Pantai Mbawana, Most Visit Place for Sunset Hunter

EVY_3844

Pesona pantai di sepanjang Pulau Sumba sudah tidak ada lagi yang meragukannya. Pulau yang terletak di bagian Timur Indonesia ini memang memiliki kekhasan tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia. Keeksotisan alamnya yang terdiri dari pantai-pantai cantik, savanna luas, air terjun, kampung adat, menjadi daya tarik tersendiri.

EVY_3854
pemandangan di Pantai Mbawana

 

EVY_3864
anak-anak kecil berkerumun, melihat bagaimana kamera yang bisa terbang

 

EVY_3851
tebing-tebing batu yang kokoh mengelilingi Pantai Mbawana

Dan bagi pecinta moment matahari terbenam, anda wajib mengunjungi pulau ini. Karena banyak sekali pantai-pantai cantiknya yang menjadi the most visit place for sunset hunter! Salah satunya adalah pantai Mbawana.

Mungkin belum banyak yang mengetahui pantai ini. Hal ini bisa jadi disebabkan karena letaknya yang tersembunyi dan akses transportasinya yang belum umum. Pantai Mbawana terletak di Kecamatan Kodi Balagahar, di sebelah Selatan Sumba Barat Daya. Pantai ini berjarak sekitar 59 kilometer dari Kota Wateebula. Untuk mencapai pantai ini dibutuhkan perjalanan sekitar 1 jam 30 menit dengan menggunakan kendaraan roda 2 atau 4.

Akses menuju pantai ini tidak terlalu baik. Setelah melewati jalanan kota kabupaten yang beraspal hitam licin, kendaraan akan menemui jalanan tanah berbatu. Guncangan-guncangan kecil akan setia menemani perjalanan panjang menuju pantai, serta melewati padang savanna dan hutan kecil dengan pepohonannya yang berwarna coklat mengering akibat jarang disapa hujan. Kendaraan hanya bisa mencapai sebidang tanah datar di ujung padang savanna sebagai tempat parkir sederhana. Dan selanjutnya, pengunjung harus berjalan kaki untuk mencapai pantai.

EVY_3843
Pantai Mbawana hanya bisa dicapai melalui undak-undakan batu yang ada di sisi tebing batu

 

EVY_3887
untuk menaikinya harus satu-persatu, karena treknya sempit

Trek yang harus dilewati pengunjung untuk mencapai pantai adalah sebuah tebing batu berundak-undak dengan tanaman perdu di sekelilingnya. Pengunjung harus menuruni tebing batu dengan memanfaatkan undakan-undakan batu bercampur tanah yang akan memacu adrenalin. Undakan-undakan tersebut tidak stabil, sehingga saat menuruninya, pengunjung harus ekstra hati-hati dan konsentrasi penuh, jangan sampai salah injak atau salah berpegangan, karena bisa-bisa akan guling-guling cantik (plus memar sih aslinya :D). Dibutuhkan sekitar 15 – 30 menit untuk menuruni undakan-undakan tebing batu, tergantung kokoh atau tidaknya tumpuan kaki dan tentu saja nyali sebelum akhirnya akan bertemu dengan pasir putih yang halus.

Karena lokasinya yang lumayan susah dicapai, masih sangat sedikit pengunjung yang datang ke pantai ini. Lebih banyak masyarakat lokal yang bertempat tinggal di sekitar pantai yang terlihat di sekeliling pantai. Dan dampak dari masih sedikitnya pengunjung yang datang, pantai ini masih terlihat bersih dan asri.

EVY_3848
aktivitas masyarakat lokal di pinggir laut

Di satu sisi pantai, terlihat kerumunan anak-anak usia sekolah dasar dan menengah yang sedang menenteng baskom dan ember. Mereka terlihat menunduk dan memunguti sesuatu di sepanjang bibir pantai. Ternyata mereka sedang mengumpulkan rumput laut, yang nantinya akan dijual atau diolah sebagai makanan bagi keluarganya. Di sisi yang lain terlihat beberapa orang yang sedang duduk santai di batu-batu besar yang banyak terdapat di sekitar pantai sambil asyik bercengkerama.

EVY_3861
bocah-bocah bermain dengan gembiranya di sepanjang pantai

 

EVY_3856
lempar-lemparan pasir? seruuuuuuuuuu……

 

EVY_3846
beberapa anak terlihat memunguti rumput laut yang terdapat di bebatuan yang ada di sepanjang bibir pantai

Pantai Mbawana ini memiliki sebuah ikon berupa batu besar yang menyerupai huruf “N”, dan berdiri seperti sebuah gerbang raksasa. Batu besar itu seolah memisahkan pantai sisi kanan dan sisi kiri. Dan bagi para pecinta moment matahari terbenam, pantai ini adalah the most visit place! Senjanya juara!!

EVY_3885
berkumpul di pinggir pantai, menanti sunset

 

EVY_3847
“gerbang raksasa” yang menjadi ikon Pantai Mbawana

Menunggu senja di Pantai Mbawana benar-benar menyenangkan. Sejauh mata memandang, terlihat hamparan lautan dengan ombak-ombak kecilnya yang silih berganti berkejaran menuju pantai, tebing-tebing batu yang kokoh, pasir putih yang luas, serta angin laut yang berhembus malu-malu. Saya sengaja mencari batu yang cukup enak untuk diduduki sembari menunggu matahari pulang ke rumahnya, menikmati cahayanya yang semakin lama semakin temaram.

EVY_3875
pantai berpasir, dan matahari tenggelam… perfect match!

Gelombang laut yang tidak terlalu besar sore itu seolah sengaja menciptakan suasana indah untuk menjemput sang surya kembali ke peraduannya. Gemericik suara gelombang yang pecah di bibir pantai, dihiasi bayangan keemasan. Matahari yang tadinya bersinar kuning terang, perlahan-lahan semakin jingga…. memerah… meredup dan akhirnya hanya menyisakan semburat jingga kemerahan di garis horizon. Menghabiskan senja di Pantai Mbawana melahirkan sebuah pengalaman berburu sunset yang berbeda dari biasanya.

EVY_3891
merah – kuning – jingga…. berbaur menjadi satu

 

EVY_3898
see you next time………

 

 

 

 

 

 

 

Kampung Praiyawang, Desa Adat di Sumba Timur

EVY_4471

 

Sumba Timur, terkenal dengan ritual adatnya yang kental. Di sana terdapat beberapa kampung adat yang biasa digunakan sebagai lokasi ritual tersebut. Salah satu kampung adat yang biasa digunakan untuk menyelenggarakan ritual bagi masyarakat Sumba Timur adalah Kampung Praiyawang. Kampung yang berada sekitar 69 km dari kota Waingapu ini berada di Desa Rindi (biasa disebut Desa Rende), Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur.

EVY_4466
salah satu rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang

 

EVY_4467
selasar aula yang biasa digunakan sebagai lokasi upacara adat

Berkendara dari Kota Waingapu menuju Kampung Praiyawang akan memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan, tergantung pada kecepatan kendaraan. Karena belum ada sarana transportasi umum menuju kampung ini, bagi para pendatang yang ingin melihat kampung ini dapat menggunakan motor/mobil sewaan. Jalanan menuju kampung ini berupa aspal hitam yang mulus.

EVY_4469
rumah adat yang mengelilingi Kampung Praiyawang

 

EVY_4468
makam batu yang menjadi lokasi pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4470
aula besar yang terdapat di pusat Kampung Praiyawang

Memasuki Kampung Praiyawang nuansa peradaban masa silam akan sangat terasa. Sederetan bangunan makam-makam kuno yang terbuat dari batu dengan pahatan unik di sekelilingnya terlihat di sisi kiri dari akses jalan masuk, serta rumah-rumah adat yang terbuat dari kayu dengan atap yang menyerupai menara tinggi. Di tengah kampung terdapat 1 bangunan rumah yang terbuka dindingnya sehingga menyerupai aula sebuah aula besar. Di rumah tersebut terdapat 2 lemari kaca besar yang berisikan aneka peralatan kuno yang telah berumur raturan tahun, yang biasanya digunakan saat pelaksanaan upacara adat. Upacara adat yang biasa dilaksanakan di Kampung Praiyawang adalah upacara persembahan dan penyimpanan jenazah sebelum dimakamkan.

EVY_4465
lemari tempat menyimpan peralatan yang digunakan saat upacara adat

 

EVY_4444
peralatan upacara adat yang terbuat dari anyaman daun lontar

 

EVY_4443
anyaman daun lontar ini biasanya digunakan sebagai penutup tempat nasi yang digunakan saat pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4442
anyaman daun lontar sebagai perlengkapan upacara adat

Rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang memiliki bentuk atap yang unik, yaitu berbentuk lancip. Dan setiap rumah akan memiliki 3 bagian, yaitu bagian bawah, tengah dan atas. Hal tersebut mencerminkan simbol alam dalam pandangan Suku Sumba, yaitu alam bawah (tempat arwah), alam tengah (tempat manusia) dan alam atas (tempat para dewa). Di Kampung Praiyawang terdapat 8 rumah induk yang mengelilingi rumah adat dan makam-makam batu berukuran besar yang beratnya mencapai 1-5 ton untuk setiap makamnya. Ke-8 rumah induk itu melambangkan 8 keturunan bangsawan yang ada di Kampung Praiyawang. Sementara rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang memiliki fungsi yang berbeda-beda, misalnya Rumah Besar (Rumah Adat Harapuna/Uma Bokul) digunakan sebagai tempat penyimpanan jenazah, Rumah Adat Uma Ndewa  digunakan sebagai tempat ritual cukurna bagi anak Raja yang baru lahir, kemudian Rumah Adat Uma Kopi digunakan sebagai tempat untuk minum kopi.

Tradisi di Kampung Praiyawang, anak tertua di dalam keluarga harus berdiam di kampung untuk menjaganya. Sehingga yang bisa pindah atau keluar dari kampung adalah anak ke-2, ke-3 dan seterusnya. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga adat-istiadat dan keberlangsungan kehidupan Kampung Praiyawang.

EVY_4447
tempat nasi yang digunakan saat pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4446
perhiasan kuno yang digunakan untuk upacara adat

 

EVY_4445
tas kaum lelaki Sumba Timur

 

EVY_4455
sirkam – terbuat dari kulit Penyu, hiasan rambut wanita Sumba Timur

 

EVY_4448
tempat sirih dan kapur

Tenun Sumba, Pesona Helaian Benang dari Timur

EVY_4264

Siapa yang tidak mengenal tenun? Kain tradisional dari berbagai pelosok Indonesia, dengan motif yang sangat khas namun beragam. Dikerjakan secara manual, menggunakan peralatan sederhana dan tanpa mesin. Keindahan tenun untuk saya pribadi sangat menarik. Setiap daerah memiliki ciri khas motif  dan proses pembuatannya masing-masing. Kali ini saya akan bercerita tentang tenun Sumba.

EVY_4260
benang-benang katun, cikal bakal tenun Sumba
EVY_4257
proses pemasangan dan penghitungan benang katun putih sebagai awal pembuatan tenun Sumba
EVY_4258
Rambu (sebutan untuk wanita Sumba) yang sedang bekerja untuk membuat tenun

Tenun Sumba dibuat dari benang-benang kapas, diuntai satu-persatu, helai demi helai, diberi ruh dalam setiap helai benangnya sehingga menjadi kain tenun yang indah. Menenun bagi kaum wanita di Sumba merupakan ibadah, untuk memuji kebesaran Tuhan yang diwujudkan dalam motif-motif bentuk hewan, alam dan benda-benda yang lekat dalam kehidupan sehari-hari.

EVY_4266
proses pembuatan pola/motif tenun Sumba
EVY_4267
salah satu motif tenun Sumba, menurut Umbu (sebutan untuk lelaki Sumba) penenun, motif ini berkhasiat untuk “menolak peluru/senjata”
EVY_4265
ini salah satu motif pesanannya Dian Sastro lho….

Tenun Sumba umumnya dibuat menggunakan pewarna alami yang berasal dari akar pohon Mengkudu dan daun Nila. Akar pohon Mengkudu digunakan untuk menghasilkan warna merah alami yang biasanya menjadi warna dasar pada tenun Sumba. Kemudian daun Nila, untuk menghasilkan warna biru yang juga menjadi warna dominan pada tenun Sumba. Motif pada tenun Sumba dibuat dengan mengikat benang-benang katun putih dengan menggunakan daun Gewang – sejenis daun Palem (saat ini terkadang benang katun diikat dengan menggunakan tali rafia untuk menggantikan daun Gewang).

EVY_4263
pewarna alami yang digunakan pada pewarnaan tenun Sumba – akar pohon Mengkudu dan daun Nila
EVY_4247
akar pohon Mengkudu
EVY_4249
proses penumbukan akar pohon Mengkudu untuk dijadikan pewarna tenun Sumba
EVY_4248
akar pohon Mengkudu yang telah ditumbuk dan siap digunakan sebagai pewarna kain tenun
EVY_4251
akar pohon Mengkudu yang telah ditumbuk kemudian dicampur dengan air untuk menghasilkan warna merah yang akan digunakan sebagai pewarna kain tenun
EVY_4261
proses pewarnaan benang tenun dengan warna merah dari akar pohon Mengkudu
EVY_4262
benang tenun yang telah diikat sesuai motif yang diinginkan kemudian direndam di dalam cairan pewarna

Motif tenun Sumba bisa dikelompokkan menjadi 2, yaitu motif yang diambil dari flora dan fauna, serta motif yag diambil dari dunia manusia itu sendiri.

EVY_4243
proses penjemuran benang tenun setelah diwarnai
EVY_4256
lamanya penjemuran benang tenun sangat tergantung pada panas dan cuaca
EVY_4246
penjemuran benang tenun yang telah selesai diwarnai dan diberi Kemiri

Proses menenun kain Sumba memakan waktu yang cukup panjang. Mulai dari helaian benang katun putih yang diatur dan digulung pada alat khusus yang terbuat dari kayu, kemudian dihitung satu-persatu untuk keperluan pembuatan motifnya. Benang katun putih yang sudah dihitung kemudian dibuatkan pola dengan mengikat benang tersebut menggunakan daun Gewang atau tali rafia. Polanya bermacam-macam dengan berbagai artinya masing-masing. Setelah diikat sesuai pola yang diinginkan, benang kemudian dicelup pada pewarna buatan yang telah disiapkan sesuai pola yang diinginkan. Benang yang telah dicelup pewarna kemudian dijemur agar warna yang yang dihasilkan menjadi lebih hidup. Proses penjemuran benang yang telah diwarnai memakan waktu 1-2 bulan tergantung panas dan cuaca. Setelah itu, benang akan direndam menggunakan kemiri agar warnanya tahan lama. Benang kemudian dijemur kembali hingga kering. Setelah benang benar-benar kering, barulah ditenun sesuai motif yang telah dibuat. Saat menenun, penenun akan mengoleskan ubi kayu/singkong yang telah ditumbuk dan dicairkan ke helaian benang. Hal ini untuk memberikan efek licin saat menenun.

EVY_4244
proses penjemuran benang tenun yang telah selesai diwarnai
EVY_4245
proses penjemuran benang memakan waktu 1-2 bulan, tergantung panas dan cuaca

Perlu waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan kain tenun dengan motif yang bagus. Sebagai gambaran, sehelai sarung tenun dengan ukuran 65 x 120 cm dibuat dalam waktu 6 bulan. Untuk kain tenun panjang ukuran 65 x 200 cm, dalam 1 tahun bisa dihasilkan 4 helai kain. Kebayang kan bagaimana sulitnya proses yang harus dilalui untuk menghasilkan sehelai sarung atau kain tenun yang indah?

EVY_3948
dan inilah beberapa hasil tenun Sumba

Apabila telah menjadi sarung atau kain, penenun biasanya menjual produk mereka kepada pedagang lokal. Ada juga yang membuka galeri pribadi di rumahnya masing-masing. Harga untuk sehelai tenun Sumba bermacam-macam, tergantung ukuran, jenis pewarna yang digunakan, motif dan kualitasnya. Semakin bagus kualitas tenun maka semakin mahal juga harganya.

IMG_8263
dan ini “bukti cinta” saya untuk tenun Sumba

 

 

 

 

 

Kota Tua Jakarta, Menyusuri Sisa-Sisa Kejayaan Batavia (part #1)

100_2165

Mendengar kata “Kota Tua Jakarta” yang langsung terbayang adalah deretan gedung-gedung tua berarsitektur Eropa, dengan konstruksi tinggi, jendela-jendela besar, halaman yang luas dan berbagai keunikan lainnya. Dan menyusuri Kota Tua Jakarta, adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan sekaligus akan menambah pengetahuan mengenai sejarah yang ditinggalkannya.

Kota Tua Jakarta adalah sebuah kawasan konservasi cagar budaya di daerah Jakarta terletak di antara wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Zona utamanya (zona yang berada di dalam “benteng” Oud Batavia) meliputi Taman Fatahillah, Pelabuhan Sunda Kelapa dan area Kali Besar (luasnya sekitar 75 Ha). Sementara area pendukungnya meliputi Kampung Bandan, Stasiun Kota, MuseumBahari, Pasar Ikan, Galangan/Benteng dan Roa Malaka (sekitar 59 Ha). Sedangkan area di luar “benteng” Oud Batavia meliputi Kampung Luar Batang (19 Ha), Pekojan (49 ha), serta China Town (132 Ha) yang mencakup area Pintu Kecil, Pasar Pagi, Pintu Besar Selatan, Pinangsia, Glodok dan Tambora.

zones_kota_tua-570x1098
sumber: http://www.jeforah.org/zones

Pusat Kota Tua Jakarta adalah sebuah bangunan besar berwarna putih yang terletak di tengah-tengah Taman Fatahillah. Bangunan “Gouverneurs Kantoor” yang sekarang difungsikan sebagai Museum Fatahillah merupakan sebuah bangunan bersejarah yang dulu menjadi kantor balaikota, pusat pemerintahan Hindia Belanda. Dan di sekitar bangunan ini, banyak bangunan-bangunan tua bersejarah yang tetap dijaga keberadaannya dan menjadi situs cagar budaya.

100_2185
Gouverneurs Kantoor

Di halaman Museum Fatahillah atau yang dikenal dengan nama Taman Fatahillah ini terdapat sebuah bangunan kecil yang dulu merupakan air mancur yang sumber airnya berasal dari Pancoran Glodok. Dan apabila diperhatikan dari atas, halaman Taman Fatahillah memiliki motif-motif ubin yang berbeda. Ketidakseragaman motif tersebut dikarenakan dahulu ada saluran air yang mengalirkan air ke pusat taman. Dan dahulu, air mancur itu menjadi sumber air bersih bagi masyarakat di sekitar Oud Batavia[http://ayokejakarta.blogspot.co.id/2012/06/kota-tua.html].

100_2176

100_4460
sisa-sisa gedung Dasaad Musin Concern
100_2184
Museum Wayang

Di depan Museum Fatahillah, berdiri bangunan Café Batavia yang bersanding dengan bangunan Kantor Pos Kota. Di antara bangunan itu terdapat gedung Dasaad Musin Concern, gedung yang dulu menjadi pusat kelompok dagang Dasaad Musin. Di sebelah kiri gedung balaikota berdiri Museum Wayang, gedung tua bekas rumah ibadah di jaman pemerintahan Hindia Belanda. Sedangkan di sebelah kanan balaikota berdiri gedung Museum Seni Rupa & Keramik, yang merupakan gedung bekas lembaga peradilan jaman pemerintahan Hindia Belanda.

100_2171
Museum Seni Rupa & Keramik

Di sekeliling pusat Kota Tua Jakarta masih banyak berdiri bangunan-bangunan tua yang penuh dengan sejarah. Gedung Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Beverly Hills Hotel & Spa, Gedung Eks Chartered Bank of India, Australia, & China, dan lain-lain.

Di Taman Fatahillah, di dekat Gedung Kantor Pos Kota, terdapat sebuah meriam besar yang diletakkan di atas pondasi beton berwarna merah dan dikelilingi oleh pagar besi. Itu adalah meriam si Jagur. Meriam legendaris yang kental akan mitos.

Banyak legenda yang menceritakan asal muasal Meriam Si Jagur. Meriam dengan penampakan fisiknya yang unik, dengan simbol kesuburan yang terletak di bagian belakang tubuhnya, yang untuk sebagian besar masyarakat dianggap sebagai simbol pornografi. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa Meriam Si Jagur adalah “dokter” yang memiliki kekuatan untuk memberikan keturunan bagi si mandul!

IMG_0292
meriam Si Jagur

Beberapa legenda yang terkenal bercerita, Si Jagur merupakan salah satu meriam yang diberikan oleh pihak Kompeni kepada Raja Pajajaran sebagai pertukaran untuk menyembuhkan penyakit aneh yang diderita oleh putri sang raja. Meriam yang diberikan adalah Ki Amuk, Nyai Setomi dan Si Jagur.

Legenda kedua berawal dari mimpi buruk sang Raja Pajajaran. Suatu ketika Sang Raja bermimpi mendengar suara gemuruh yang dahsyat, yang berasal dari sebuah senjata yang tidak dikenalnya. Raja pun bertitah kepada Patih Kiai Setomo untuk mencari senjata yang sangat dahsyat itu. Apabila Sang Patih gagal dalam pencarian senjata itu, maka Sang Patih akan dihukum mati. Singkat cerita, dalam usahanya mencari senjata tersebut, Patih Kiai Setomo dan istrinya Nyai Setomi kemudian bersemedi dalam waktu yang cukup lama. Karena Patih Kiai Setomo tak kunjung datang untuk melaporkan hasil pencariannya terhadap senjata yang dahsyat tersebut, Raja Pajajaran kemudian menyuruh prajuritnya untuk mencari Kiai Setomo dan menggeledah tempat kediamannya. Namun yang mereka temukan di kediaman Kiai Setomo hanyalah 2 buah pipa besar yang aneh dan tidak dikenal. Ternyata ke-2 pipa tersebut adalah penjelmaan dari Kiai Setomo dan Nyai Setomi. Cerita mengenai senjata meriam hasil perubahan wujud Kiai Setomo dan Nyai Setomi terdengar ke mana-mana, hingga ke telinga Sultan Agung di Mataram. Sultan Agung kemudian memerintahkan agar ke-2 meriam tersebut dibawa ke Mataram. Namun meriam Kiai Setomo menolak dan melarikan diri ke Batavia. Masyarakat Batavia saat itu gempar dan menganggap bahwa meriam Kiai Setomo adalah sebuah benda yang suci. Mereka kemudian memayunginya untuk melindungi dari panas dan hujan. Meriam itu pun diberi nama Si Jagur atau Sang Perkasa.

Sedangkan menurut sejarah, Meriam Si Jagur dibuat di pabrik senjata Portugis “St. Jago de Barra” yang terletak di Makau, Cina. Meriam itu terbuat dari perunggu cengan berat 3.5 ton atau 24 pound. Meriam itu kemudian ditempatkan di Benteng Batavia (Kasteel Batavia) untuk menjaga pelabuhan dan kota Batavia dari serangan musuh. Pada tahun 1809, Deandels menghancurkan Kota Batavia dan Meriam Si Jagur dipindahkan ke Museum Oud Batavia (sekarang Museum Wayang). Kemudian, Meriam Si Jagur dipindahkan kembali di bagian utara Taman Fatahillah (di antara bangunan Kantor Pos dan Café Batavia) dengan moncong mengarah ke Pasar Ikan, lurus ke arah Jalan Cengkeh, membelakangi Balai Kota (Stadhuis).

IMG_0294
“Si Jagur” the Canon