? Yuk… stay tune terus di laporan trip gw… ;)




Air Terjun Lembah Anai


— Masih Day-1 —



Situasi perjalanan menuju Lembah Anai


Menyusuri jalan menuju Kota Padang Panjang di permulaan pagi… di kanan kiri jalan terlihat hijaunya persawahan, kebun, pemukiman penduduk, kompleks pasar, tebing batu dan sungai silih berganti. Mata gw seolah ga mo berkedip (norak banget yak)… ya kapan lagi memanjakan mata yang biasanya hanya ketemu dengan dinding-dinding beton di Jakarta, iya ga???







Situasi jalanan dari arah Kota Padang



Tiba-tiba si unyu berhenti di pinggir jalan, di depan sederetan warung-warung kecil yang menawarkan berbagai suvenir cantik khas Sumatera Barat.
“Koq berhenti di sini?” semua teman-teman pada nanya. Ternyata… kami sudah tiba di depan air terjun Lembah Anai.














Situasi jalanan ke arah Kota Padang Panjang


“Mana air terjunnya?” gw nanya ke Hendra. Eh… ga dijawab dong, cuma tangannya nunjuk ke depan… gw ikutin tuh arah jarinya… jreeeennnggg… di depan gw ada undakan tangga batu dan di ujungnya ada sebuah air terjun yang sebenarnya ga terlalu gede sih, tapi cukup asri. Mengingat lokasinya yang benar-benar berada di pinggir jalan raya.















Air Terjun Lembah Anai


Menapaki undakan tangga batu, gw pun sampe di pinggir bebatuan yang memagari kolam tampungan air terjun. Kolam tampungannya itu kolam alami lho… jadi air yang berasal dari air terjun Lembah Anai akan langsung mengalir melalui aliran sungai kecil yang ada di situ, entah sampe ke mana??? Suasana di lokasi air terjun cukup sejuk, dan cipratan airnya juga kadang cukup bikin gw panik menyelamatkan posisi lensa kamera :D (klo gw yang basah sih ga masalah, tapi kalo kamera…. OH NO!).












Setelah ambil beberapa angle, dan poto-poto narsis di pinggir air terjun, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya Minangkabau Village….

Mari narsis bareeeeeennnggg….