Ake Dango – Prosesi Tradisional yang Sarat dengan Nilai

 

“Toma pariyama nange enare, ino ngone moi moi, ngofa sedano sobaka puji te jou madubo, Jou Allah SWT, lahi dawa, laora laowange, kie segam, daerah se toloku sehat se salamat, kuat se future, magoga se marorano, mabarakati se mustajab cili ifa ingali ifa”

 

Perjalanan panjang di Halmahera selama 4 hari tidak menyurutkan niat saya untuk datang dan menyaksikan pembukaan rangkaian acara dalam rangka Hari Jadi Tidore ke-910 yang dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2018 yang lalu. Jadual yang penuh selama di Halmahera menyebabkan saya baru bisa menyeberang menuju Tidore dari pelabuhan Loleo di pulau Halmahera sekitar pukul 5 sore. Hati sedikit ciut melihat permukaan air laut yang bergelombang, namun rencana harus tetap dilaksanakan. Bismillah.

 

hai Tidore…. miss you so much… (pemandangan Pulau Tidore dari Pelabuhan Loleo, Halmahera)

 

Perjalanan dengan speedboat selama kurang lebih 45 menit membelah laut di antara Pulau Halmahera dan Pulau Tidore ternyata tidak seseram seperti yang saya bayangkan. Gelombang cenderung lebih tenang dibandingkan saat saya menyeberang dari Ternate menuju Halmahera 4 hari sebelumnya. Dan akhirnya, To Ado Re! Saya kembali menjejakkan kaki di tanah Tidore, tanah yang membuat saya jatuh cinta sejak pertama kali mengunjunginya beberapa bulan yang lalu. Saya harus bergegas karena waktu terus bergulir mendekati malam. Nanti malam saya ingin menyaksikan sebuah acara penting yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

 

perjalanan menuju Tidore senja itu diiringi pelangi

 

Malam itu bulan hampir purnama. Langit bersih walaupun udara terasa sedikit menggigit apabila angin sekelebat lewat. Lapangan Sonyine Gurua ramai, mayoritas mereka yang datang berpakaian putih. Sekeliling lapangan tampak terang dengan berpuluh-puluh obor yang dinyalakan. Hiasan dari daun Enau tampak di sekeliling lapangan Gurua yang malam itu sangat ramai. Di sisi sebelah kanan lapangan, berdiri sebuah bangunan tidak permanen menyerupai rumah kecil yang cukup tinggi, terbuat dari Bambu. Tangga sederhana dan sekeliling bangunan itu ditutupi dengan daun Enau yang menjuntai indah. Di setiap sudutnya dipasang sebuah obor. Di tengah-tengah lapangan berdiri sebuah bangunan kecil beratap rumbia, berdindingkan daun Enau menjuntai dan sebatang Bambu berselubung kain putih yang diletakkan di bagian tengahnya.

 

suasana lapangan Gurua malam itu, ramai oleh ksatria Tidore berpakaian putih

 

suasana Desa Gurabunga gelap, hanya diterangi dengan cahaya obor

 

Tidak jauh dari bangunan kecil tadi terdapat sebuah tenda besar yang nantinya akan menjadi tempat bagi Sultan Tidore, Bobato, pejabat daerah dan undangan lainnya yang akan ikut menyaksikan ritual Ake Dango. Ya, malam itu adalah malam pelaksanaan prosesi Ake Dango sebagai pembuka seluruh rangkaian acara dalam rangka Hari Jadi Tidore ke-910.

 

bangunan tradisional dari Bambu berhiaskan daun Enau yang ada di sisi kanan lapangan Gurua

 

langit cerah, awan putih dan cahaya obor membuat malam Ake Dango terasa sangat berkesan

 

Di depan pintu masuk utama menuju lapangan, tampak sebuah gerbang yang lagi-lagi dibuat dari daun Enau, Bambu dan pohon-pohon kecil lainnya. Beberapa obor dipasang di sepanjang gerbang. Petugas yang nantinya akan menjaga area jalan masuk ini pun terlihat sudah berjaga-jaga. Mereka menggunakan kemeja putih berlengan ¾ dan bercelana putih gantung, ½ dan 7/8. Tidak lupa ikat kepala putih bersimpul di sisi kiri dan sebagai senjata, mereka membawa parang lengkap dengan Salawaku.

 

gerbang utama menuju lapanga Gurua, dihiasi dengan daun Enau dan obor di sana-sini

 

ksatria Tidore bersenjatakan parang dan Salawaku

 

Para pengunjung dari luar Desa Gurabunga, bahkan dari luar Tidore pun tampak ramai di sekeliling lapangan. Beberapa pengunjung tampak memegang kamera untuk mengabadikan prosesi yang hanya ada di Tidore ini dan hanya dilaksanakan 1 kali dalam setahun.

Yang ditunggu pun datang. Sultan Tidore, Hi. Hussain Syah beserta rombongan, pejabat pemerintah daerah, Bobato, dan undangan lainnya mulai memasuki lapangan dan langsung menempati tenda utama. Terdengar aba-aba dari pembawa acara bahwa prosesi Ake Dango akan segera dimulai.

 

Sultan Tidore, para tetua dan tamu undangan yang hadir pada acara Ake Dango

 

para Sowohi dari 5 marga dan rumah adat

 

Prosesi Ake Dango merupakan prosesi penyatuan air suci yang diambil dari puncak Kie Marijang oleh perwakilan dari setiap keturunan marga yang ada di Gurabunga, yaitu Tosofu Malamo, Tosofu Makene, Mahifa, Toduho, Folasowohi dan perwakilan dari rumah adat Sowohi Kie Matiti. Prosesi Ake Dango ini sebelumnya telah didahului dengan prosesi Tagi Kie, yaitu proses pengambilan air suci dari puncak Kie Marijang, sehari sebelumnya. Proses pengambilan air suci ini pun hanya bisa dilakukan oleh perwakilan dari anak cucu ke-5 marga yang ada di Gurabunga.

Petugas mulai memanggil nama dari masing-masing marga yang akan membawa air suci untuk disatukan pada sebuah Bambu yang telah disiapkan di tengah lapangan. Terdengar sebuah lengkingan dari alat tiup Tahuri yang menjadi pertanda bahwa pemanggilan nama dari masing-masing marga akan dimulai.

Eeeee…….. Sowohi Kie Matiti se I ngofa se dano waktu yo joko marua ake dango yo ma susu toma gurua ma sonyine (yang artinya eee…… Sowohi Kie Matiti beserta anak cucunya, waktu telah tiba ake dango – air dalam Bambu 2 ruas setengah, memasuki lapangan Sonyine Gurua)” terdengar panggilan untuk perwakilan dari rumah adat Kie Matiti  dari marga Folasowohi.

 

rombongan keturunan marga yang ada di Gurabunga satu persatu memasuki lapangan dengan membawa air suci di dalam Bambu

 

utusan dari masing-masing marga membawa air suci untuk digabungkan di dalam sebuah Bambu yang telah disediakan

 

setelah menuangkan air suci yang dibawa ke dalam Bambu khusus, rombongan utusan dari masing-masing marga akan berbaris di sekeliling lapangan

 

Terlihat iring-iringan obor dari rombongan rumah adat Kie Matiti mulai mendekati lapangan. Rombongan wanita dengan obor di tangan memasuki lapangan. Wanita paling depan membawa sepotong Bambu yang ditutup dengan kain putih pada ujungnya. Di dalam Bambu itulah terdapat air suci dari rombongan rumah adat Kie Matiti. Rombongan wanita itu menggunakan kebaya putih yang nyaris seragam, dengan kain tradisional sebagai bawahannya. Sehelai kain tradisional serupa selendang terlihat melilit di bagian dadanya, serta sehelai penutup kepala berwarna putih. Wanita pembawa Bambu berisi air suci mendekati bangunan kecil yang terdapat di tengah-tengah lapangan dan menumpahkan air suci yang terdapat di dalam Bambu yang dibawanya ke dalam Bambu yang lebih besar, yang ada di tengah bangunan kecil tersebut. Setelah menuangkan air suci ke dalam Bambu yang terdapat di bangunan yang ada di tengah-tengah halaman, rombongan dari rumah adat Kie Matiti pun mengambil posisi di tepi lapangan.

 

utusan dari masing-masing marga dengan membawa obor, berdiri di sekeliling lapangan Gurua menunggu dimulainya acara Ake Dango

 

Kembali terdengar lengkingan suara dari Tahuri, kali ini panggilan ditujukan untuk keturunan marga Tosofu Makene, Tosofu Malama, Folasowohi, Toduho dan terakhir Mahifa. Panggilan untuk rombongan keturunan marga Mahifa berbeda dengan panggilan untuk 5 marga lainnya.

“Eeee……. Sowohi Mahifa se I ngofa se dano waktu yo joko marua ake sou yo ma susu toma Gurua ma sonyine (yang artinya eee….. Sowohi Mahifa beserta anak cucunya, waktu telah tiba ake sou – air obat yang ada dalam sepotong Bambu kecil, memasuki lapangan Sonyine Gurua)” .

Panggilan untuk keturunan marga Mahifa menjadi pertanda bahwa rombongan anak, cucu, cicit dari marga Mahifa segera memasuki lapangan Gurua. Lagi, rombongan wanita yang berasal dari marga Mahifa terlihat berjalan pelan, berbaris, dengan penerangan obor dan membawa sebatang Bambu memasuki lapangan. Menggunakan pakaian yang serupa dengan rombongan dari marga lainnya, rombongan marga Mahifa pun melakukan hal yang sama, menuangkan air suci ke dalam Bambu di tengah lapangan dan kemudian mengambil tempat di tepi lapangan.

 

utusan dari masing-masing marga telah berkumpul dan menuangkan air suci

 

Air suci yang telah disatukan di dalam Bambu itu kemudian akan diinapkan semalaman di Desa Gurabunga dengan penjagaan dari perwakilan yang dipercaya untuk setiap marga, masing-masing penjaga akan bersenjatakan parang dan Salawaku. Proses ini kemudian disebut Rora Ake Dango.

 

Bambu yang berisi air suci dibungkus dengan kain putih

 

Setelah seluruh para Sowohi menempati tempat yang telah disediakan, masuklah penari laki-laki dengan Salai Maku Toti menyambut Ake Dango. Salai Maku Toti ini menggambarkan kegembiraan para Kapita atas penggabungan air suci yang dibawa oleh utusan dari masing-masing marga yang ada di Gurabunga. Tarian Salai Maku Toti ini biasanya ditampilkan untuk menjemput para Sowohi yang pulang dari berziarah. Para penari Salai Maku Toti akan mengelilingi Bambu yang sudah diisi air suci dengan suka cita.

 

para penari Salonde mulai memasuki lapangan

 

penari utama dari Tarian Salonde memasuki lapangan dan langsung menuju ke arah panggung utama

 

Setelah penari Simore Ake Dango meninggalkan lapangan, terdengar alunan musik tradisional yang sangat indah, serombongan wanita muda berbaju putih terlihat memasuki lapangan. Beberapa kain putih persegi terlihat dibentang di beberapa titik di lapangan Gurua. Rombongan penari itu pun memisahkan diri dan mengambil tempat di masing-masing lokasi, di mana terdapat kain putih yang telah dibentangkan tersebut. Rombongan terakhir terdiri dari 5 wanita muda, salah seorang dari mereka memegang sebuah payung putih berenda. Rombongan ini langsung menuju ke tengah lapangan. Ternyata mereka adalah para penari Salonde. Tarian Salonde ini diambil dari ritual Salai Jin (ritual tradisional yang ada di Tidore) salah satu marga di Gurabunga, yaitu marga Tosofu Malamo, yang mengisahkan tentang penjemputan Sowohi yang baru pulang dari berziarah.

 

penari Salonde

 

berpakaian putih sambil memegang payung putih berenda, salah seorang penari Salonde terlihat mengitari teman-temannya

 

“rumah” tempat Bambu yang berisi air suci

 

Baru saja rombongan penari Salonde undur diri ke pinggir lapangan, tiba-tiba, terdengar lengkingan teriakan dan 2 orang lelaki dewasa berpakaian putih dengan ikan kepala merah, serta membawa parang dan Salawaku memasuki lapangan. Mereka mengelilingi bangunan kecil yang ada di tengah lapangan. Kehadiran 2 lelaki dewasa itu diikuti dengan beberapa anak kecil dengan pakaian serupa. Kapita! Ya, mereka adalah para penari Kapita yang malam itu ikut menjadi bagian dari Prosesi Ake Dango. Tarian Kapita ini melambangkan semangat juang dari prajurit Kesultanan Tidore dalam mengusir penjajah. Tarian ini biasa ditampilkan untuk menyambut tamu undangan. Dan saya mengenal baik salah seorang penari Kapita itu, Ko Gogo! Saya masih berkeingingan untuk mengabadikan tarian Kapita ini secara penuh, setiap langkahnya. Ko Gogo, someday kalau akan tampil lagi, jangan lupa kirim kabar ya.

 

tari Kapita

 

salah seorang penari Kapita malam itu

 

para Kapita kecil pun tidak ketinggalan ikut serta menari malam itu

 

Ko Gogo! salah seorang penari Kapita yang tampil di malam Ake Dango

 

Tarian yang sangat energik itu begitu menghipnotis saya yang baru pertama kali melihatnya secara langsung. Lengkingan-lengkingan teriakan terdengar sahut-menyahut. Derap kaki para penari Kapita terlihat kompak dan tegas menjejak bumi Marijang. Aura bersemangat seolah terpancar dari setiap kelebatan mereka yang secara dinamis terus mengelilingi lapangan Gurua. I love that dance!

Malam itu Sultan Tidore, Hi. Hussain Syah menyampaikan pesan bahwa ada nilai-nilai yang harus tetap dijaga oleh seluruh masyarakat Tidore, yaitu Fomagogoru se Madodara (saling mengasihi dan menjaga), Maku Waje (saling mengingatkan), Maku Toa Soninga (saling menasehati), Maku Sogise (saling mendengar), Maku Digali (saling membantu) dan Maku Duka (saling menyayangi).

 

Sultan Tidore, Hi. Hussain Syah, menyampaikan sambutan pada acara Ake Dango

 

di depan seluruh Sowohi, tetua, undangan dan pengunjung malam itu, Sultan Tidore, Hi. Hussain Syah menyampaikan pesan-pesan yang sarat dengan nilai

 

Pembacaan Borero Gosimo dalam bahasa Tidore menambah kesakralan seluruh rangkaian prosesi Ake Dango malam itu. Pesan-pesan leluhur yang diperdengarkan terasa begitu dalam artinya. Dan ternyata, saya mengenal sosok yang menjadi pembaca Borero Gosimo malam itu. Ya, pembaca Borero Gosimo malam itu adalah Idun, pemuda asli dari Gurabunga yang bernama asli Ridwan Ibrahim. Proud of you, Dun!

 

Dun, ternyata tele-nya hanya mampu segini…. ga bisa close up

 

pembacaan Borero Gosimo oleh Ridwan Ibrahim (photo by Anwar Tosofu – Staf Humas Kota Tidore Kepulauan)

 

Borero Gosimo

Toma pariyama nange enare, ino ngone moi moi, ngofa sedano sobaka puji te jou madubo, Jou Allah SWT, Lahi dawa, laora laowange, kie segam, daerah se toloku sehat se salamat, kuat se future, magoga se marorano, mabarakati se mustajab cili ifa ingali ifa

 Ngofa sedano toma kie Todore se daerah se toloku soninga, soninga, soninga

Fela lao, lila se honyoli, ruku se sodabi, ahu se gogahu, rejeki se rahmati, sone se ahu, ge toma jou madubo, Jou Allah Taala yo atur sefato. Tabali se tabareko, no sogewa gewa la sojud se malahi te Jou Allah Taala soninga kie se gam enare ma madafolo dzikirullah se madarifa papa se tete

E… ngofa sedano toma kie Todore se daerah toloku soninga, soninga, soninga

Fela lao lila se honyoli, ruku se sodabi kie se gam daerah se toloku toma suru se gulu, Todore, Gam Range, Kolano ngaruha mafar soa raha Papua Gamsio, Seram se Gorong, Kei se Tanimbar ge rimoi bato jo, soninga limau madade-dade ge mabara jiko se doe

E… ngofa sedano toma kie Todore se daerah se toloku soninga jo, soninga jo, soninga

Fela lao, lila se honyoli, ruku se sodabi, kie se gam re duka se badisa. Mapolu ino, marimoi nyinga, makusodorifa kefe, la sogado-gado se sodorine ena majarita gatebe kie segam roregu yali soninga, ngone ua se nage yali, nange ua se fio yali

E… ngofa sedano toma kie Todore se daerah se toloku soninga jo, soninga jo, soninga

Fela lao, lia se honyoli, ruku se sodabi, gosimo na dodia, adat senakudi, atur se aturan, fara se filang, syah se fakat, budi se bahasa, ngaku se rasai, mae se kolofino, cing se cingeri, ena sosira ge, kie se gam macahaya duka. Soninga. Fo banofo banga refa la fo dahe maguraci

E… ngofa sedano toma kie Todore se daerah se toloku soninga, soninga, soninga

Awal toma pariyama nange enare sogoko se sodagi loa sebanari aku ua maku sodoa dulu sojako gai, aku ua maku gahi jira, aku ua makudutu, se makudola. Aku ua yau pasi rimo moro-moro maku taigahi soninga, regu ua Todore bato maku gosa jira ifa

E… ngofa sedano toma kie Todore se daerah se toloku soninga, soninga, soninga

Gosimo sogado borero, ruba fola ifa, mabuku raha gosimo gia maace, sodia linga banga ifa, ngofa se dano se dagi-dagi

 

Bambu Gila – Bermain Bersama Kekuatan yang Tidak Tampak

 

Sepotong bambu besar tampak dipeluk oleh beberapa lelaki dewasa. Langkah mereka terlihat sarat, seperti sedang membawa beban yang sangat berat. Kerumunan masyarakat yang sedang melihat rombongan Paji Nyili Nyili di perbatasan Kampung Gamtufkange dan Kampung Soa Sio pagi itu sedikit tersibak ketika rombongan yang membawa bambu ini bergerak mengikuti rombongan pembawa Paji dari Kampung Gamtufkange tiba di perbatasan Kampung Soa Sio.

 

sepotong bambu, 7 lelaki, asap dupa dan seorang pawang

 

Terlihat seorang pawang berpakaian kemeja biru gelap membawa sebuah tempat dupa dengan asap putih yang mengepul, Sang Pawang. Sesekali tangan sang Pawang bergerak di atas tempat dupa, meniup dan mengarahkan asap putih ke arah bambu, dan secara tiba-tiba bambu seperti bergerak sendiri. Ketujuh lelaki berbadan tegap yang memeluk bambu di depan dadanya terlihat siaga dan berusaha untuk menahan gerakan dari bambu tersebut. Terdengar beberapa kali teriakan dalam bahasa daerah yang tidak saya pahami, dan rombongan lelaki yang sedang mendekap bambu itu pun setengah berlari mengikuti pergerakan bambu yang tiba-tiba. Tubuh mereka condong ke depan seolah mendorong sebuah kekuatan yang tidak tampak yang berada di dalam bambu.  Seorang lelaki terlihat hampir jatuh tersungkur ketika tiba-tiba bambu seolah-olah bergerak balik ke arah mereka. Namun sebelum tubuhnya mencapai jalanan aspal, seorang lelaki lainnya dengan sigap menahan bambu dan menggantikan posisi lelaki yang akhirnya sukses melepaskan pelukannya dari bambu itu. Pawang kembali mendekat dan menghembuskan asap putih dari tempat dupa ke arah bambu, dan lagi-lagi bambu seolah-olah menggeliat ingin melepaskan diri dari pelukan para lelaki tersebut.

 

gerakan bambu yang menggila kadang membuat para pemain harus siap tersungkur

 

Ya, yang sedang saya saksikan itu adalah permainan Bambu Gila. Saya menyaksikan permainan itu saat melihat ritual Paji Nyili Nyili yang merupakan rangkaian acara di dalam kegiatan Hari Jadi Tidore ke-910. Pagi itu saya merasa beruntung sekali bisa melihat 2 tradisi unik sekaligus, yaitu penyerahan Paji dari Kampung Gamtufkange ke Kampung Soa Sio dan Bambu Gila. Bambu Gila merupakan permainan yang sangat popular di seantero Maluku dan sekitarnya. Biasa ditampilkan dalam pada acara adat dan budaya di sana.

Nama asli dari permainan Bambu Gila ini adalah Bara Masuen. Konon permainan ini sudah ada di Maluku sebelum masuknya agama Islam dan Kristen di sana. Mungkin peninggalan sejak jaman animisme dan dinamisme. Permainan Bambu Gila biasanya akan dimainkan oleh 7 orang lelaki dan seorang Pawang. Bambu yang akan digunakan dalam permainan ini akan dipeluk oleh 7 orang lelaki itu di depan dada mereka, dan Pawang kemudian akan membakar kemenyan/dupa di dalam sebuah wadah khusus (biasanya) yang terbuat dari tempurung kelapa. Setelah asap putih muncul, sambil membaca mantera, Pawang akan meniupkan asap putih tersebut ke arah Bambu. Akibatnya Bambu seperti bertenaga, bergerak oleh kekuatan yang tidak tampak. Gerakan Bambu akan mengikuti hembusan asap dupa/kemenyan yang dimainkan oleh Pawang. Permainan Bambu Gila ini biasanya akan diiringi dengan musik tradisional seperti Tifa, Gong, Genderang dan lainnya.

 

bekerjasama untuk menahan gerakan Bambu yang menggila

 

Bambu yang bisa digunakan untuk permainan ini konon tidak bisa sembarangan. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, misalnya Bambu diambil dari hutan dengan melakukan sebuah ritual khusus, Bambu harus memiliki jumlah ruas ganjil, diameter Bambu sekitar 8 – 10 cm, Bambu yang telah dipilih kemudian dibersihkan dan diikat kedua ujungnya dengan menggunakan kain berwarna cerah serta diperlakukan secara khusus layaknya manusia.

 

persiapan Bara Masuen (Bambu Gila) – (picture taken by Fahmi Abdul Latif – dokumentasi Sanggar Rau Gabi Kelurahan Gurabunga)

 

turis mancanegara pun penasaran dan mencoba Bambu Gila (picture taken by Fahmi Abdul Latif – dokumentasi Sanggar Rau Gabi Kelurahan Gurabunga)

 

Bara Masuen…… dadi gou gou (picture taken by Fahmi Abdul Latif – dokumentasi Sanggar Rau Gabi Kelurahan Gurabunga)

 

Permainan Bambu Gila ini akan terus berjalan selama Pawang tidak menghentikannya, atau sebelum ada seorang pemain yang terjatuh. Apabila sudah ada pemain yang terjatuh, makan permainan akan dihentikan. Dan untuk mengakhiri permainan, Pawang akan membalikkan wadah dupa/kemenyan yang dipegangnya. Namun gerakan mistis dari Bambu baru benar-benar berhenti apabila sang Pawang telah memberi “makan” kepada Bambu berupa api dari kertas yang dibakar sambil membaca mantera.

Pada jaman dahulu, Bambu Gila banyak digunakan pada kehidupan masyarakat sehari-hari untuk melaksanakan pekerjaan berat seperti misalnya memindahkan perahu yang telah dibuat ke pinggir laut, dan lain-lain. Permainan Bambu Gila sendiri menggambarkan semangat gotong royong dan bekerjasama dari pergerakan yang kompak dan seirama dari para pemainnya.

 

 

 

 

Ko Abo, Pemusik Gambus dari Weda

 

Apa yang terlintas di pikiran kita saat sebuah kata “Gambus” diucapkan? Mungkin yang terbayang adalah sebuah pertunjukan bernuansa padang pasir dengan penari-penari berpakaian warna-warni. Tapi yang saya temui saat kunjungan ke Weda, Kabupaten Halmahera Tengah sangatlah berbeda. Hari sudah beranjak lewat dari jam 9 malam saat saya tiba di rumah Ko Abo, satu-satunya pemusik Gambus yang ada di Weda. Dan saat menemui kami pun, Ko Abo sepertinya baru terbangun dari istirahatnya. Maafkan kami Ko Abo, bertamu hampir menjelang tengah malam begini, soalnya besok kami sudah harus meninggalkan Weda.

 

Ko Abo dan Gambus kebanggaannya

 

Ko abo sedang menyetel senar Gambusnya setelah kami paksa untuk memainkan beberapa irama

 

Ko Abo (Ko adalah panggilan kepada laki-laki yang lebih tua, seperti panggilan abang, mas, akang) merupakan pemain alat musik Gambus satu-satunya di Weda. Dan malam itu, saya pun akhirnya bisa mendengar dan melihat secara langsung bagaimana proses penyetel senar dan memainkan alat musik yang menurut saya unik ini. Saat saya, bu Tantry, mas Eko dan om Anda tiba, Ko Abo mengeluarkan alat musik kesayangannya itu. Sebuah alat musik yang bentuknya menyerupai gitar, tapi bentuknya lebih berisi. Bagian body-nya seperti buah Labu yang dibelah 2, dengan sebilah tangkai yang dilengkapi dengan 12 senar. Apabila gitar memiliki lubang besar di bagian tengah body utamanya, pada Gambus, terdapat 3 lubang yang 1 di antaranya memiliki ukuran lebih besar dari 2 lainnya, namun lubang tersebut dihiasi dengan ukiran-ukiran seperti membran, sehingga lubang yang ada tersamarkan. Sekilas saya seperti melihat sebuah muka berkumis yang sedang tersenyum tergambar di alat musik Gambus yang dipegang Ko Abo.

 

seperti wajah yang berkumis ya :D

 

dan akhirnya malam itu saya bisa melihat dan mendengarkan secara langsung musik Gambus yang dimainkan oleh Ko Abo

 

Ko Abo, juga dikenal dengan julukan Apollo. Ketika saya tanyakan kenapa bisa dipanggil “Apollo”, Ko Abo hanya mengedikkan bahu dan bertutur “Orang-orang yang memanggil demikian”. Nama asli Ko Abo sendiri adalah Abdul Aziz Sarahan. Merupakan anak bungsu dari 7 bersaudara keluarga besar Sarahan. Keluarga besar Sarahan aslinya berasal dari Maba, sebuah desa di Kabupaten Halmahera Timur, propinsi Maluku Utara. Yang kemudian pindah dan berkembang besar di Weda, Halmahera Tengah. Ko Abo memang terlahir dari keluarga besar pemusik Gambus. Dari 7 bersaudara, salah satunya adalah perempuan, semua bisa memainkan alat musik tradisional ini. Walaupun sebenarnya yang lazim memainkan alat musik ini adalah kaum laki-laki. Ko Abo belajar memainkan alat musik Gambus ini secara otodidak, dengan memperhatikan ayah dan keluarga besarnya memainkannya. Semenjak duduk di bangku sekolah dasar, Ko Abo telah mahir memainkan alat musik ini. Ko Abo bercerita, Gambus yang pertama kali beliau mainkan merupakan buatan tangan dari ayahnya, yang dibuat dari kayu pohon Nangka.

 

Ko Abo bercerita, dengan alat musik inilah beliau berhasil menjejakkan kaki di Hoi An, Vietnam

 

Sambil memainkan Gambus, Ko Abo bercerita, bahwa alat musik yang beliau mainkan itu pernah membawa dirinya menginjakkan kaki di Vietnam pada tahun 2013, dalam rangka mengikuti International Choirs Computation di kota Hoi An. Terdengar nada kebanggaan di suara Ko Abo saat bercerita mengenai lomba yang pernah beliau ikuti tersebut. Dan saya pun kagum.

 

harapan Ko Abo, generasi muda tertarik dan mau melestarikan musik Gambus ini

 

Namun saat ini, belum ada regenerasi di sisi pemain Gambus. Ditakutkan, musik tradisional ini akan hilang tergerus jaman karena (sepertinya) kurangnya minat generasi muda untuk mempelajarinya. Seniman seperti Ko Abo menginginkan musik tradisional ini terus ada dan tetap ada (saya sendiri memiliki keinginan yang sama).

 

Desa Jaya – Desa Penghasil Roti Sagu di Tidore

 

Desa Jaya (biasa disebut Jay – dibaca Jayi) yang terletak di kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, provinsi Maluku Utara merupakan desa penghasil roti sagu. Siang itu, saat saya mengunjungi Desa Jay, suasana terasa tenang. Kami tiba di rumah Ci Anti, yang sehari-harinya membuat roti sagu sebanyak kurang lebih 300 lembar. Roti berukuran sekitar 15 – 25 cm dengan ketebalan sekitar 1 cm ini dibuat dengan cara yang masih sangat sederhana. Roti ini nantinya akan dijual seharga Rp 10.000 untuk 6-7 lembarnya.

 

mesin parut, pembuat tepung tapioka

 

tepung tapioka, bahan dasar untuk membuat roti sagu

 

Saya berkesempatan melihat langsung proses pembuatan roti sagu. Roti sagu yang dibuat CI Anti berbahan dasar tepung tapioka (singkong/ubi kayu). Singkong atau Ubi Kayu yang telah dikupas dan dicuci bersih harus diparut terlebih dahulu dengan menggunakan sebuah mesin parut sederhana. Kemudian hasil parutan tersebut diperas untuk mengeluarkan sisa-sisa air yang masih terkandung di dalamnya. Hasilnya adalah tepung tapioka yang bertekstur halus dan sedikit lembap, namun tidak menggumpal.

 

cetakan roti sagu yang terbuat dari gerabah, dibakar di atas tungku tradisional hingga membara

 

cetakan roti sagu yang telah dibakar dan siap digunakan untuk mencetak lembaran roti sagu

 

kain dengan tangkai panjang yang digunakan untuk membersihkan sela-sela cetakan roti sagu sebelum diisi dengan tepung

 

Tepung yang telah melalui proses pemerasan kemudian akan dimasukkan ke dalam cetakan roti sederhana. Namun sebelumnya, cetakan tersebut telah dibakar di atas bara hingga panas. Sebelum tepung tapioka dimasukkan ke dalam cetakan, cetakan harus dibersihkan dengan menggunakan kain kecil yang berfungsi sebagai lap untuk membuang arang/debu pembakaran.

 

bambu yang digunakan sebagai alat bantu saat pengisian tepung ke cetakan – bagian yang dilubangi harus diletakkan tepat di atas lubang cetakan agar tepung bisa memenuhi cetakan

 

cetakan yang telah penuh diisi tepung tapioka

 

cetakan yang telah diisi dengan tepung kemudian didiamkan agar tepung matang

 

Setelah cetakan dibersihkan, kemudian tepung tapioka dimasukkan dengan menggunakan bantuan sebuah bambu yang bagian tengahnya telah dilubangi. Bambu ini berfungsi agar tepung yang dimasukkan ke dalam cetakan tidak tumpah karena lubang cetakan yang cukup kecil, kurang lebih hanya berukuran 1 cm. Tepung dituangkan ke atas bambu dengan menggunakan tangan, kemudian diratakan hingga memenuhi cetakan. Hal ini dilakukan untuk 10 lubang cetakan yang ada di dalam 1 cetakan besar. Setelah seluruh lubang cetakan dipenuhi dengan tepung, cetakan didiamkan sekitar 5-10 menit. Dan roti sagu sudah bisa dikeluarkan dari cetakan. Panas dari cetakan yang telah dibakar di dalam bara akan membuat tepung tapioka matang.

 

lembaran roti sagu yang telah matang dan siap dinikmati

 

roti sagu biasanya disajikan dengan segelas teh panas

 

Untuk roti sagu yang dihasilkan, rasanya masih original karena tidak diberi perasa atau aroma tambahan. Saat masih panas, roti sagu akan bertekstur lembut. Namun apabila telah dingin, maka teksturnya akan mengeras. Roti sagu biasanya dinikmati dengan segelas teh panas.

 

Ci Anti dan kegiatan pembuatan roti sagu di sudut dapurnya yang sederhana

 

Semoga cara pembuatan roti sagu secara tradisional ini tetap terjaga dan tidak hilang tergerus waktu.